put your own other links here (such as: adsense, friendster, multiply, your other blog, etc).

Jumat, 03 Mei 2013

Nabi Dawud AS Bocah Miskin Yang Menjadi Raja

Mawan Suganda


Nabi Dawud AS Bocah Miskin Yang Menjadi Raja

Sejarah yang pernah sahabat Histeri baca barangkali tak pernah menjelaskan bahwa Nabi Dawud nyaris disingkirkan dan dibunuh oleh mertuanya sendiri. Ada juga sebagian dari kaumnya yang berubah wujud menjadi kera….
Dikisahkan, suatu waktu negara Israil berada dalam cengkeraman kaum penjajah, yang dipimpin oleh seorang lelaki kekar bernama Jalut (Goliath). Bangsa Israil pun lalu bangkit melawan mereka di bawah pimpinan Thalut. Thalut ini adalah seorang raja yang ditunjuk langsung oleh Allah SWT, dengan perantaraan wahyu yang disampaikan melalui Nabi Samuel AS. Sejarah kemudian membuktikan bahwa kaum penjajah akhirnya dapat diusir setelah pemimpin mereka, Jalut, berhasil dibunuh oleh seorang remaja berumur 9 tahun bernama Dawud.
Karena Dawud-lah maka tercapai kemenangan gilang-gemilang, yang mempunyai arti dalam sejarah besar bagi Bani Israil. Dengan kemenangan ini pun, nama Dawud menjadi harum di seluruh lapisan masyarakat, menjadi sebutan dan buah bibir, ditambah pula dengan sifat dan budi pekertinya yang suci.
Di antara orang yang sangat menyukai Dawud, adalah Raja Thalut sendiri. Ia belum merasa puas jika sekadar menghormat dan memuliakan Dawud. Lebih dari itu semua, ia ingin menjadikan Dawud sebagai menantunya. Kebetulan sekali, Thalut memang mempunyai beberapa anak perempuan yang masih gadis, dan yang tercantik bernama Mikyal. Maka setelah Dawud mencapai usia pernikahan, segera dikawinkanlah dengan anak gadisnya yang tercantik ini. Dengan demikian, Dawud mendapatkan dua kemenangan, yaitu kemenangan di medan perang dan kemenangan dalam hal asmara.
Dengan terjadinya pernikahan ini, terikat eratlah dua kekuatan yang susah dihancurkan oleh musuh. Negara yang dipimpin oleh Thalut semakin maju dan makmur, sedang tentara yang dipimpin oleh Dawud semakin maju dan kuat pula.
Waktu terus berjalan. Pada suatu hari, Dawud melihat keadaan yang sangat berubah pada diri Thalut terhadap dirinya. Setiap berhadapan, dilihatnya muka Thalut kusut dan masam. Kalau Thalut berkata, maka kata-katanya mulai memperlihatkan rasa tidak senang terhadap dirinya, begitu juga jika dia tersenyum, terasa ada kepahitan di baliknya.
Dawud merasa sangat heran melihat perubahan yang tiba-tiba itu pada diri mertua sekaligus junjungannya ini. Bukankah dia telah menyerahkan dirinya untuk mengabdi kepada raja? Bukankah dia juga sebagai menantunya? Apakah gerangan yang telah menyebabkan demikian berubahnya hati Thalut terhadap dirinya? Demikian, beberapa pertanyaan yang sulit dijawab berputar-putar dalam benak Dawud.
Keadaan semakin ruwet dalam pandangan Dawud. Dia tidak tahan lagi untuk menyimpan teka-teki ini dalam hatinya, dan ingin menanyakan hal itu kepada istrinya. Dia berharap sang istri mengetahui akan duduk perkaranya.
Pada suatu hari, ketika hanya berdua saja dengan istrinya di sebuah kamar, Dawud berkata, “Ya, Mikyal, saya tidak tahu apakah saya telah salah duga ataukah memang benar demikian adanya. Saya sepertinya melihat perubahan besar dalam sikap Ayahanda. Seakan-akan beliau menaruh perasaan tidak senang terhadap diriku. Bukan saja gerak-gerik dan kata-katanya, tetapi juga pandangan matanya seperti mengandung rasa benci dan curiga. Bagaimana pandanganmu tentang semua ini, Dinda?”
Mikyal seorang wanita yang masih muda, tinggi pengetahuannya, serta berakhlak sangat mulia, tentu tahu akan kewajibannya. Dia cinta kepada suaminya, tetapi perlu pula cinta dan hormat kepada orang tuanya sendiri. Berat pikirannya untuk menjawab pertanyaan suaminya itu. Tetapi ketulusan jiwa dan keikhlasan batinnya, memaksa dia untuk berterus terang tentang apa yang yang dirasakan dan dilihatnya.
Mikyal lalu menjawab, “Saya tidak akan menyembunyikan apa yang kuketahui ya Dawud, suamiku. Saya tidak akan menutupi kepadamu hal-hal yang tidak engkau ketahui, sejak Bani Israil mencintai dan menghormatimu dengan kecintaan yang begitu hebat. Rupanya, setelah melihat bahwa setiap perintah darimu selalu ditaati oleh bangsa kita dan kedudukanmu makin tinggi, diam-diam ayah merasa iri hati dan dengki. Takut kalau-kalau kekuasaan yang ada padanya sekarang ini, berpindah ke tanganmu.
Sekalipun ayahku itu termasuk orang yang beriman kepada Allah dengan segala keikhlasan dan termasuk salah seorang yang berpengetahuan tinggi serta bijaksana, raja besar yang disegani oleh setiap raja, tetapi akhir-akhir ini saya juga melihat perubahan sikap tersebut. Ayahku ingin menyingkirkan engkau, menghapus pengaruhmu, bahkan kalau dapat akan membuangmu dari pergaulan hidup.
Oleh sebab itu, saya ingin menasehatimu agar mulai sekarang berjaga-jaga untuk keselamatanmu sendiri. Menurut pikiranku, untuk menghindarkan bahaya yang mungkin tiba itu, maka sebaiknya engkau menjauhkan diri dari sini.”
Mendengar semua yang dikatakan isterinya, Dawud kemudian perkata, “Aku ini hanya serdadu biasa, tidak ingin merebut kedudukan raja yang kutaati dan kupertahankan. Apalagi aku ini seorang Mukmin. Sungguh Thalut menurutkan pengaruh setan saja, menuruti hawa nafsu kekuasaan dunia.”

Rencana Membunuh Nabi Dawud AS

Putusan untuk pergi seperti yang dinasehatkan istrinya itu, belum diambil oleh Dawud. Dia masih tetap diam di lingkungan kerajaan, sekalipun dengan keadaan seperti berdiri di atas bara yang menyala-nyala.
Pada suatu hari, tiba-tiba Thalut memanggil Dawud datang menghadap kepadanya, seraya berkata, “Hari ini aku mendapat kabar yang sangat gawat. Bangsa Kan’aan dengan tentaranya yang besar dan kuat, telah mulai menyerang negeri kita.
Tidak ada yang dapat mempertahankan keselamatan negeri kita sekarang ini, selain engkau sendiri, wahai Dawud. Ambillah pedang dan perisaimu, kumpulkan tentara-tentara yang kamu pilih, pergilah berangkat sekarang juga untuk menghalaukan musuh tersebut. Dan engkau tidak boleh kembali pulang tanpa membawa kemenangan.”
Dawud merasa bahwa perintah itu sangat berbeda dari biasanya. Mungkin ini suatu cara untuk melenyapkan dirinya dari muka bumi ini, pikirnya. Tetapi sungguhpun begitu, kewajibannya sebagai tentara hanya mentaati dan menjalankan perintah yang sudah dikeluarkan oleh komandan dan rajanya sendiri.
Dengan tentara yang terbatas, Dawud berangkat ke medan perang menghadapi musuh yang besar itu. Dengan pertolongan Allah, dia menang dalam peperangan melawan bangsa Kan’aan yang terkenal ganas di medan pertempuran.
Tetapi kemenangan yang sangat besar artinya itu, ternyata tidak membuat Thalut menjadi sadar, melainkan bahkan semakin menambah perasaan dengki dan bencinya terhadap Dawud.
Karena nafsu yang dikobar-kobarkan oleh hasutan setan ini, Thalut kemudian menetapkan cara dalam hatinya untuk meyingkirkan Dawud. Ya, cara yang sejahat-jahatnya. Dia sudah menetapkan akan membunuh Dawud dengan pedangnya sendiri.
Meskipun kehendaknya ini disembunyikan, tetapi dapat tercium juga oleh anaknya, Mikyal, yang berpandangan jauh itu. Maka dengan berlinangan air mata ia berkata kepada Dawud, “Saya lebih sengsara rasanya kalau engkau terbunuh di hadapanku sendiri. Sebab itu, sekalipun agak berat, saya minta agar engkau segera melarikan diri meninggalkan rumah dan aku, untuk menjaga keselamatan dirimu dan pula diriku sendiri.”
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Dawud tidak mempunyai jalan lain yang lebih baik dan aman selain melarikan diri.
Dia pergi dengan perasaan yang tak dapat dibayangkan dengan pena dan kata-kata. Kepergiannya ini menggemparkan bangsa Israil seluruhnya. Banyak di antara keluarga dan orang-orang yang cinta kepada Dawud, mengikutinya dari belakang.
Mulanya sedikit saja orang yang ikut kepadanya, tetapi akhirnya semakin banyak juga. Seiring dengan itu, kebencian terhadap Thalut semakin meluap di hati rakyat banyak, yang insyaf dan sadar akan semua jasa-jasa Dawud.
Thalut pun semakin geram, apalagi setelah diketahui bahwa hampir seluruh anggota tentaranya, sekarang berpihak kepada Dawud yang berada dalam pelarian itu.
Kedudukan Thalut semakin lemah dan goyah. Tidak ada jalan lain bagi Thalut, selain dengan cara menyerang Dawud yang semakin kuat itu. Sebab kalau terlambat, maka kejatuhannya tak dapat dielakkan lagi.
Semua kekuatan yang ada padanya, dikerahkan untuk menyerang dan membunuh Dawud. Namun Dawud ternyata mengetahui segala rencananya ini, dan segera bersiap untuk menghadapinya, sambil tetap menjaga kesabaran dan keimanan dalam dadanya. Dengan berbagai cara, dia berikhtiar untuk menghindarkan pertempuran sesama bangsa. Tak lupa Dawud pun mengirimkan pesan agar Thalut kembali kepada kebenaran, menjauhkan segala prasangka yang tak beralasan itu.
Tetapi semua ini sia-sia belaka. Kalau tidak bertahan dan melawan, mungkin kebenaran akan hancur, sedang nafsu serakah akan merajalela. Demikian pikir Dawud. Akhirnya dia terpaksa menggerakkan pertempuran, menghadapi lawannya yang tak kenal damai itu.
Tentara Thalut sekarang berhadap-hadapan dengan tentara Dawud. Dari seorang kurir, Dawud mengetahui di mana sekarang ini Thalut sedang berada.
Ketika Thalut dan tentaranya dalam kelelahan, berhenti dan tidur di sebuah tempat pertahanannya, dengan diam-diam Dawud mendekatinya. Ia berhasil mengambil lembing perang dari tangan Thalut. Namun Thalut tidak dibunuhnya, hanya lembing itu saja yang diambil dan dibawanya.
Alangkah terperanjatnya Thalut setelah dia terbangun dan mengetahui bahwa lembingnya sudah tidak ada. Dia marah sekali terhadap kaum dan tentaranya, serta bertanya di mana lembingnya itu sekarang berada.
Dalam keadaan panik dan kacau itu, tiba-tiba di hadapan Thalut muncul seorang laki-laki membawa lembing yang hilang. Dia berkata kepada Thalut di hadapan semua kaum dan tentaranya, “Inilah lembingmu yang hilang itu. Saya adalah utusan Dawud, datang kemari untuk mengembalikan benda ini kepadamu. Lembing ini diambil oleh Daud tadi, ketika kamu tidur, dan tidak bermaksud membunuhmu. Dia berharap, dengan kembalinya lembing ini kepadamu, kembali pula keinsyafan dan kesadaran atas kesalahan tindakan yang kamu ambil.”
Kata-kata utusan Dawud ini berpengaruh besar dalam jiwa Thalut, air matanya keluar setetes demi setetes. Tampak benar sesalnya atas tindakannya selama ini. Thalut menangis tersedu-sedu, dia teringat telah banyak membunuh orang-orang yang melarikan diri kepada Dawud, membunuh ulama-ulama dan pembesar-pembesar bawahannya sendiri.
Thalut sadar akan besarnya dosa yang telah diperbuatnya. Terbayang di matanya siksa apa pula yang akan diterimanya dari Allah di alam akhirat nanti. Pertempuran pun tidak terjadi. Thalut dan tentaranya kembali pulang membawa kemenangan yang berupa sesal dan kesadaran.
Setibanya di rumah, dia tanggalkan semua pakaian kerajaan dan kebesarannya. Dia tekun menghadapkan muka dan jiwa kepada Allah semata, minta ampun dan taubat dengan hati yang setulus-tulusnya. Begitulah kerjanya sehari-hari, sampai badannya menjadi lemah juga. Dengan mulut yang tidak kering-keringnya, ia terus-menerus memohon ampun dan mensucikan nama Tuhan. Suatu hari, dia akhirnya meninggal dunia, pulang ke Rahmatullah.
Mendengar sang raja telah wafat, seluruh rakyat dengan spontan berkerumun di sekitar Dawud dan mengangkatnya menjadi raja mereka. Di bawah pemerintahannya, kerajaan Bani Israil maju pesat, aman dan makmur dengan rakyat yang bertakwa kepada Allah SWT.
Selain menjadi raja besar Bani Israil, Dawud pun diangkat oleh Allah sebagai salah seorang rasul-Nya, dengan dikaruniai berbagai macam mukjizat sebagai tanda kerasulannya. Sejarah mengisahkan, dia memiliki seratus orang isteri yang setia, dan dari salah satu di antara mereka lahirlah Sulaiman yang kelak juga menjadi raja besar Bani Israil, menggantikan kedudukan ayahnya. Dan seperti Dawud AS, sang anak ini pun diangkat oleh Allah SWT sebagai salah satu utusan/rasulnya.

Peristiwa Hari Sabtu

Sejak dahulu sudah ditetapkan Allah SWT, satu hari dalam seminggu, semua orang diwajibkan berkumpul untuk menjalankan ibadat bersama-sama dan menerima tuntunan-tuntunan-Nya, dengan perantaraan para rasul masing-masing. Tetapi entah karena apa, pada zaman Nabi Musa AS kaum Bani Israil sama-sama bermohon, agar yang diistimewakan itu hari Sabtu saja.
Keinginan mereka tersebut dikabulkan Allah SWT, dan sudah tetaplah menurut syari’at Nabi Musa, bahwa hari Sabtu itu adalah hari istimewa, hari dimana setiap orang tidak boleh mengerjakan hal yang lain, tetapi hanya semata-mata untuk menyembah Allah SWT, untuk bersyukur kepada Tuhan dan hari menerima pelajaran-pelajaran Tuhan atau agama.
Begitulah hal tersebut sudah menjadi adat, syari’at dan tradisi bagi Bani Israil, sejak zaman Nabi Musa AS sampai pada zaman Nabi Dawud AS.
Dikisahkan, di sebuah kampung yang terletak di pinggir Laut Merah, bernama Kampung Ailah, tinggal suatu bangsa keturunan Bani Israil juga. Mereka pun menjalankan syari’at yang menjadikan hari Sabtu semata-mata untuk beribadat saja.
Karena adat dan syari’at yang sudah turun-temurun begitu lama, dimana setiap hari Sabtu tidak seorang juga di antara manusia yang pergi ke ladang untuk membajak, tidak seorang juga pergi ke pasar untuk berjual-beli, serta tak seorang pun pergi ke laut menangkap ikan, maka hal itu telah menyebabkan pula timbulnya sebuah tradisi pada kehidupan ikan yang hidup di dalam laut sekitar desa tersebut.
Tidak begitu jauh dari pantai desa ini, ada dua buah batu besar yang putih warnanya di dalam laut. Saban hari Sabtu, bukan main banyaknya ikan besar yang datang dan bermain-main di antara dua buah batu besar itu. Rupanya ikan-ikan pun sudah mengetahui, bahwa kalau bermain-main di situ pada hari Sabtu, tak akan ada manusia yang menangkap mereka.
Berbeda sekali dengan hari-hari lainnya, tidak ada seekor pun yang berani bermain di tempat itu. Pasalnya, sudah pasti manusia akan menangkapnya untuk dijadikan lauk pauk yang paling lezat. Selain hari Sabtu, setiap hari penduduk desa ini memang selalu pergi ke laut untuk mencari ikan.
Dari hari ke hari, tahun ke tahun, makin banyak saja ikan besar penghuni Laut Merah yang datang pada hari Sabtu ke tempat tersebut. Hal ini akhirnya menerbitkan nafsu jahat bangsa Israil yang tinggal di desa itu. Sifat tamak dan keinginan untuk memakan daging ikan yang besar-besar, menyebabkan mereka lupa kepada ajaran agama yang sekian lama diikutinya.
Ketika nafsu serakah ini tak dapat dibendung lagi, pada suatu hari mereka berkumpul dan bermusyawarah, bertukar pikiran.
“Kenapa setiap hari Sabtu kita biarkan saja ikan-ikan besar sebanyak itu berkeliaran di hadapan kita? Padahal di hari lain, kita mati-matian ke tengah laut yang luas mencari ikan. Bahkan kadang-kadang dengan mengurbankan jiwa kita sendiri. Alangkah baiknya kalau pada hari Sabtu ini, kita tangkap semua ikan yang lalu-lalang di antara dua buah batu itu. Kita pasti akan mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya dengan jalan yang segampang-gampangnya,” kata salah seorang di antara mereka.
Pikiran ini lekas diterima oleh yang lainnya, kecuali beberapa orang saja yang tetap beriman dan tidak sudi melanggar aturan agama.
Demikianlah, akhirnya pada hari Sabtu yang telah ditentukan, penduduk kampung ini bersama-sama menangkap ikan di situ, di antara dua bongkah batu besar berwarna putih, dengan mudah sekali. Dalam waktu sebentar saja hasilnya sudah melimpah-ruah, jauh lebih banyak dibanding hari lainnya yang enam itu. Sudah barang tentu, alangkah senangnya hati mereka.
Sayangnya, karena ketagihan, maka hari Sabtu yang biasanya dijadikan hari khusus untuk beribadah kepada Allah SWT, mereka ubah menjadi hari untuk melupakan Allah, hari beriang gembira, makan-makan besar dengan ikan-ikan yang mereka dapatkan secara sangat mudah. Walhasil, setiap hari Sabtu mereka makan seenak-enaknya dan sebanyak-banyaknya, dengan daging ikan besar yang bermacam-macam pula jenisnya.
Orang-orang beriman yang mengetahui perbuatan ini, mencoba memberikan nasehat, agar jangan melanggar aturan agama. Tetapi jiwa mereka yang telah dikuasai nafsu setan itu tak mempedulikan lagi ajakan ke jalan yang benar. Nasehat apa pun tak masuk lagi ke dalam hati mereka.
Kelompok orang beriman akhirnya mengadakan tindakan kekerasan untuk menginsafkan mereka yang sudah sesat. Dengan kekuatan senjata, mereka berjaga-jaga agar jangan sampai ada seorang juga di antara penduduk yang menangkap ikan pada hari Sabtu.
Tetapi mereka yang ingkar dan sesat secara bersama-sama melakukan protes keras. “Kampung ini bukan kepunyaanmu saja, kami juga turut berhak. Sekarang, kenapa kalian melarang berbuat apa yang kami inginkan di kampung sendiri? Kami merdeka berbuat itu semua, apalagi mencari rezeki yang berupa makanan. Atau kalau kalian tidak suka melihat kami mengerjakan sesuatu untuk keperluan kami, lebih baik kampung ini kita bagi dua saja. Seperduanya untuk kami, dan kami bebas untuk berbuat apa saja yang dikehendaki. Seperdua lagi untuk kalian, dan bebas pula berbuat apa saja yang kamu kehendaki,” ujar salah seorang tokoh dari golongan orang-orang ingkar.
Untuk menghindarkan perselisihan dan pertumpahan darah, orang-orang beriman akhirnya menyetujui usulan itu. Ya, kampung tersebut dibagi dua!
Kedua golongan di masing-masing kampung, kini bebas untuk berbuat sekehendak hati mereka. Golongan yang sudah sesat, semakin tenggelam dalam keingkarannya. Mereka melupakan Tuhan. Setiap hari bukannya tekun beribadah, melainkan malah berpesta ikan.
Adapun golongan yang beriman saling menasehati di antara sesama mereka, agar jangan meniru-niru perbu¬atan salah dari orang-orang yang sesat, karena hal itu akan berakhir dengan dosa dan siksaan Allah yang sebesar-besarnya. Sementara terhadap kaumnya yang telah sesat dan tak mau mendengar nasehat baik, mereka tak menghiraukannya lagi serta menyerahkan persoalannya kepada Allah Yang Maha Adil.
Tetapi Nabi Dawud AS, sudah tentu tidak membiarkan begitu saja orang yang melanggar perintah Allah. Dia terus-menerus menasehati mereka, agar kembali kepada ajaran nabi dan agamanya. Namun ajakan baik itu malah ditentang, bahkan diejek. Nampaknya mereka sudah semakin sulit untuk diluruskan kembali.
Akhirnya, Nabi Dawud AS pun menyerahkan persoalan mereka kepada Allah SWT. Tidak lupa pula dia senantiasa berdoa, agar Allah SWT memberi pelajaran bagi mereka. Pelajaran yang dapat membuat mereka sadar dan bersedia kembali ke jalan yang benar.
Dari hari ke hari, orang-orang yang ingkar itu rupanya semakin lupa diri dan serakah dalam hidupnya. Mereka melakukan bermacam-macam perbuatan penuh noda dan dosa. Tabiatnya berubah menjadi seperti kera atau beruk, tidak peduli lagi mana halal dan mana haram.
Akhirnya bukan hanya perbuatannya saja yang jelek begitu rupa, tetapi wujud mereka pun ikut berubah bentuk menjadi buruk. Dosa yang terlalu banyak telah merubah fisik mereka menjadi seperti bentuk kera atau beruk.
Pada suatu hari terjadilah gempa besar di desa itu. De¬ngan adanya bencana ini, semua orang beriman ke luar memohon perlindungan Allah SWT. Adapun orang-orang yang sudah sesat itu, masih tetap makan-ma¬kan besar dengan hasil penangkapan ikan mereka di hari Sabtu.
Kemudian datang lagi gempa yang kedua, ketiga dan keempat berturut-turut tidak putus-putusnya, yang sema¬kin hebat dan dahsyat. Bencana alam yang dahsyat ini telah membuat semua orang yang berlumur dosa terpelanting ke dalam laut, tertimpa oleh batu-batu dan rumah yang runtuh. Sedangkan orang-orang yang beriman tetap selamat, berkat perlindungan Allah SWT.
Demikianlah, semoga kisah ringkas yang benar-benar terjadi ini dapat kita jadikan sebagai pelajaran yang berharga. Amiiin…!
Disarikan dari berbagai Kitab Tarih
Baca Selengkapnya...

0 comments

Senin, 08 April 2013

Mayat Kembali Pulang

MAWAN SUGANDA
Karena kekuatan Ilmu Karang masih bersarang di dalam tubuhnya, maka bumi menolaknya. Jenazahnya selalu pulang sejak hari pertama dikuburkan. Selanjutnya, apa yang terjadi…?

GARA-GARA ILMU SESAT,
SANG MAYAT KEMBALI PULANG

Kisah ini dituturkan langsung oleh seorang dokter kepada Histeri. Sebut saja nama sang dokter adalah dr. Joko. Ia berkisah, beberapa puluh tahun silam, ketika ia baru beberapa lama menyelesaikan sekolahnya di SMA, tiba-tiba cobaan yang tak pernah ada dalam bayangannya datang mengempas. Ayahnya, sebut saja namanya Pak Wongso, mendadak jatuh sakit, hingga akhirnya berakhir dengan kematiannya. Dari kematian sang ayah inilah kemudian menimbulkan berbagai keanehan yang sudah barang tentu sulit diterima akal sehat.
Diceritakan, pada saat jenazah sang ayah siap dimakamkan, sebuah peristiwa musykil tiba-tiba saja terjadi. Hari itu, pemakaman Wongso sempat tertunda hampir dua jam lamanya. Pasalnya, lubang kubur yang telah disediakan terus-menerus mengeluarkan air dan selalu berlumpur. Padahal, saat itu sedang musim kemarau. Sudah lama tidak turun hujan. Lalu kenapa lubang kubur Wongso selalu tergenang air? Pertanyaan inilah yang sulit dijawab.
Dengan bantuan mesin pemompa air, liang lahat itu memang bisa dikeringkan, meskipun masih cukup berlumpur. Namun celakanya, saat jasad Wongso akan dimasukkan ke liang lahat, kembali suatu keanehan terjadi. Lubang kubur itu berubah mengecil dibandingkan ukuran tubuh Wongso. Padahal, sebelumnya sudah diukur oleh para penggali kubur dengan seksama, bahkan dilonggarkan beberapa puluh centimeter.
Karena kenyataanya memang demikian, terpaksa para penggali kubur memperpanjang liang lahat tersebut. Anehnya, meskipun sudah dipanjangkan dan dilebarkan hampir setengah meter, tetap saja tubuh Wongso tidak bisa dimasukkan. Entah liang lahatnya yang mengecil, enah juga karena jenazah yang memanjang.
Joko yang menyaksikan peristiwa itu hanya terpaku dan diam. Ia benar-benar disuguhi kenyataan yang tak masuk akal. Sungguh ia tidak mengerti, kenapa semua itu bisa sampai terjadi terhadap jenazah ayahnya.
Sementara itu, warga kampung yang ikut mengiringi jenazah Wongso, mulai berbisik-bisikan. Joko tidak tahu apa yang mereka bisikkan. Namun ia merasa kalau keanehan ini terjadi, karena ada sesuatu yang sama sekali tidak diketahui tentang ayahnya. Sesuatu yang membuat seolah-olah bumi tidak mau menerima jasadnya.
Tanpa berpikir panjang lagi Joko meminta agar jasad ayahnya tetap harus dikuburkan, meskipun harus menekuk bagian kaki. Memang pada akhirnya ayahnya bisa dikuburkan juga, meski tentu saja tidak layak.
Sampai semua orang yang mengantar kepergian jenazah Wongso ke tempat peristirahatannya yang terakhir sudah pulang, Joko masih mematung memandangi makam yang masih merah tanahnya itu. Ia baru beranjak pergi, setelah Kyai Mansyur menepuk pundaknya dan mengajaknya pulang. Sungguh Joko tidak tahu kalau orang tua itu ternyata terus mengawasi dan menungguinya dengan sabar. Padahal, orang-orang lainnya tampak ketakutan dengan beberapa keganjilan yang berlangsung saat prosesi pemakaman.
“Pak Kyai, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa pemakaman ayahku tidak sempurna seperti ini?” tanya Joko setelah cukup jauh berjalan meninggalkan areal pemakaman itu.
“Bukan pemakamannya yang tidak sempurna. Tapi ada sesuatu rahasia yang disimpan ayahmu sampai akhir hayatnya,” jelas Kyai Mansyur.
“Rahasia apa, Pak Kyai?” desak Joko, penasaran.
“Aku sudah kenal ayahmu sejak kami sama-sama muda. Bahkan aku dan ayahmu satu laskar ketika berjuang mengusir penjajah. Bukan hanya aku saja yang mengenal betul tentang ayahmu. Tapi banyak orang tua di kampung ini yang mengenalnya juga,” papar Pak Kyai.
Saat itu, Kyai Manyur tidak langsung memberikan jawaban. Sepertinya memang ada suatu rahasia yang teramat penting, yang disimpan ayah Joko hingga ajal datang menjemputnya.
Sampai di rumah, Joko langsung menemui ibunya yang masih dirundung duka. Sedikit pun Joko tidak menceritakan apa yang terjadi di pemakaman tadi.
Malamnya, sesuai dengan adat di perkampungan itu, di rumah almarhum Wongso ramai dipenuhi orang-orang yang bertahlil dan mengaji untuk kesempurnaan pemakamannya. Sebagian besar yang datang adalah para pekerja peternakan dan perkebunan milik almarhum Pak Wongso.
Satu persatu Joko memperhatikan wajah-wajah mereka. Sesekali dia menatap wajah Kyai Mansyur, yang memimpin acara pengajian dan pembacaan tahlil itu. Meskipun mereka melakukannya dengan khusyuk, tapi Joko menangkap ada guratan kecemasan dan ketakutan yang terpendam. Hal itu semakin jelas terlihat ketika acara pengajian selesai dilaksanakan, mereka semua langsung bergegas pulang. Hanya Kyai Mansyur yang kelihatan tetap tenang dan tidak beranjak dari tempat duduknya. Joko mendekati orang tua itu dan duduk di sampingnya.
“Sesuatu akan terjadi malam ini. Dan kuharap kau bisa menerimanya dengan tabah,” kata Kyai Mansyur tiba-tiba dengan suara pelan dan seperti menyimpan keterpaksaan.
“Maksud Pak Kyai…?” tanya Joko bergetar.
“Ayahmu…dia akan kembali lagi ke rumah ini.”
“Kembali lagi…?” Joko benar-benar tak percaya.
Kyai Mansyur diam membisu dan menepuk-nepuk pundak Joko. Beberapa saat kemudian sekitar sepuluh orang murid Kyai Mansyur yang berusia sebaya dengan Joko, berdatangan. Tanpa diperintah lagi mereka langsung duduk bersila dan mulai melantunkan ayat-ayat suci. Sementara, malam terus merayap semakin larut. Suasana terasa begitu mencekam.
Detik-detik berlalu terasa lambat. Tanpa dapat dicegah, Joko terlilit gelisah yang luar biasa. Tiba-tiba saja mereka semua dikejutkan oleh terdengarnya suara gedebug yang begitu keras, seperti benda besar yang jatuh dari ketinggian. Secara refleks, berbarengan mereka bangkit dari tempat duduk masing-masing. Tapi, tidak ada seorang pun yang bergerak ke luar. Baru setelah Kyai Mansyur melangkah ke luar, bergegas Joko dan murid-murinya mengikuti dari belakang.
“Oh, tidak…”
Seketika itu juga Joko mendesis tidak percaya. Kedua bola matanya membeliak lebar, melihat sosok yang tebungkus kain kafan menggeletak di tengah-tengah halaman rumah. Sekujur tubuh Joko bergetar, dan kakinya terpaku di ambang pintu menyaksikan keganjilan tersebut. Saat itu pandangan matanya menjadi berkunang-kunang, dan kepalanya terasa berdenyut-denyut.
Sekujur tubuhnya pun mendadak lemas, seperti kehilangan seluruh tenaga. Namun dia mencoba untuk tetap kuat dan menyaksikan bagaimana Kyai memerintahkan murid-muridnya untuk membawa masuk jenazah ayahnya yang kembali pulang dalam keadaan utuh, dan masih terbungkus kafan.
Joko sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, terus berdiri terpaku diam di ambang pintu, meskipun jasad ayahnya sudah terbaring di tengah-tengah ruangan depan yang besar. Murid-murid Kyai Mansyur mengelilingi dan kembali melantunkan ayat-ayat suci dengan suara pelan dan merdu. Kyai Mansyur sendiri berdiri di samping Joko, sambil memegangi pundaknya dengan tangannya yang terasa sejuk.
Keesokan harinya jasad Wongso kembali dimakamkan oleh murid Kyai Mansyur. Kali ini tidak ada seorang pun penduduk dan tetangganya yang ikut mengantar. Mereka semua tahu, tapi hanya memandang saja dari depan rumahnya masing-masing.
Joko sendiri jadi tidak tidak sanggup untuk menatap wajah orang-orang itu. Peristiwa ini benar-benar membuat dia malu dan jiwanya teguncang hebat. Bahkan ibunya sampai tidak mau ke luar dari kamarnya.
Pemakaman Wongso kedua kalinya belangsung cepat. Mereka kembali pulang dan melakukan pengajian. Saat itu, beberapa orang tetangga mulai berdatangan dan ikut dalam pengajian. Semakin siang, semakin banyak saja yang datang. Bahkan ibu-ibunya mulai sibuk di dapur untuk memasak. Karena ibunya tidak mau ke luar dari kamar, terpaksa segala sesuatunya Joko yang menangani.
“Pak Kyai, apakah mereka semua sudah tahu penyebab ayahku jadi seperti ini…?” bisik Joko pada Kyai Mansyur.
“Mari ikut aku…” ajak Kyai Mansyur sambil bangkit berdiri.
Kyai Mansyur membawa Joko ke luar dari rumah dan terus berjalan menjauhi keramaian itu. Sampai di sebuah bangku bambu yang ada di bawah pohon mangga yang terletak di halaman rumahnya yang luas, mereka duduk di sana.
“Dulu aku dan ayahmu sama-sama belajar dan menuntut ilmu di sebuah pesantren di daerah Banten. Pada waktu itu negeri ini masih dikuasai penjajah. Banyak yang gugur ketika itu. Bahkan guru kami ikut tewas. Beruntung sekali aku dan ayahmu bisa meloloskan diri, masuk ke dalam hutan dan menunggu keadaan mereda. Setelah ke luar dari dalam hutan, kami langsung bergabung dengan tentara rakyat. Kami berjuang dengan cara bergerilya dan tidak pernah menetap lama pada suatu tempat.
Setiap kami masuk ke suatu daerah, ayahmu tidak pernah mebuang-buang kesempatan untuk mencari guru dan belajar ilmu sambil terus berjuang. Begitu rajinnya dia menuntut berbagai ilmu, membuatnya menjadi tangguh di medan perang dan sangat ditakuti, baik oleh lawan maupun oleh kawan sendiri.
Bahkan komandan kami begitu segan padanya, sehingga tidak pernah memberi perintah seperti yang biasa dilakukan pada bawahan lainnya. Kalau pun ingin memberi perintah, pasti dilakukannya dengan sopan dan diawali dengan kata minta tolong. Setelah negeri ini merdeka kami kembali ke kampung halaman.
Sungguh tidak disangka sama sekali kalau nama ayahmu begitu tersohor. Sehingga begitu kami pulang, semua penduduk langsung menyambutnya seperti menyambut seorang raja. Bahkan kepala kampung langsung memberi ayahmu tanah kebun yang begitu luas serta sawah dan rumah yang besar, bekas tuan tanah yang lari karena takut oleh kekejamannya sendiri.
Ayahmu langsung hidup dalam kemewahan, sedangkan aku mendirikan sebuah pesantren. Meskipun begitu, persahabatanku dengan ayahmu tetap berjalan baik. Bahkan tidak jarang ayahmu membantu pesantrenku dan menurunkan ilmu-ilmunya pada murid-murid yang mondok di pesantrenku itu. Tapi, ada satu ilmu yang memang kularang untuk diturunkan. Dan ayahmu juga mengerti, hingga tidak mau menurunkan ilmunya yang satu itu kepada murid-muridku. Ilmu itu adalah Ilmu Karang,” papar Kyai Mansyur panjang lebar.
“Ilmu karang…?” Joko mendesis dengan kening berkerut.
“Sebuah ilmu yang bisa membuat tubuh seseorang yang menguasainya jadi kebal terhadap segala macam jenis senjata yang ada di dunia. Tidak ada satu pun senjata yang mampu melukai kulit tubuhnya. Karena ayahmu telah menguasai betul ilmu itu, membuat peluru Belanda tidak pernah ada yang bisa menyentuh badannya. Bahkan waktu itu di laskar rakyat, dia selalu bertempur paling depan. Tidak pernah bersembunyi meskipun tubuhnya dihujani peluru. Bahkan mortir sekalipun tidak mampu menghancurkan tubuhnya,” jelas Kyai Mansyur.
“Lantas kenapa Pak Kyai melarang ayah mengajarkan ilmu itu?”
“Karena, meskipun ilmu itu bisa digunakan untuk jalan kebaikan, tetapi sesungguhnya bertentangan dengan ajaran dan keyakinan kita sebagai umat beragama. Maka, tetap saja orang yang menguasai ilmu itu akan menderita, terutama sekali setelah ajal menjemputnya. Baik langit maupun bumi tidak mau menerima jasad dan rohnya. Itu sebabnya, kenapa ayahmu semalam kembali pulang, karena alam kubur tidak mau menerimanya, sebelum ilmu karang itu dibuang dari jasadnya.”
“Kalau begitu, tolong sempurnakanlah almarhum ayah saya, Pak Kyai.”
“Tidak semudah itu, Nak. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya mencabut Ilmu Karang itu dari tubuhnya. Sayang..ayahmu tidak sempat memberi tahu rahasia menghilangkan Ilmu Karang-nya itu…”
“Pak Kyai, apakah ayahku akan tetap begitu selamanya?”
“Aku tidak tahu. Tapi sebaiknya kamu terus berdoa dan memohon pada Yang Maha Kuasa, agar kematian ayahmu bisa sempurna.”
Joko tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kini dia mengerti sudah persoalannya. Hanya karena sebuah ilmu, jasad dan roh ayahnya tidak bisa diterima oleh bumi dan langit. Ilmu Karang yang dimiliki ayahnya tampaknya sudah bukan rahasia lagi bagi seluruh penduduk di kampung ini. Ironisnya, sebagai darah dagingnya, Joko justru tidak tahu sama sekali.
Pada malam kedua setelah kematiannya, kembali jasad Wongso pulang dengan cara yang sama. Keanehan ini terus terjadi pada malam-malam selanjutnya. Walaupun sudah dimakamkan lagi, tapi mayat Wongso kembali pulang secara gaib. Sungguh menyeramkan.
Pada malam ketujuh semenjak kematian Wongso, tiba-tiba saja hujan turun lebat disertai dengan ledakan guntur dan petir yang menyambar-nyambar di angkasa. Tidak ada seorang pun yang berani mengambil jasad Wongso yang menggeletak di tengah-tengah halaman. Begitu derasnya hujan turun membuat tanah di halaman tergenang air.
Saat itu Joko hanya bisa memandanginya dengan hati perih dan berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Ia ingin mengambil jasad ayahnya, tapi sebelum niat itu terlaksana, Kyai Mansyur mencegahnya. Bahkan dia memeluknya begitu kuat sekali.
Sedikit demi sedikit air yang menggenang itu semakin tinggi. Jasad Wongso mulai bergerak-gerak terbawa air. Dan, terus terbawa hanyut seperti sebatang pohon pisang yang tidak berguna. Tanpa terasa air mata Joko menitik perih.
Didampingi Kyai Mansyur dan murud-muridnya serta puluhan penduduk, Joko mengikuti kemana jasad ayahnya hanyut terbawa air. Mereka terus mengikuti sampai ke sungai yang airnya sudah meluap tinggi. Akhirnya jasad Wongso terus hanyut sampai ke laut hingga tertelan ombak yang ganas. Joko terus memandangi dengan air mata bercucuran.
“Semoga laut dapat menerima jasad ayahmu,” desah Kyai Mansyur lirih.
Memang, sejak malam itu mayat Wongso tidak pernah kembali lagi. Dan pengajian di rumahnya terus berlangsung sampai empat puluh hari lamanya. Meskipun jelas jasad ayahnya terbawa ke tengah laut, tapi Joko tetap merawat makamnya.
Untuk menghilangkan kepedihan hatinya, terpaksa Joko meyerahkan pengelolaan ternak ayam serta perkebunan pada pamannya, adik kandung ibunya, yang semula bekerja sebagai mandor perkebunan. Sedangkan Joko sendiri pergi ke kota untuk melanjutkan cita-citanya yang sempat tertunda.
Joko memang berhasil menyelesaikan kuliahnya sampai mendapat gelar dokter. Dan, ia baru kembali ke kampung halamannya setelah mempersunting seorang gadis yang kini menyandang status sebagai isterinya.
Joko memang tidak mau membuka praktek di kota. Ia sengaja kembali ke kampung halaman untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di daerahnya. Juga, sambil merawat ibunya yang semakin renta di makan usia.
Sampai Joko menuturkan kisah ini, baik isteri dan anak-anaknya tidak ada yang tahu rahasia pedih yang dialami oleh almarhum ayahnya. Semua penduduk di kampung ini juga tidak pernah ada yang membicarakan peristiwa itu lagi, seolah mereka sudah melupakannya.
Di akhir penuturannya, Joko berharap semoga peristiwa yang pernah dialami ayahnya tidak pernah lagi dialami oleh anak manusia lainnya. Ya, semoga saja demikian adanya….
Baca Selengkapnya...

0 comments

Hikayat Tabut Nabi Adam

MAWAN SUGANDA
Ketika Nabi Adam AS dikeluarkan dari surga, ia membawa wewangian surga, batu hitam (Al-Aswad) yang aslinya berwarna lebih putih dari salju, tongkat setinggi Nabi Musa, dan sejumlah benda lainnya. Adam pun dari surga membawa “Tabut”, yang berarti Peti Perjanjian….
Sebelum menciptakan Adam, Allah SWT menciptakan langit, bumi dan seisinya, seperti gunung, laut, tumbuhan, hewan, binatang, matahari sebagai sumber panas, bulan sebagai penerang malam, serta bintang-bintang sebagai penghias alam. Kesemuanya itu diciptakan oleh Allah dalam waktu enam masa, yang satu masa itu di sisi Allah sama dengan satu millenium atau seribu tahun menurut perhitungan manusia.
Sebagai makhluk manusia pertama, Adam telah menikmati semua fasilitas yang disediakan oleh Allah. Ia diperbolehkan menikmati semuanya, kecuali hanya satu yakni pohon Khuldi. Ia harus menjauhinya.
Di surga, Adam merasa kesepian, karena hidup sendiri tanpa kawan bermain dan teman bergaul. Maka Allah pun menciptakan makhluk lain yang terbuat dari tulang rusuk Adam sendiri, yang kemudian diberi nama Hawa yang berkelamin perempuan.
Lengkaplah sepasang manusia penghuni surga. Keduanya lantas dinikahkan oleh Allah. “Hai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan nikmati segala yang ada, kecuali pohon ini. (Jika melanggar larangan itu) Nanti kamu akan jadi orang durjana,” firman Allah.
Maka Adam dan Hawa pun hidup, berpasangan, bercengkrama dan berbahagia di surga yang sangat indah. Hingga suatu ketika mereka terhasut bujuk rayu setan dan melanggar larangan Allah: Memakan buah Khuldi!
Allah SWT berfirman dalam QS. Thaha: 115-122, yang artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka kami berkata, ‘Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam) dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan susahlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya. Maka dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”
Ketika Nabi Adam AS dikeluarkan dari surga, ia membawa wewangian surga, batu hitam (Al-Aswad) yang aslinya berwarna lebih putih dari salju, tongkat setinggi Nabi Musa (sekitar lima meter) yang terbuat dari tumbuhan surga yang harum, dan sejumlah benda lainnya. Adam pun dari surga membawa “Tabut”, yang berarti Peti Perjanjian.
Dalam Bahasa Arab, At-Tabut berarti sejenis peti atau kotak. Istilah ini juga dimaksudkan dengan kotak yang terbuat dari kayu di mana bayi Musa disimpan karena takut pada keganasan Fir’aun.
Istilah At-Tabut berasal dari kata “Taba” yang berarti “kedatangan kembali”, maksudnya menggambarkan datangnya kembali rahmat Allah SWT.
Tabut Nabi Adam ini adalah sebuah kotak terbuat dari kayu akasia yang dilapisi emas murni, dan diikat dengan tali yang juga terbuat dari emas murni. Ukurannya, 5 meter x 3 kaki x 3 kaki. Tutupnya yang berlapis emas dijadikan “tempat duduk” yang nyaman, oleh dua boneka anak kecil bersayap mengembang yang terbuat dari emas, zamrud atau merah delima. Hal ini seperti dikemukakan ahli tafsir Al-Baidhawi. Dikatakan pula, tadinya ini berisi patung semua nabi, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi terakhir, Muhammad SAW, pembawa perdamaian bagi kita semua.
Setelah Nabi Adam AS meninggal dunia, Tabut dimiliki Nabi Syis AS, sesudah itu berpindah kepada nabi lain berdasarkan garis keturunannya. Setelah cukup lama, Nabi Ibrahim AS mewarisi peti itu, kemudian nabi Samuel AS, dan seterusnya nabi-nabi lainnya dari kalangan Bani Israil.
Para Nabi dari Bani Israil sering sekali menempatkan peti perjanjian itu di depan, saat mereka bertempur melawan musuh-musuhnya. Dikisahkan, bahwa Nabi Musa AS selalu membawa Tabut saat maju berjihad, bertempur membela agama Allah. Peti itu menjadi pelipur lara, tempat istirahat, dan memberikan ketenangan jiwa bagi Bani Israil.
Para ahli tafsir lain mengatakan, bahwa Peti Perjanjian itu mengeluarkan teriakan seperti seekor kucing ketika dibawa ke medan pertempuran, sehingga musuh menjadi panik dan merasa ngeri, serta ujung-ujungnya mereka pun melarikan diri dari arena pertempuran. Jadi, kemenangan berada pada pihak yang membawa Peti Perjanjian itu, tanpa mngalami kesulitan.
Ketika Nabi Musa AS tergopoh-gopoh berlari sambil membawa kepingan Kitab Firman Allah SWT, ia sempat terjatuh. Kepingan kitabnya pecah, sebagiannya diambil oleh malaikat dan dibawa ke surga, sementara Musa mengumpulkan sisanya dan kemudian menyimpannya di dalam Tabut. Hanya seperenam bagian saja dari kitab itu yang tinggal di dalam Tabut.
Tabut atau Peti Perjanjian itu juga berisi barang-barang keramat, seperti: jubah dan sepatu Nabi Musa, sorban Nabi Harun AS, serta jambangan “Manna”, sehingga generasi berikutnya dapat bersyukur kepada Allah atas karunia yang Dia limpahkan kepada nenek-moyang mereka di padang pasir.
Sementara itu, Bangsa Israil menganggap Tabut itu sangat suci. Mereka percaya bahwa dengan menggunakannya, Allah SWT akan mendatangi mereka dan menolongnya dari serangan musuh. Peti itu merupakan simbol keagungan, kedamaian, dan kemenangan bagi mereka.
Dikisahkan, setelah Nabi Musa AS meninggal dunia, Tabut tersebut menjadi milik Bangsa Israil yang dikeramatkan. Namun, Bangsa Israil cepat sekali membuat dosa-dosa besar. Mereka mulai melakukan segala perbuatan yang memalukan seperti membunuh, zina, mencuri, dan berbagai pelanggaran lainnya. Mereka meninggalkan undang-undang dari Nabi Musa AS.
Maka akhirnya Allah SWT pun menyerahkan mereka kepada tangan-tangan penindas yang sangat kuat. Saat itu Bangsa Israil telah kehilangan banyak kota, direbut oleh kaum Amalekite. Keadaan Israil, negeri para nabi, menjadi porak-poranda!
Dikisahkan, pada saat itu Bangsa Israil memiliki seorang raja bernama Ilaq. Dia mempersiapkan pasukannya untuk maju perang melawan kaum Amalekite yang merupakan sempalan dari kaum ‘Ad. Di antaranya, mereka membawa Tabut yang sangat dikeramatkan. Tetapi mereka mengalami malapetaka yang sangat hebat.
Peristiwanya sebagai berikut….
Kaum Amalekite (sekitar abad ke-11 SM) melakukan serangan yang hebat terhadap Bani Israil. Serangan ini berhasil. Karenanya, setelah perang yang banyak menumpahkan darah itu, kaum Amalekite merebut pusaka mereka yang paling berharga yakni Tabut atau Peti Perjanjian.
Tidak ada apa-apa lagi selain duka nestapa yang memenuhi rongga hati Bangsa Israil. Sebagai pengganti, janji, doa dan permohonan mereka panjatkan kepada Allah SWT. Mereka memohon anugerah Tuhan berupa pusaka nabi.
“Keagungan Israil telah tiada karena direbutnya Peti Tuhan (Tabut),” demikian ratap Bangsa Israil.
Ternyata, keberadaan Tabut menjadi beban yang sangat berat bagi kaum Amalekite. Kepanikan dan wabah penyakit menimpa negerinya. Terjadi kebingungan total di antara kaum Amalekite. Oleh karena itu mereka akhirnya menyadari, bahwa Allah Yang Maha Penciptalah yang telah membuat peristiwa pahit itu, karena menempatkan Peti Perjanjian di antara berhala-berhala.
Atas hukuman yang mereka alami dan saksikan, terpaksa mereka berkesimpulan, “Peti Tuhan Bangsa Israil tidak boleh tinggal di antara kita lebih lama lagi, karena tanganNya lebih hebat ketimbang kita.”
Saat Bangsa Israil tidak mempunyai nabi lagi di wilayahnya, Allah mengangkat Samuel sebagai nabi mereka. Nabi Samuel AS tinggal di wilyah pegunungan Palestina yang disebut Ephraim (tahun 1.100 SM). Bani Israil ingin menembus semua kerugian dengan merebut kembali negeri dan Tabut yang hilang. Kerena itu mereka mendesak Nabi Samuel AS agar ia menunjuk seorang raja, yang mampu memimpin perang.
Nabi Samuel AS menanyakan kepada Bangsa Israil, apakah mereka akan ikut berperang jika hal tersebut diwajibkan? Mereka memberikan jawaban positif, menyatakan siap berperang di jalan Allah, karena telah terusir dari negeri sendiri dan tak sedikit dari kaum mereka yng mati terbunuh. Para pengikut Jalut, pemimpin kaum Amalekite, bahkan telah berulang kali melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan terhadap Bani Israil.
Nabi Samuel AS memohon agar Allah SWT mengirimkan seorang raja. Maka Allah pun kemudian mengirimkan Thalut (Saul). Setelah itu sang nabi mengumumkan kepada bangsa Israil, bahwa Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja bagi mereka.
Pada mulanya mereka menolak Thalut sebagai raja, dengan berbagai alasan yang mengada-ada serta sangat ngawur. Di antaranya, mereka mengatakan bahwa Thalut hanyalah seorang penyamak kulit dan terlalu lemah untuk dinobatkan menjadi raja. Padahal sebenarnya, Thalut adalah dari suku Beniamine (Benyamin/adik kandung Nabi Yusuf AS), keturunan Nabi Ya’qub AS. Allah SWT telah memilih Thalut dan telah menganugerahinya ilmu pengetahuan yang sangat luas, serta berbadan perkasa atau tegap. Tetapi bangsa Israil ternyata tidak mau menerima Thalut begitu saja.
Menghadapi Bagsa Israil yang keras kepala itu, Nabi Samuel AS lalu memberikan suatu jaminan bahwa tanda kekuasaan Thalut adalah kembalinya Tabut kepada mereka, dan di dalamnya terdapat sisa peninggalan keluarga Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS. Dan para malaikat akan membawa peti tersebut bagi Bangsa Israil.
Sementara itu, kaum Amalekite yang kini menguasai Tabut, semakin menderita oleh wabah penyakit. Mereka percaya bahwa baru akan selamat dari beragam bencana, dengan cara mengembalikan Tabut kepada pemiliknya. Maka pada suatu hari, mereka menempatkan Tabut tersebut di atas sebuah gerobak. Apa yang kemudian terjadi?
Sungguh sangat ajaib! Tiba-tiba gerobak itu bergerak tanpa seorang pun yang mengemudikannya. Para malaikat mengarahkan gerobak ini, dan kerja mereka dilakukan di lapangan terbuka. Namun wujud dari para malaikat tersebut tentu saja tidak terlihat.
Saat itu Bangsa Israil menyaksikan sebuah keajaiban yang sangat nyata. Tak hanya itu, para malaikat kemudian mengangkat gerobak ini ke angkasa sehingga seluruh Bangsa Israil melihatnya dengan jelas. Selanjutnya, para malaikat meletakkannya di dekat Thalut.
Akhirnya, dengan suara bulat Thalut diterima oleh seluruh penduduk Bangsa Israil sebagai raja mereka. Kembalinya Tabut itu, memberi mereka kenyamanan dan keamanan.

Dimanakah Tabut itu sekarang?

Ada sebagian pihak mengatakan bahwa Tabut tersebut pernah diangkut ke Yerusalem, dan ternyata Tabut suci tersebut ada di Axum, sebuah kota di bagian utara dari Ethiopia. Tabut tersebut sudah disimpan disana sejak sekitar 3.000 tahun yang lampau, sejak kerajaan Salomo (Nabi Allah Sulaiman). Tempat penyimpanan Tabut itu dalam satu tempat rahasia, di dalam gua di bawah tanah dari gereja “Zion of Mary”. Gua tersebut dijaga dengan ketat oleh para imam dari keturunan raja Israel.
Tabut tersebut disimpan di dalam ruangan yang dikelilingi oleh tujuh tembok. Hanya ruangan dari tembok pertama sampai dengan ke empat bisa digunakan untuk berdoa oleh para imam di sana. Dan untuk ruangan ke lima maupun ke enam hanya boleh dimasuki oleh para tetua imam saja. Sedangkan yang boleh masuk ke ruangan paling dalam atau ruangan ketujuh dimana Tabut tersebut disimpan, hanya seorang imam pilihan saja, yakni yang menjadi penjaga dari Tabut suci tersebut.
Konon, imam penjaga Tabut, tidak diperkenankan keluar dari gua tersebut, bahkan ia hanya diperbolehkan keluar sampai dengan ke ruangan ke enam saja, untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawakan oleh imam tetua lainnya. Ia harus tinggal di ruangan tersebut selama hidupnya, bahkan ia harus puasa dan berdoa selama 225 hari dalam setahun. Apabila ia mati maka ia akan digantikan oleh imam pilihan lainnya.
Kebanyakan penjaga di situ dipercayai akan mengalami buta dan menemuai ajal dalam keadaan tubuh mereka terbakar atau keracunan kesan dari radiasi dari tabut tersebut yang dikatakan mengandungi kesan radioaktif yang luar biasa, sehingg siapa saja yang menyentuhnya juga akan menemui ajal.
Waallahu A’lam…!

Baca Selengkapnya...

0 comments

Sabtu, 06 April 2013

Tanah Yang Digunakan Untuk Membuat Nabi Adam AS

MAWAN SUGANDA

Berikut ini tafsir Ibnu Abbas yang menjelaskan beberapa spesifikasi tanah yang dijadikan bahan oleh Allah SWT untuk menciptakan Nabi Adam AS:
  1. Kepala Adam dari tanah Baitul Muqadis : tempat otak dan akal manusia
  2. Telinga Adam dari tanah bukit Tursina: karenanya menjadi alat pendengar.
  3. Dahi Adam dari tanah Iraq: karenanya tempat bersujud pada Allah
  4. Muka Adam dari tanah Aden: karenanya menjadi tempat berhias dan kecantikkan
  5. Gigi Adam dari tanah telaga Al Kautsar: tempat untuk manis-manis.
  6. Tangan kanan Adam dari tanah Ka’bah: untuk mencari nafkah dan bekerja.
  7. Tangan kiri Adam dari tanah Paris: untuk bersuci cebok (istinjak).
  8. Kemaluan Adam dari tanah Babylonia: tempat birahi dan tipu daya setan untuk membimbing manusia menuju dosa.
  9. Hati Adam dari tanah surga Firdaus: sebagai tempat iman, keyakinan, dan ilmu
  10. Lidah Adam dari tanah Tha’if: tempat untuk mengucap kalimat syahadat dan berdoa.
Adapun proses penciptaannyab dijelaskan sebagai berikut:
  1. Ketika Allah akan menjadikan Adam, tanah itu dicampuri air tawar, air asin, air anyir, angina dan api. Kemudian Allah resapkan Nur kebenaran dalam diri Adam dengan berbagai macam “sifat”.
  2. Lalu tubuh Adam itu digenggam dengan genggaman “Jabarut” kemudian diletakkan didalam “Alam Malakut”.
  3. Sesungguhnya tanah yang akan dijadikan “tubuh Adam” adalah tanah pilihan. Maka sebelum dijadikan patung, tanah itu dicampurkan dengan rempah-rempah, wangi-wangian dari sifat Nur Sifat Allah, dan disirami dengan air hujan “Barul Uluhiyah”.
  4. Kemudian tubuh itu dibenamkan di dalam air “Kudral-Izzah-Nya”, yaitu sifat “Jalan dan Jammal”. Lalu diciptakan menjadi tubuh Adam yang sempurna.
  5. Demikian pula roh, ketika itu diperintah masuk ke dalam tubuh Adam, ia pula merasa malas dan enggan, malah ia berputar-putar, mengelilingi patung Izrail.
Dijadikan pula lima buah pancaindera :
  1. Mata alat penglihatan
  2. Hidung alat penciuman
  3. Telinga alat pendengaran
  4. Mulut alat perasa manis, asin dan sebagainya.
  5. Anggota tubuh lainya seperti kulit, telapak tangan, untuk perasa halus, kasar dan sebagainya.
Waallahu A’lam…!
Baca Selengkapnya...

0 comments

Senin, 01 April 2013

Ibnu Khafif Sufi Besar Yang Pernah Menikah 400 Kali

Badruzzaman Al-Jawiy (Mawan Suganda) 

Dalam waktu yang bersamaan terkadang ia beristeri dua atau tiga orang wanita. Salah seorang di antara isterinya adalah putri wazir yang sangat cantik, yang mendampinginya selama empat puluh tahun….
Abu Abdullah Muhammad bin Khafif lahir di Syiraz tahun 270 H/882 M. Dia adalah seorang tokoh suci di Persia, dan berasal dari keluarga bangsawan. Setelah mendapat pengetahuan yang luas, Ibnu Khafif berangkat ke Baghdad dan di kota ini ia bertemu dengan Al-Hallaj serta tokoh-tokoh sufi lainnya.
Menurut riwayat, ia pernah mengunjungi Mesir dan Asia Kecil. Ibnu Khafif yang juga pernah menulis beberapa buah buku, meninggal dunia dalam usia lanjut di kota kelahirannya pada tahun 371 H/982 M.
Dikisahkan, ketika masih muda, ia ingin sekali pergi ke Tanah Suci untuk melakukan ibadah haji. Waktu tiba di kota Baghdad, kepalanya masih penuh dengan kecongkakan sehingga ia tidak mau menemui Junayd Al-Baghdadi (seorang Wali Qutub/pemimpin para wali yang sangat terkenal). Ia terus saja berjalan sambil membawa seutas tali dan sebuah ember.
Saat telah berada jauh di tengah padang pasir, Ibnu Khafif merasa sangat dahaga. Untunglah di kejauhan tampak sebuah telaga dan seekor rusa yang sedang minum. Begita tiba di tempat tersebut, tiba-tiba telaga menjadi kering, semua airnya terserap habis ke dalam bumi.
Menyaksikan kejadian ini Ibnu Khafif berseru, “Ya Allah, apakah Abdullah lebih hina dari seekor rusa?”
“Rusa itu tidak membawa tali dan timba, ia berpasrah diri sepenuhnya kepada Kami,” terdengar jawaban tanpa wujud.
Dengan hati gembira, tali dan ember langsung dibuang, kemudian ia melanjutkan perjalanan.
“Abdullah, Kami hanya mengujimu, ternyata engkau tabah. Oleh karena itu, kembalilah dan minumlah air telaga tadi,” lagi-lagi terdengar suara tanpa wujud.
Ibnu Khafif pun kembali ke tempat semula dan didapatkannya air telaga itu telah penuh seperti semula. Ia segera bersuci dan minum, setelah itu berangkat lagi. Di sepanjang perjalanan ke Madinah, ia tak pernah batal dari wudhu yang dilakukan di telaga tadi.
Pada suatu hari, tepatnya hari Jum’at, Ibnu Khafif berada kembali di Baghdad. Ketika ia berada di masjid, Junayd Al-Baghdadi melihatnya dan berkata, “Seandainya dulu engkau benar-benar bersabar, niscaya air akan menyembur sendiri dari bawah kakimu.”

Pribadi Yang Zuhud dan Disiplin

Ibnu Khafif, salah seorang tokoh sufi dan wali Allah yang dikenal sangat ketat dalam melakukan disiplin diri. Dikisahkan, setiap malam ia hanya memakan tujuh buah kismis kecil untuk berbuka puasa, tak lebih dari itu.
Pada suatu hari pelayannya menyajikan delapan buah kismis kepadanya. Ibnu Khafif tidak menyadari hal ini dan menghabiskannya.
Tetapi akibatnya, ia tidak mendapatkan kepuasan di dalam ibadahnya kepada Allah SWT, tidak seperti yang dialaminya setiap malam. Maka kemudian dipanggilnyalah si pelayan untuk dimintai keterangan, tentang makanan yang telah disajikannya.
“Aku telah memberikan delapan buah kismis kepadamu,” si pelayan mengaku.
“Mengapa engkau melakukan itu?” tanya Ibnu Khafif.
“Karena kulihat engkau sangat lemah dan aku merasa kasihan. Aku ingin, engkau memperoleh kekuatan.”
“Dengan berbuat demikian, engkau bukanlah sahabatku melainkan musuhku. Jika engkau memang sahabatku, niscaya akan memberikan enam buah kismis kepadaku, bukan delapan.”
Si pelayan itu lalu dipecatnya dan digantikan dengan yang baru.
Dalam hal meminta nasehat dari orang-orang suci, Ibnu Khafif pun dikenal sangat gigih. Dikisahkan, pada suatu hari ia mendengar bahwa di negeri Mesir ada seorang tua dan seorang pemuda yang secara terus menerus melakukan meditasi. Karena sangat tertarik maka berangkatlah ia ke sana, dan berhasil bertemu dengan orang yang dicarinya.
Kedua orang itu tampak tengah menunduk dengan posisi tubuh menghadap ke arah kota Makkah. Ibnu Khafif pun mengucapkan salam, namun hingga berkali-kali mereka tetap membungkam.
“Demi Allah, jawablah salamku!” Ibnu Khafif berseru kepada mereka.
“Ibnu Khafif, dunia ini adalah kecil, dan dari dunia yang kecil ini hanya sedikit yang masih tersisa. Dari sisa yang sedikit ini, ambillah bagianmu yang sebesar-besarnya. Engkau telah membuang banyak waktu dengan mengucapkan salam kepada kami,” jawab si pemuda sambil mengangkat kepalanya.
Setelah berkata demikian, si pemuda kembali menundukkan kepalanya tanpa menghiraukan tamunya. Mendapati kenyataan yang mengagumkan ini, rasa lapar dan dahaga Ibnu Khafif seketika menjadi hilang. Ia tidak beranjak dari tempat itu.
“Berilah aku nasehat,” pinta Ibnu Khafif setelah cukup lama berada di tempat ini.
“Ibnu Khafif, kami berdua adalah manusia-manusia yang berduka. Kami tidak mempunyai lidah untuk memberikan nasehat. Orang lainlah yang harus memberikan nasehat kepada orang-orang yang berduka,” lagi-lagi si pemuda yang menjawab.
Ibnu Khafif belum berputus asa. Ia terus bertahan di tempat itu selama tiga hari, dan selama itu pula tidak makan, minum maupun tidur.
“Apakah yang harus kulakukan agar mereka mau memberikan petuah kepadaku?” tanya Ibnu Khafif di dalam hati.
Tiba-tiba si pemuda mengangkat kepalanya dan berkata, “Temuilah seseorang yang apabila memandangnya engkau akan teringat kepada Allah SWT, dan karena terpesona kepadanya hatimu akan terjaga, yaitu seorang yang akan memberi nasehat melalui perbuatan, bukan melalui kata-kata.”

Ibnu Khafif dan Para Istrinya

Diceritakan, pada suatu malam Ibnu Khafif memanggil pelayannya lalu berkata, “Carikan seorang wanita untuk kunikahi.”
“Kemanakah hendak kucari seorang wanita tengah malam seperti ini? Tetapi aku mempunyai seorang puteri. Jika Anda mengizinkan, aku akan pergi menjemputnya,” kata si pelayan.
“Pergilah dan bawa puterimu itu kemari”
Si pelayan membawa puterinya dan pada saat itu juga Ibnu Khafif langsung menikahinya. Tujuh bulan kemudian, lahirlah seorang bayi, tetapi tidak berapa lama meninggal dunia.
“Suruhlah puterimu itu meminta cerai dariku. Atau kalau dia suka, boleh tetap menjadi isteriku!” kata Ibnu Khafif kepada si pelayan atau mertuanya pada suatu hari.
“Tuan, apakah rahasia di balik semua ini?” si pelayan bertanya keheranan.
“Pada malam pernikahan itu, aku bermimpi bahwa hari berbangkit (kiamat) telah tiba. Banyak orang yang berdiri kebingungan, sementara keringat melimpah sampai ke leher mereka.
Tiba-tiba muncul seorang anak meraih tangan ayah bundanya, dan dengan kecepatan bagaikan angin dibimbingnya mereka melewati jembatan yang terbentang di antara surga dan neraka. Oleh karena itulah aku ingin mempunyai seorang anak. Ketika anakku lahir dan kemudian meninggal dunia, maka tercapailah sudah keinginanku itu,” jelas Ibnu Khafif.
Orang-orang mengatakan bahwa sejak itu Ibnu Khafif sering menikah. Menurut keterangan, ia telah menikah sebanyak empat ratus kali. Karena ia keturunan bangsawan, maka ketika ia bertaubat dan mencapai kesalehan yang sempurna, banyaklah wanita yang mengajukan diri untuk dilamarnya.
Diriwayatkan, dalam waktu yang bersamaan terkadang ia beristeri dua atau tiga orang. Salah seorang di antara isterinya adalah puteri wazir yang sangat cantik, yang mendampinginya selama kurun waktu empat puluh tahun.
Kepada isteri-isterinya ini, beberapa orang pernah bertanya tentang bagaimana sikap Ibnu Khafif terhadap mereka secara pribadi.
“Tidak sesuatu pun yang kami ketahui mengenai dirinya. Kalau di antara kami ada juga yang mengetahui, tentulah ia itu puteri wazir,” jawab mereka.
Maka bertanyalah mereka kepada puteri wazir, dan mendapat jawaban sebagai berikut, “Apabila kuketahui bahwa Syech hendak berkunjung ke kamarku di malam hari, maka kupersiapkan makanan yang lezat-lezat. Kemudian aku berdandan. Ketika ia datang dan melihat apa yang aku lakukan, aku pun dipanggil dan dipandanginya beberapa saat lamanya. Kemudian untuk beberapa saat pula dipandangnya makanan yang telah kusiapkan itu.”
Pada suatu malam, lanjut puteri wazir, Ibnu Khafif menarik dan melapis tangannya dengan lengan bajunya, kemudian diusapkannya ke perutnya. Terabalah oleh puteri wazir lima buah simpul di antara dada dan pusarnya. Ketika ditanyakan simpul-simpul apakah itu, Syech menjawab bahwa simpul-simpul tersebut adalah gejolak-gejolak ketabahan yang telah disimpulkan satu persatu agar dapat bertahan terhadap kejelitaan dan makanan lezat yang telah dihidangkan kepadanya. Setelah itu beliau pergi meninggalkan puteri wazir.
“Itulah satu-satunya hubungan intim di antara kami. Alangkah kokoh disiplin diri Ibnu Khafif suamiku,” jelas sang puteri wazir.
Nah, sahabat Histeri yang budiman, dari kisah ini kita bisa mendapatkan kesimpulan bahwa Ibnu khafif melakukan banyak pernikahan, bukan karena hendak memanjakan hawa nafsunya terhadap kaum wanita. Tetapi, beliau ingin mengambil sebanyak-banyaknya berbagai keutamaan yang terdapat di dalam pernikahan.
Disarikan dari sumber terpilih
Baca Selengkapnya...

0 comments

Kamis, 28 Maret 2013

Sang Pelita Masjidil Haram

YANTI

Dia melakukan shalat di sepanjang malam dan membaca Al-Quran hingga khatam. Selama tiga puluh tahun, selalu duduk di bawah air mancur di Masjidil Haram, dan selama itu pula cukup bersuci sekali dalam dua puluh empat jam….
Abu Bakar Al-Kattani adalah salah satu sufi pengikut Sultan Auliya Junaid Al-Baghdadi yang wafat pada tahun 298 H/910 M. Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ja’far Al-Kattani. Dia lahir di Baghdad, tetapi tidak jelas tahun kelahirannya. Para penulis riwayat hidup sufi hanya menulis tahun kematiannya, yaitu di Makkah pada tahun 322 H/934 M.
Setelah puas berguru kepada Al-Junaid Abu Bakar Al-Kattani meminta izin kepada ibunya untuk menunaikan ibadah haji, meski pada waktu itu dia masih remaja. Ketika sampai di padang pasir, dia mengisahkan, ”Aku bermimpi sehingga aku harus bersuci. Di dalam hati aku berkata, mungkin aku tidak mempunyai persiapan yang selayaknya.
Maka aku pun kembali pulang. Sesampainya di rumah, kudapati ibu sedang menantiku di balik pintu. Aku bertanya kepadanya, ’Ibu, bukankah Ibu telah mengizinkan aku pergi haji?’ ’Ya,’ jawab ibuku. ’Tetapi tanpa engkau, aku tidak sanggup melihat rumah ini lagi. Sejak engkau pergi, aku duduk di tempat ini. Aku telah bertekad tidak akan beranjak dari tempat ini sebelum engkau pulang kembali.’ Itulah sebabnya, sebelum ibuku meninggal dunia, aku tidak mau mencoba mengarungi padang pasir lagi.”
Setelah ibunya meninggal, Abu Bakar pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan menetap di sana hingga wafatnya. Di sana, dia selalu melakukan shalat di sepanjang malam dan membaca Al-Quran hingga khatam. Selama tiga puluh tahun, dia selalu duduk di bawah air mancur di dalam Masjidil Haram, dan selama itu pula dia cukup bersuci sekali dalam dua puluh empat jam. Di samping itu, dia pun jarang tidur, dan lebih mementingkan ibadah kepada Allah SWT. Karena itulah, dia mendapat gelar Pelita Masjidil Haram.
Berikut ini adalah kisah-kisah karomah tentang Abu Bakar al-Kattani yang sangat menarik untuk disimak:

Mimpi Bertemu Nabi SAW

”Ada sedikit kebencian di dalam hatiku kepada Ali, amirul mu’minin. Karena Nabi SAW pernah bersabda, ’Tidak ada ksatria sejati selain daripada Ali. ’Dan karena keksatriaannya itulah, walaupun golongan Mu’awiyah berada di pihak yang salah dan dia di pihak yang benar, Ali menyerah kepada mereka agar pertumpahan darah tidak terjadi.”
”Aku mempunyai sebuah rumah kecil antara Bukit Shafa dan Marwah, Makkah. Di rumah itu aku bermimpi melihat Nabi SAW beserta sahabat-sahabat yang dikasihinya. Nabi menghampiri dan merangkulku. Kemudian, sambil menunjuk ke arah Abu Bakar Ash-Shiddiq, dia bertanya, ’Siapakah dia?’
Aku menjawab, ’Abu bakar.’
Kemudian Nabi menunjuk ke arah Umar Al-Faruq, dan aku menjawab, ’Umar’.
Setelah itu Nabi menunjuk ke arah Ali, aku merasa sangat malu untuk menjawab, karena selama ini aku menaruh benci kepadanya.
Kemudian Nabi mendamaikan aku dengan Ali, dan kami saling berangkulan. Setelah itu semuanya meninggalkan tempat itu, kecuali Nabi SAW yang mengajakku. Maka naiklah kami ke puncak gunung itu, dan dari tempat itu kami memandang Ka’bah.
Ketika aku terjaga, ternyata diriku telah berada di puncak Gunung Abu Qubais. Sejak kejadian ini, sedikit pun tidak tersisa lagi kebencianku kepada Ali.”

Bertemu Nabi Khidir AS

Ada seorang tua berwajah cerah berseri-seri, mengenakan jubah yang anggun. Pada suatu hari orang tua ini melewati gerbang Bani Syaibah dan menghampiri Al-Kattani, yang sedang berdiri dengan kepala tertunduk. Setelah saling mengucapkan salam, orang tua itu berkata,
”Mengapa engkau tidak pergi ke Maqam Ibrahim? Seorang guru besar telah datang, dan dia sedang menyampaikan hadits-hadits yang mulia. Marilah kita ke sana untuk mendengarkan kata-katanya.”
”Siapakah perawi hadits-haditsnya yang dikhutbahkannya itu?” Al-Kattani bertanya.
”Dari Abdullah bin Ma’mar, dari Zuhri, dari Abu Hurairah, dan dari Muhammad,” jawab orang tua itu.
”Sebuah rantai perawi yang panjang. Segala sesuatu yang mereka sampaikan melalui rantai panjang perawi dapat kita dengarkan secara langsung di tempat itu,” ujar Al-Kattani.
”Melalui siapakah engkau mendengar?”
”Hatiku menyampaikan padaku langsung dari Allah,” jawab Al-Kattani.
”Apa kata-katamu itu dapat dibuktikan?”
”Inilah buktinya. Hatiku mengatakan bahwa engkau adalah Nabi Khidir,” kata Al-Kattani.
”Selama ini aku mengira tidak ada sahabat Allah yang tidak kukenal,” Khidir berkata. ”Demikianlah halnya sebelum aku bersua dengan Abu Bakar. Maka sadarlah aku bahwa masih ada sahabat-sahabat Allah yang tidak kukenal tapi kenal kepadaku.”

Tertawa dan Dosa Sang Murid

Di lain riwayat, Abu Bakar Al-Kattani mengisahkan, ”Di dalam sebuah mimpi aku bertemu seorang remaja yang sangat tampan. Aku bertanya kepadanya, ’Siapakah Anda?’
“Keshalihan!” jawabnya.
“Di manakah tempatmu?”
“Di dalam hati orang-orang yang berbuat sesuka hati mereka dan orang-orang yang bersenang-senang.”
Ketika aku terbangun, aku bertekad, bahwa seumur hidupku aku tidak akan tertawa kecuali apabila aku sudah tidak kuasa menahannya.
Ketika Abu Bakar Al-Kattani sudah menjadi guru, ada seorang muridnya yang sedang sekarat menantikan ajal. Si murid membuka matanya dan memandang ke arah Ka’bah. Tepat pada saat itu seekor unta yang lewat di tempat itu menyepak mukanya sehingga biji matanya tercungkil keluar.
Sesaat kemudian, terdengarlah oleh Abu Bakar sebuah suara yang berkata di dalam dirinya. ”Di dalam keadaan seperti ini, ketika rahasia-rahasia dari Yang Maha Ghaib hendak dibukakan kepadanya, dia malah berpaling ke arah Ka’bah. Oleh karena itulah dia dihukum. Apabila berhadapan dengan Sang Pemilik Rumah, janganlah engkau berpaling memandangi rumah-Nya.”

Mayat Yang Tersenyum

Abu Bakar Al-Kattani meriwayatkan sebagai berikut ini:
Ketika aku berada jauh di tengah padang pasir terlihatlah olehku mayat seseorang. Mayat itu tersenyum.
“He! Mengapakah engkau dapat tersenyum sedangkan engkau sudah mati?” aku berseru.
“Karena kasih Allah”, jawab mayat itu.
Abu Bakar mengisahkan pula: “Aku pernah bersahabat dengan seseorang, dan dalam persahabatan itu aku merasa sangat canggung. Aku beri dia suatu hadiah, tetapi kecanggungan itu tidak hilang. Aku bawa ia ke rumahku dan kukatakan kepadanya: ‘Taruhlah kakimu di mukaku!’
Mula-mula dia menolak, tetapi aku terus mendesak. Akhirnya ia menaruh kakinya ke mukaku sedemikian lamanya sehingga kecanggunganku itu sirna dan berubah menjadi cinta.
Pada suatu ketika, dari sebuah sumber yang halal, aku menerima uang dua ratus dirham. Uang itu kubawa untuk sahabatku itu dan kutaruh di atas sajadahnya.
“Pergunakanlah uang itu untuk keperluanmu,” aku berkata kepadanya.
Dengan lirikan matanya ia memandang dan menjawab, “Hidupku yang seperti sekarang ini telah kubeli dengan harga tujuh puluh ribu dinar. Apakah engkau hendak menghanyutkanku dengan uangmu itu?”
Kemudian sahabatku itu bangkit menepiskan sajadahnya dan meninggalkan tempat itu. Seumur hidup belum pernah aku menemukan manusia yang bermartabat seperti dia, dan belum pernah aku malu seperti ketika aku memunguti kepingan-kepingan dirham itu”.

Baca Selengkapnya...

0 comments

Rabu, 27 Maret 2013

Ilmu Penakluk Dengan Suara

Bambang Wiguna
Karena menguasai Ajian Gunthur Lathi atau mulut petir ini, maka orang yang menguasai ilmu ini bila sedang marah atau menghadapi musuhnya secara otomatis nada suaranya akan berubah sangat keras laksana petir mengelegar….
Mantera atau ajimah memang sudah ada sejak dulu kala. Maka jangan heran jika nenek moyang dulu mampu merobohkan musuhnya cukup dengan sekali bentakan saja, tanpa perlu beradu fisik. Gajah Mada, misalnya.
Konon, salah satu ilmu kesaktian yang dimiliki oleh Gajah Mada salah satunya adalah Ajian Guntur Lathi. Karena menguasai Ajian Gunthur Lathi atau mulut petir ini, maka bila ia sedang marah atau menghadapi musuhnya secara otomatis suaranya akan berubah sangat keras laksana petir mengelegar. Manusia atau hewan seganas apapun akan roboh terpaku di bumi bila terkena bentakannya.
Menurut cerita versi lain, Ilmu Gunthur Lathi merupakan warisan dari raja besar Majapahit yakni Prabu Hayam Wuruk, sang raja arif dan bijaksana. Di bawah kekuasaannya Majapahit dapat menguasai atau menyatukan persada Nusantara di dibawah panji Majapahit.
Cerita tersebut menyebutkan bahwa memang sejak kecil Prabu Hayam Wuruk telah digembleng dengan ilmu kedigdayaan, hal disebabkan memang dirinya telah dipersiapkan untuk menjadi raja yang sakti mandraguna. Telah banyak ilmu yang dikuasainya dan satu diantaranya adalah Ilmu Guntur Lathi.
Berkat dukungan dan bimbingan Mahapatih Gajah Mada, ilmu langka dan unik ini dapat dikuasai dengan sempurna. Dikisahkan, saat melakukan perburuan binatang di sebuah hutan, rombongan pasukan raja disergap oleh sepuluh ekor singa yang keberadaannya muncul secara tiba-tiba dari balik bukit.
Dapat diduga dengan pasti para pengawal itu langsung membuat formasi pagar betis untuk melindungi raja muda, Hayam Wuruk. Tetapi pengawal-pengawal itu terkejut, karena mereka diperintahkan untuk menyingkir. Sementara itu, Prabu Hayam Wuruk keluar dari pagar betis yang dibuat oleh para pengawal sejatinya.
Tak dapat disangka, segerombolan singa yang jaraknya masih jauh kira-kira dua ratus meter itu kemudian meraung-raung roboh dan tidak dapat berdiri lagi. Mereka ingin berlari namun susah. Namun dengan bijaksana akhirnya singa-singa dilepas bebas ke habitatnya oleh Prabu Hayam Wuruk.
Konon pula kabarnya, ilmu ini diwariskan kepada putera-puteranya, namun tak banyak yang menguasai ilmu hebat ini dengan sempurna. Hingga kemudian kerajaan Majapahit runtuh dan para pangeran banyak yang melarikan diri ke pegunungan untuk mencari tempat yang aman.
Untuk menguasai Ilmu Guntur Lathi sangatlah berat, terutama bila tak ada niat yang besar dan kuat. Adapun manteranya, adalah:
Sun amatake ajiku si guntur lathi,
Guntur lathi kuwang-kuwang,
Midhaku raku,
Guntur lathi pangucapku,
Nyaut ora nyiduk, gajah meta kala manembah,
Rep sirep sangking kersanung gusti .

Syarat dan tatalakunya, adalah:

  • Melakukan puasa ngelowong selama tiga hari, yakni dimulai hari Rabu Pon sampai Jum’at Kliwon.
  • Tiap sore sampai tengah malam pukul 00.00 tidak boleh tidur.
  • Tiap petang atau menjelang Maghrib membaca mantera di atas.
  • Bila merasa ragu jangan melakukan segala syarat dari ilmu ini dan lupakan untuk menguasainya, karena selama menjalankan atau melakukan syarat ini Anda mungkin akan mengalami banyak keganjilan.
Demikianlah sekilas tentang sebuah teknologi di masa silam yang sangat dahsyat, bernama Ajian Gunthur Lathi. Semoga menambah wawasan para pembaca seputar ilmu-ilmu warisan nenek moyang kita.

Baca Selengkapnya...

0 comments

Senin, 25 Maret 2013

Pelet Lewat Tatapan Mata

Bagus Bagaskara
Dengan membaca manteranya sambil menatap orang yang dituju, maka orang tersebut akan jatuh hati pada anda.…
Para pakar pisikologi mengatkan, mata adalah jendela jiwa. Artinya, dengan melihat sinar matanya, orang bisa menebak isi hati seseorang, bahkan karateristiknya. Tentu dibutuhkan kepandaian khusus.
Masih berhubungan dengan mata, agaknya para nenek moyang kita pun telah menciptakan suatu rahasia yang erat hubungannya dengan kemauan hati, lebih sepesifik dengan rasa asmara.
Konon, dengan keyakinan penuh yang disertai mantra-mantra bertuah, kita bisa menjerat rasa asmara seseorang, pria atau pun wanita ilmu bernama Aji Griya Agung atau Ilmu Pelet Lewat Tatapan Mata.
Menurut sumbernya, aji pelet ini sangat ampuh, asal diperaktekkan dengan sungguh-sungguh. Untuk menjalankan tidak terlalu susah dan njlimet. Kalau memang Anda malas puasa pun tidak apa-apa. Tapi tentu akan lebih tajam bila Anda puasa karena ini semacam tebusan atau mahar. Dengan menggunakan ilmu pelet lewat tatapan mata ini,
Anda harus sepenuhnya berhasil memiliki sang idaman hati, dengan catatan tidak untuk dipermainkan. Kendatipun rupa atau wajah anda tidak ganteng atau cantik, apabila anda ingin mempraktekannya dengan sungguh-sungguh, Insayallah akan berhasil.
Agar lebih jelas dan Anda tidak penasaran, berikut ini kami paparkan dengan jelas bebrapa langkah yang perlu Anda tempuh untuk mendapatkan kekuatan pelet lewat atatapan mata ini.
  1. Senantiasa menjaga dengan baik kebersihan wajah dan keceriaannya.
  2. Setiapkali Anda bertemu dengan orang yang dicintai, misalnya bertemu dengan gadis yang dicintai untuk dipersunting, maka ucapkanlah perlahan-lahn mantra dibawah ini dengan bersungguh-sungguh dan ikhlas karena allah.
    “BISMILLAHHIROHMANNIROHIIM KULLA AMARIN DZII BAALIN MIN SHAHBIHII WA AHBAABIHII MINAL KHAIRI DZIKRULLAHHI.”
    NIAT INGSUNG AMETIK AJI, AJIKU GRIYA AGUNG SUN SEBULAKE ING PUCUK RAMBUTE SI..(SEBUT NAMA SI DIA) LUWIH BRANTANE SI …(SEBUT NAMA SI DIA)
    MUGA-MUGA ASIH MARING AWAK SLIRAKU
    (baca mantera tersebut dari awal hingga akhir sebanyak 3 x)
  3. Seusai membaca 3x kemudian usaplah muka Anda dengan tangan.
  4. Dan setelah mengusapnya, tataplah gadis yang anda incar itu sampai dia membalas tatapan anda. Tapi ingat jangan ada seorangpun yang tahu bahwa Anda tengah menjalankan ilmu ini. Dengan cara ini insyaallah si gadis menjadi idaman hati Anda dan akan mencintai anda sepenuh hatinya.
  5. Mantera tersebut akan lebih ampuh lagi kalu sebelum menggunakannya Anda melakukan puasa 7 hari atau jika mampu 41 hari puasa.
Ilmu pelet lewat tatapan mata ini termasuk sangat unik , karena di dalamnya tidak mendatangkan resiko apa pun. Artinya ilmu ini tidak berakibat secara magis kepada pengamalnya, karena hanya digunakan untuk saat-saat tertentu.
Deimikianlah salah satu ilmu pelet sangat unik ini kami persembhakan kepada pembaca, dengan maksud agar pembaca dapat mengambil hikmahnya, dan menjadi catatan khusus untuk melestarikan pengetahuan peninggalan leluhur. Semoga hal ini digunakan pada koridor yang diridhoi Allah SWT. Amin ya robbal alamin…

Baca Selengkapnya...

0 comments

Derita Akibat Kiriman Santet Isteri Kekasih

YANTI YULIANTI

 

DERITA AKIBAT KIRIMAN
SANTET ISTERI KEKASIH

Pria itu tak hanya merenggut kegadisanku. Ia juga telah merusak masa depanku. Bahkan, aku nyaris mati akibat kiriman santet yang dilancarkan isterinya….
Sebut saja namaku Meryana. Aku terlahir di sebuah desa yang kata orang merupakan surganya gadis-gadis cantik. Bahkan, kebanyakan penyanyi dangdut top di televisi adalah gadis-gadis yang berasal dari desaku ini.
Sebagai dara yang terlahir di desa lereng gunung itu, aku sendiri tergolong gadis yang lumayan cantik, dengan postur tubuh tinggi semampai. Sayangnya, aku kurang bernasib baik sebab terlahir dari keluarga yang hidup sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan di bawah garis kemiskinan.
Dengan niat membantu meringankan ekonomi keluarga, selepas lulus SMK kuputuskan untuk mengadu nasib di Jakarta. Tempat yang kutuju untuk sekedar numpang berteduh adalah rumah tanteku, Bi Irna. Setahuku, ia seorang perempuan yang tegar, yang sanggup menghidupi kedua anaknya dengan jerih payahnya sendiri, sebab ia memang sudah lama hidup menjanda.
Sebelum mendapatkan pekerjaan, aku juga sibuk membantu Bi Irna berjualan buah-buahan dan menyelesaikan pekerjaan dapur. Atas saran dan bantuan biaya dari Bi Irna juga akhirnya aku bisa kursus Komputer dan bahasa Inggris.
“Kalau mau dapat pekerjaan enak, kamu nggak bisa cuma mengandalkan ijazah saya,” kata Bi Irna, memotivasiku.
Apa yang dikatakannya memang benar. Selepas lulus kursus komputer dan bahasa Inggris dengan nilai terbaik, aku langsung direkomendasikan untuk bekerja disebuah perusahaan yang cukup bonafid. Hal ini sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku, sebab dengan demikian aku tak perlu sepenuhnya bergantung pada Bi Irna. Lebih dari itu, aku juga berharap cita-citaku untuk membantu keluarga di desa bisa segera terwujud.
Di perusahaan itu mulanya aku hanya diberi tugas mengurusi administrasi ringan. Namun karena penilaian kinerjaku yang dianggap sangat baik, maka jabatanku cepat sekali naik. Bahkan ketika Bu Dhea, sekertaris direksi memilih pensiun dini, aku langsung diserahi tugas untuk menggantikan posisinya.
Ya, setelah kurang lebih bekerja satu setengah tahun di perusahaan itu aku bisa menduduki jabatan sebagai sekertaris direktur. Akan tetapi siapa sangka kalau ini justru menjadi titik awal penderitaanku. Hal ini berawal karena hubunganku dengan Pak Irfan, direktur perusahaan itu yang diam-diam ternyata jatuh cinta padaku.
Masih kuingat awal kejadiannya. Hari itu tanggal 15 September 2006. Di sebuah restoran terkenal di Bandung, Pak Ifan menyatakan cintanya padaku. Namun, waktu itu aku tak memberi jawaban apa-apa, sebab sulit bagiku untuk menerima cintanya. Pak Ifan tak hanya atasanku, tapi aku juga tahu persis pria berusia menjelang kepala lima ini sudah beranak dan beristeri. Apa kata orang nanti jika aku menerima cintanya. Mereka pasti akan menudingku sebagai gadis matrialistis, atau lebih parah lagi sebagai perempuan perusak rumah tangga orang lain.
Harus kuakui, meski sudah tak muda lagi namun Pak Ifan masih terlihat gagah dan tampan. Lebih dari itu, ia juga punya sifat mengemong, sabar, dan penuh perhatian padaku. Agaknya, berbagai kelibihan inilah yang pada akhirnya membuat kebekuan hatiku mencair. Hingga peristiwa yang tidak senonoh itu pun terjadilah pada diriku.
Tak mungkin aku bisa melupakannya seumur hidupku. Hari itu aku harus mendampingi Pak Ifan rapat dengan klien di Bogor. Karena rapat baru selesai hingga larut, maka Pak Ifan memutuskan agar malam itu kami menginap di villa milik kantor, sebab keesokan harinya rapat harus kembali dilanjutkan untuk mencapai kata sepakat.
Di villa jahanam itulah Pak Ifan merenggut kegadisanku, dan aku terpaksa harus menuyerahkannya setelah terbujuk oleh rayuan manisnya. Celakanya, setelah kejadian itu aku tak pernah bisa menolak setiap kali ia mengajakku untuk berhubungan intim.
Sampai akhirnya kejadian yang sama sekali tak pernah kuduga harus kuhadapi. Siang itu sekitar jam makan siang, aku dan Pak Ifan tengah memadu kasih di dalam ruang kantornya. Ketika itulah dating seseorang mengetuk pintu. Dengan tanpa basa-basi seorang perempuan berusia 40-an tahun muncul dan langsung melabrak Pak Ifan.
Rupanya, perempuan itu adalah isteri Pak Ifan. Ia langsung menuding dan mencercaku sebagai gadis murahan. Aku sama sekali tak bisa membantahnya, sebab dalam hati aku memang merasa bersalah. Lebih parah lagi, isteri Pak Ifan sepertinya sudah lama mencium hubungan gelap kami.
Ternyata kejadian siang itu tidak hanya berhenti sampai disitu. Entah dari mana mendapatkan alamatku, suatu sore di hari Minggu, isteri Pak Irfan mendatangiku dengan sebuah map di tangannya.
“Besok kamu tidak perlu repot-repot lagi datang ke kantor. Di dalam map itu ada surat pemecatan dan dan pesangon buatmu,” katanya seraya pergi tampat pamit dari hadapanku.
Setelah kajidian ini, aku pun kehilangan kontak dengan Pak Irfan. Setiap aku hubungi ke HP-nya selalu tidak aktif, dan bila kucoba menghubungi kantor recepsionis selalu bilang kalau Pak Irfan sedang cuti.
Baru sekitar seminggu kemudian setelah kejadian itu, Pak Irfan menelponku dan minta ketemuan di sebuah kafe di bilangan Senayan. Saat kami bertemu, kulihat Pak Irfan semakin kurus dan nampak sekali memikul beban yang berat. Biarpun di hatiku tersimpan sakit hati yang teramat dalam, namun aku tak kuasa untuk membencinya karena memang aku sangat mencintainya.
“Mer, gimana keadaanmu? WSaktuku di sini tidak banyak. Kita harus segera pergi dari Jakarta, kalau perlu kita harus secepatnya meninggalkan negera ini,“ katanya dengan terburu-buru
“Kenapa harus sejauh itu, Pak?” tanyaku.
“Mungkin sekarang kau sudah tau keadaanku yang sebenarnya. Perusahaan itu adalah perusahaan milik ayah mertuaku yang diwariskan kepada isteriku. Dan mulai hari ini aku tdak mau hidup di bawah kungkungannya. Aku ingin kebebasan. Aku ingin hidup denganmu, Mer!” jawabnya seraya menatapku.
Keharuan di antara kami hanya berlangsung beberapa saat saja. Di saat kami bersepakat untuk pergi, tiba-tiba kami dikagetkan dengan kemunculan isteri Pak Irfan dengan beberapa bodyguardnya.
“Sudah cukup ya aku memperingatkanmu!” wanita itu memelototiku. “Irfan adalah milikku dan sampai kapanpun dia akan tetap menjadi milikku. Karena kamu sudah tidak mengidnahkan peringatanku, lihat saja kau nanti kau akan menuai akibatnya,” ancamnya padaku.
Tapi aku tidak begitu menggrubrisnya karena pada saat itu yang aku perhatikan hanya Pak Irfan. Lelaki yang sebelumnya bertekad mengajakku pergi itu kembali terlihat sangat menurut pada isterinya. Ibarat kata seperti kerbau dicocok hidungnya.
Sebagai wanita, hari itu aku benar-benar telah kehilangan harga diri. Isteri lelaki pengkhianat bernama Irfan itu mencaci makiku dengan seenak udelnya di depan pengunjung kafe yang sedang padat. Aku pergi dengan wajah tertunduk dan mata sembab karena tangis.
Setelah kejadian di kafe itu, berbagai kejadian aneh mulai kualami. Setelah suatu malam akub bermimpi didatangi makhluk menyeramkan yang menindih tubuhku, esok harinya ketika bangun badanku sulit untuk digerakkan. Bahkan, dua hari kemudian aku dinyatakan lumpuh.
Tidak itu saja keanehan yang kualami. Wajahku yang semula cantik, putih mulus, perlahan berubah menjadi hitam dan berkeriput. Lebih menyakitkan lagi, keringat yang keluar dari pori-pori tubuhku juga berbau tak sedap sehingga banyak orang yang enggan mendekatiku.
Karena melihat keganjilan penyakitku Bi Irna, tane yang selama ini selalu memperhatikanku berinisiatif membawaku ke orang pintar, yakni seorang Ustadzah yang akrab disapa Azahra.
“Sebenarnya ini bukan penyakit biasa. Ada orang yang sakit hati atas tindakanmu selama ini. Pasti Mbak juga paham dengan apa yang saya katakana ini,” kata Ustadzah Azahra.
Mendengar ini aku langsung teringat pada acaman isteri Pak Irfan tempo hari.
“Benar, perempuan itulah yang melakukannya?” senyum Ustadzah seolah bisa membaca perasaanku.
Menurut penjelasan Ustadzah Azahra, penyakit aneh yang kuderita berasal dari santet yang dikirim oleh isteri Pak Irfan. Santetnya juga bukan sembarang santet, namun bila dalam sembilan bulan tidak sembuh maka besar kemungkinan akan meninggal dengan sangat mengerikan.
“Untung Mbak cepat datang, kalau tidak semua akan terlambat. Insya Allah saya akan mencoba membantu dengan media Mandi Nurhikmah. Dengan wasilah ini semoga saja semua penyakit dari medis maupun maupun non medis dapat hilang atas izin Allah,” katanya pula.
Dalam ritual Mandi Nurhikmah itu, Ustadzah Azahra lebih dulu membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, sebelum akhirnya mengajakku ke tempat pemandian yang telah disiapkan. Aku mandi dengan air yang sangat jernih, yang diatasnya di beri kupuasan jeruk purut dan lembar-lembar daun sirih.
Setelah berdoa bersama-sama aku pun mulai dimandikan. Anehnya, pada saat mandi inilah aku serasa tenggelam dalam air yang dalam, dan aku seperti melihat makhluk-makhluk yang sangat menyeramkan. Selain itu aku juga seperti melihat bayangan seolrang wanita yang wajahnya mirip sekali dengan istrinya Pak Irfan….
Begitulah sekilas kisah nyata berbumbu aneh yang pernah menimpa diriku. Syukur Alhamdulillah setelah ditangani oleh Ustadzah Azahra keadaan terus membaik. Bahkan, ketika kutuliskan kisah ini untuk Histeri, aku sudah benar-benar sembuh. Berkat bantaun Ustadzah Azahra pula aku kini sudah kembali bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi.
Terima kasih Tuhan. Terimakasih Ustadzah…!
Baca Selengkapnya...

0 comments

Senin, 18 Maret 2013

NYARIS MATI DI TANGAN NYI GEDE GOA SANGIANG (Berburu Harta Karun Jepang)

Mawan Suganda

Di pulau ini terdapat benteng pertahanan tentara Jepang ketika Perang Dunia II. Mungkin karena itulah rumors keberadaan harta karun Jepang kemudian santer berembus dari pulau yang terletak di Selat Sunda ini….
Pulau yang satu ini berada di Selat Sunda, lebih tepatnya di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Serang, Banten. Kalau dari Kota Serang, bisa menggunakan bus atau kendaraan pribadi menuju Cilegon, kemudian dilanjutkan ke Anyer dan berhenti di kawasan Pantai Manuk di Desa Cikenong. Dari Pantai Manuk, perjalanan dilanjutkan langsung ke Pulau Sangiang dengan menggunakan kapal atau perahu motor. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke pulau ini sekitar 1 jam perjalanan. Sangat tergantung besar kecilnya ombak laut.
Kini, Pulau Sangiang menjadi salah satu obyek wisata menarik di Banten. Lepas dari pesona alamnya yang sangat indah, sesungguhnya sudah sejak lama pulau ini diburu orang. Mereka beranggapan bahwa di pulau kecil ini tersimpan harta karun peninggalan Jepang dalam jumlah yang sangat besar. Tetapi nyatanya hal ini hanya merupakan isapan jempol belaka. Buktinya, tak pernah ada yang kaya mendadak sepulang dari pulau tersebut.
Salah satu pelaku perburuan harta karun tersebut adalah Dirun, warga Karawang, Jawa Barat. Ia menyimpan pengalaman yang sungguh mengenaskan. Pada saat melakukan ritual di pulau ini. Ia nyaris mati karena kehadirannya tak disukai oleh penunggu pulau Sangiang yang disebutnya dengan nama Nyi Gede Goa Sanghyang.
Kisah nyata ini terjadi beberapa waktu yang lalu. Ketika itu Dirun ingin sekali dapat mengubah nasibnya secara sim salabim. Untuk mencapai cita-citanya ia telah mencoba bardoa selama dua bulan terus-menerus. Tetapi doa yang ia panjatkan tidak dikabulkan, karena rizki memang harus dicari melalui lahir dan batin. Walhasil hidupnya tetap begitu-begitu saja alias tetap melarat. Dan karena wawasan keagamaan Dirun sangatlah minim, maka ia pun lantas menganggap bahwa doanya tergantung di awang-awang.
Ia pun tidak mau lagi berdoa. Menurut hematnya, nasihat-nasihat dari para ajengan (ustadz/kyhai) yang selalu saja mengatakan agar dirinya bersabar dalam menghadapi hidup yang penuh cobaan, tak lebih hanyalah sekedar pelipur duka. Karenanya, untuk mengubah nasibnya secepat mungkin, Dirun bertekad hendak mencari jalan dengan caranya sendiri.
Untuk tujuan tersebut, kemudian Dirun pergi mengembara sampai ke Serang dan Cilegon. Dari tempat-tempat inilah ia mendengar bahwa banyak orang yang mencoba mencari harta karun Jepang di pulau Sangiang. Rumor itu menyebutkan bahwa di dalam sebuah goa yang penuh dengan misteri, terpendam lantakan harta. Namun ia juga mendengar, ada beberapa orang di antara para pemburu harta itu yang hilang di daerah tersebut.
Ketika itu, Dirun memasang dua kemungkinan yang menurut pemikirannya bisa ia peroleh. Disamping ingin membuktikan kebenaran cerita tentang harta karun Jepang yang menghebohkan dan syukur-syukur bisa mengambilnya, ia juga ingin mencari jalan agar bisa memperoleh nomor toto gelap (Togel) yang ketika itu memang sedang mewabah.
Demam harta karun Jepang, memang telah melanda nafsu manusia-manusia yang ingin mengejar harta, tahta dan wanita. Padahal Jepang sendiri yang telah menjajah Indonesia tenang-tenang saja dengan berbagai industri besarnya. Mereka merasa tidak pernah menyimpan apa pun di goa-goa yang dihebohkan banyak orang itu.
Akhirnya Dirun memutuskan ikut menumpang perahu layar pengangkut pisang ke pulau Sangiang. Dari jauh, pulau yang dalam pandangannya seperti gudang harta yang tak terhitung nilainya itu diperhatikannya. Sekonyong-konyong ia teringat pada kisah Alibaba yang pernah didengarnya di masa kecil, yang mendapat harta di dalam goa. Ia pun berharap bisa seperti tokoh yang ada dalam kisah 1001 malam itu.
“Apa tujuan sebenarnya datang kemari?” tanya Karim kepada Dirun sesampainya di Pulau Sangiang. Karim adalah sebagai ketua dari orang yang menetap di pulau itu. Ia sering didatangi orang-orang bermaksud aneh seperti Dirun. Ada yang berlagak seperti turis, ada yang berlagak seperti pemancing ikan dengan peralatan modern, dan masih banyak lagi bentuk lagak lainya. Tetapi, ujung-ujungnya mereka semua minta diantarkan ke tempat yang disebut sebagai Goa Sangiang.
“Saya mau beruzlah (mengasingkan diri) saja ke tempat yang sunyi, untuk mencari ketenangan hati,” jawab Dirun sambil tersenyum kecil penuh muslihat. Seolah-olah ia telah melihat tumpukan emas serta permata di hadapannya. Ia kemudian minta diantarkan ke tepi goa yang puncaknya paling tinggi. Dinding batunya yang kemerah-merahan menambah keyakinannya, bahwa di dalamnya tersimpan logam yang bersemu merah juga alias emas.
Ombak menghantam tebing, bunyinya terdengar nyaring berdentum-dentum disertai angin barat yang dingin. Matahari mulai terbenam diiringi warna merah kekuningan, laksana lelehan tembaga di langit sana. Laut dan langit tampak semakin samar dalam pandangan. Akhirnya hutan pun menyatu dengan gelapnya sang malam.
Sementara itu, Dirun seorang diri menghadap ke arah goa dengan ketenangan bak arca pada stupa candi. Belum pernah ia bisa setenang seperti sekarang ini. Meskipun begitu, sesungguhnya hati kecil Dirun bergelora bagaikan ombak di hadapannya.
Mulut Dirun komat-kamit seolah-olah memanggil sesuatu. Di dekatnya, sebuah dupa kecil berisi asap kemenyan putih dan setanggi, meliuk-liuk di putar angin dan buyar di atas kepalanya. Tiba-tiba ia mendengar bunyi asing yang mirip suara ombak namun sangat beraturan menerpa dinding goa. Bersamaan dengan itu tempat duduknya terasa bergoyang. Beberapa saat berselang bunyi aneh itu berhenti tak jauh dari hadapannya diiringi suara seperti pohon besar tumbang.
Perlahan-lahan Dirun membuka matanya. Tampak di hadapannya sesuatu seperti bentuk dua pohon besar. Padahal ia merasa yakin bahwa tadi tidak melihatnya. Pohon ini hitam berbulu, seperti dililit pohon gadung berduri. Tetapi yang sangat aneh, batang pohon itu berbentuk seperti telapak kaki yang amat besar. Kedua ibu jarinya sebesar drum minyak tanah, lengkap dengan kukunya yanmg terjorok ke hidung Dirun.
Dengan sangat penasaran, Dirun menengadah ke atas. Mata makhluk itu sebesar buah kelapa dan mencorong memandanginya. Napasnya hampir menyamai desau ombak yang menjalar di atas pasir pantai. Dirun tergagap-gagap, dan beberapa kali ia melenguh pilu.
“Ampun…aku…aku…hanya ingin harta dan nomor togel…!” geragap Dirun, sambil tertelentang ke belakang.
Kini, semakin jelas di matanya bahwa makhluk sedemikian besar itu berjenis kelamin perempuan. Kedua buah dadanya yang luar biasa besarnya, ikut bergetar dengan gerakan napasnya yang turun naik. Dalam kepanikannya yang luar biasa, Dirun tiba-tiba ingin menjadi seperti seorang bayi. Ia ingin bersembunyi di antara kedua buah dada yang amat besar itu. Di sana mungkin bisa menjadi tempat yang paling aman dari mimpi buruk dan ganguan nyamuk.
Keinginan Dirun menjadi kenyataan. Kini dada berbuah besar itu turun menghimpit tubuhnya. Napasnya terasa pengap oleh dua benda empuk berbentuk seperti dua tangki minyak yang ditimpakan kepadanya. Panas tetapi pengap, membuat ia susah bernapas. Dan akhirnya, kedua buah dada raksaksa yang berbau daun pandan dan daun serai itu mengakibatkan sekujur tubuh Dirun menggelinjang kelemasan.
Diiringi dengan tawa yang panjang, barulah kepengapan itu terangkat dari tubuh Dirun. Sejurus kemudian terdengar derap langkah setapak demi setapak semakin jauh. Sulit dibedakan lagi, mana bunyi ombak dan mana pula bunyi langkah makhluk tinggi besar berjenis kelamin perempuan itu.
Dirun buru-buru bangkit, dan dengan sebuah obor ia segera berlari menuju gubuk warga pulau itu.
Semula orang-orang merasa enggan membukakan pintu untuk Dirun. Bukan saja takut akan suara Dirun yang memecah kesunyian, tetapi juga menghindari nyamuk ganas yang menanti mereka bila berani keluar kelambu.
“Tolong…tolong, aku hampir lemas ditindihnya,” lenguh Dirun ketika ia tiba di depan beranda pondok bambu. Tiga orang dalam gelap dengan pakaian kumal mengelilingi Dirun.
“Ada apa?” tanya Karim.
“Besar…besar sekali,” sahut Dirun sambil mengacungkan telapak tangannya ke atas kepala, untuk menunjukkan betapa besarnya sosok misterius yang baru saja dilihatnya. Orang-orang pun saling berpandangan.
“Mungkin dia lagi yang marah….” ujar Karim dengan suara seperti menggumam.
“Siapa…siapa dia?” tanya Dirun dengan napas tersengal-sengal.
“Nyi Gede Goa Sanghyang…” jawab Karim perlahan sekali, seperti takut didengar orang lain selain mereka yang ada di dalam pondok. “Dia selalu begitu, kalau orang datang dengan maksud yang tidak disukainya. Kami sendiri belum pernah berjumpa dengannya. Hanya terkadang saja bunyi langkah kakinya terdengar tak begitu jauh dari pondok.”
Dirun melongo dengan wajah kosong. Sungguh ia tidak menyangka bahwa ada makhluk gaib berjenis kelamin perempuan sedemikian besarnya. Penuh dengan kegairahan yang merangsang, tetapi amat menakutkan dan penuh ancaman. Kini ia ingin segera bisa keluar secepatnya dari pulau Sangiang yang menakutkan ini.
Esok harinya Dirun dijangkiti penyakit demam. Menurut Karim, ketua kelompok orang yang tinggal menetap, setiap orang yang mendatangi pulau Sangiang, jika tidak sakit di pulau itu tentu akan sakit setelah keluar pulau.
“Aku berharap jangan ada lagi sesuatu yang keji menimpa pulau ini. Aku masih sabar dan tidak membunuhnya. Kalau aku mau, bisa saja kutindih mereka sampai lemas, kemudian mati kehabisan napas!” demikian ceracau Dirun, ketika sedang demam tinggi.
“Maafkan kami, Nyai Gede. Kami tidak tahu apa yang hendak dimintanya kepada Nyai Gede,” jawab Karim yang telah terbiasa berdialog dengan orang kesurupan.
Mata Dirun mendelik-delik, seperti melihat makhluk yang sangat mengerikan.
“Siapa yang sanggup kawin denganku, baru ia dapat menguasai dan memperoleh harta di pulau ini,” ucap Nyai Gede melelui mulut Dirun, diiringi tawanya yang berkumandang sampai di luar gubuk mereka. Anehnya, tawa itu bagai bersahut-sahutan sampai ke pedalaman yang ada rawa lebarnya. Suara itu seperti mempunyai kekuatan gaib pengiring di luar sana.
Dalam keadaan masih sakit, Dirun dibawa Karim dan dua kawannya menuju Merak. Dan karena waktu datang sudah tidak mempunyai uang sesenpun, maka ia dibaringkan saja di atas tumpukan tandan pisang di atas perahu layar mereka.
Dalam perjalanan pulang, mulut Dirun masih terus mengoceh. Dan dalam suatu kesempatan, ia pernah hendak bunuh diri dengan cara mencebur ke laut. Untung Karim dan teman-temannya segera mengetahui, sehingga niatnya untuk bunuh diri bisa dicegah.
Mengapa Dirun ingin bunuh diri? Karena ia merasa sangat malu! Ia ingat janjinya kepada Suti, isterinya, bahwa akan membuat kejutan kepada tetangga dan orang sekampungnya dengan tiba-tiba menjadi orang yang kaya. Tetapi nyatanya, kini ia akan pulang dengan tangan hampa, bahkan dalam keadaan lebih parah. Karena itu menurut hematnya, lebih baik mati saja ketimbang mendapat malu dan cemoohan.
Dua hari kemudian, sampai juga Dirun di rumahnya, di daerah Karawang. Dan orang-orang sekampungnya menjadi ramai karena ia belum sembuh juga dari mengocehnya. Terkadang ia mengoceh tentang emas bertumpuk-tumpuk di dalam goa, terkadang tentang perempuan cantik dengan dada montok yang menggairahkan, tetapi berbahaya untuk ditiduri.
Demikianlah pengalaman nyata Dirun beberapa waktu yang lau, semoga dapat diambil hikmahnya.
Baca Selengkapnya...

0 comments

Selasa, 12 Maret 2013

Perjanjian Gaib dengan Nyai Plencing

SUBUR SUSENO
Karena terbelit kesulitan hidup, orang bisa saja melakukan perjanjian gaib dengan Nyai Plencing, dhanyang Bukit Pangrantunan, Gunung Sindoro. Lantas, apa konsekwensinya…?
Soma duduk melamun di balai-balai bambu reot miliknya yang telah lapuk termakan waktu. Matanya menerawang jauh, menembus segerumbulan pohon bambu yang membentengi rumah biliknya yang sebagian sudah bolong-bolong akibat lapuk dimakan waktu. Angin sore yang dingin menerpa badannya yang kurus telanjang dada.
Pikiran Soma terus memutar, mencari peruntungan yang sekiranya bisa dimanfaatkan untuk mengisi perut istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Ia tak pernah menyangka kalau hidupnya akan mengalami keterpurukan seperti ini. Harapannya untuk hidup serba kecukupan, rasanya kini tak mungkin bisa diraihnya.
“Kau tak usah berkecil hati, Soma! Semua serba mungkin. Jangan putus asa dalam menjalani kehidupan ini. Akulah yang akan membantumu.”
Suara itu menyentakkan Soma dari lamunan. Ia terkejut ketika dilihatnya seorang nenek tiba-tiba sudah berada di depannya. Nenek itu terkekeh sembari menatap wajah Soma yang masih bengong dan heran.
“Dari mana asal nenek ini? Mengapa tiba-tiba ia sudah berada di hadapanku?” batin Soma.
“Aku sudah tahu apa yang sedang kau pikirkan. Jadi, tak perlu kamu menjelaskannya lagi padaku,” kata si nenek lagi. “Namaku Nyai Plencing, penunggu dan penguasa istana bukit keramat yang sering disebut dengan nama Dalem Pangrantunan yang berada di atas bukit Gunung Sindoro.”
Mendengar nama Dalem Pangrantunan, Soma kembali tersentak. Pasalnya, ia sudah sering mendengar cerita tentang tempat ini, baik dari teman-teman dan tetangga, maupun sumber media yang banyak mengungkap mistis serta keangkeran istana bukit keramat tersebut. Tapi ia sendiri belum tau dimana letak persisnya Dalem Pangrantunan itu.
“Maaf, ada maksud apakah gerangan yang menuntun langkau Nyai datang ke gubuk saya ini?” tanya Soma, berusaha memberanikan diri.
“Tujuan kedatanganku hanya untuk membantumu, Soma. Bangsaku di atas bukit Sindoro merasa gerah melihat penderitaan serta kesengsaraan yang kamu alami selama ini. Kau tak perlu mendatangi tempatku, karena akulah yang berkunjung ke sini. tak semua orang mendapat kesempatan seperti ini, Soma. Bahkan yang sengaja datang ke tempatku saja, belum tentu bisa terkabul keinginannya, apalagi untuk bisa bertemu denganku,” papar si nenek yang menyebut dirinya dengan nama Nyai Plencing. Dialah penguasa bukit keramat Gunung Sindoro, sebuah tempat perburuan pesugihan.
Soma kembali diam. Tak banyak yang bisa diucapkannya. Dengan sudut matanya ia melihat orang tua yang ada didepannya itu membawa sebuah bungkusan kain hitam di tangannya. Ia sendiri belum tahu apa isinya.
“Perlu aku ingatkan, Soma! Kau ini tinggal dan bernaung di bawah kaki Gunung Sindoro, dimana terdapat Istana Keramat Dalem Pangrantunan tempatku berkuasa. Dengan penderitaan yang kamu alami, membuat semua wargaku akhir-akhir ini merasa gerah dan panas, sehingga aku berkewajiban untuk meredam keadaan ini,” tutur si nenek lagi.
Rupanya, penderitaan dan kemiskinan Soma telah mengusik ketenangan masyarakat krajiman (para jin_Red) yang tinggal di Gunung Sindoro, atau persisnya di Istana Keramat Dalem Pangrantunan. Dengan kesengsaraan Soma yang kerap menahan perutnya yang kosong karena tak ada sesuatu yang bisa dimakan, membuat para dhanyang di wilayah tersebut merasa gerah dan panas, sehingga Nyai Plencing berusaha untuk meredam suasana itu.
“Soma, suasana di Dalem Pangrantunan selalu bergolak karena suhu di sana begitu panas. Para pengikutku tak bisa hidup dengan nyaman seperti dulu, akibat penderitaan yang kamu alami. Oleh karena itu, aku lebih baik memberimu harta-benda demi kekayaan keluargamu. Dengan harta ini aku harapkan kau bisa hidup bahagia, sehingga tidak membuat masyarakatku menjadi gerah akibat keprihatinan dirimu. Ini, terimalah kantong yang aku bawa. Isinya bisa untuk memperbaiki kehidupanmu. Tapi ingat, suatu saat nanti jika sudah waktunya, aku akan menjemputmu untuk hidup dan tinggal di tempatku,” ucap Nyai Plencing sembari menyodorkan kantong kain hitam yang berada ditangannya.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Soma. Sedikit ragu, ia menerima bungkusan kain hitam tersebut.
akhirnya sebuah pukulan sorban dengan kekuatan ilahi yang begitu keras tepat mengenai kepala Nyai Plencing. Dan seketika itu pula jeritan panjang keluar dari mulut iblis tua yang menyerupai nenek-nenek itu. Dia terpuruk, tapi masih sempat mengeluarkan kata-kata ancaman.
“Terima kasih, Nyai!” cetusnya sambil tertunduk.
Dalam waktu sekejap, nenek telah lenyap dari hadapan Soma. Seketika itu pula, ayah dua orang anak ini pergi dengan tergopoh-gopoh, masuk ke dalam rumahnya. Ia langsung menemui Lasmi, istrinya, yang sedang merebus singkong untuk mengganjal perut mereka yang seharian kosong.
“Ada apa, Kang? Kok seperti orang yang ketakutan?” tanya sang isteri.
“I…i…ini, Jeng! Kantong ini. Tadi ada nenek-nenek yang datang menemuiku dan memberikan kantong kain hitam ini,” jawab Soma agak terbata-bata.
Sambil menatap suaminya, Lasmi kembali bertanya, “Kira-kira apa yang isinya, Kang!”
“Sama-sama kita buka saja ya, Jeng!” ujar Soma.
Dengan tangan gemetar, Soma membuka kantong kain hitam itu. Astaga, ternyata isinya adalah ikatan-ikatan uang yang tak terhitung jumlahnya. Pasangan suami isteri ini benar-benar terkejut, seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Maklum saja, sepanjang hidupnya mereka berlum pernah melihat gepokan uang satu kantong penuh dalam jumlah yang sangat banyak, tentunya.
“Mas, apakah kita tidak sedang bermimpi?” bibir Lasmi bergetar.
“Kau tidak sedang bermimpi, Lasmi! Ini nyata. Kita akan segera kaya. Kau lihat, dengan uang ini kita bisa membeli apa saja,” Soma merengkuh tubuh isterinya. Merekapun saling berpelukan erat.
Syhahdan, sejak saat itu kehidupan Soma berubah drastis. Lambat laun ia menjadi orang kaya dan terpandang di desanya. Bahkan tak ada satu orangpun yang melebihi kekayaannya. Dengan uang pemberian Nyai Plencing itu ia sudah membuka berbagai macam usaha. Ia telah memiliki beberapa penggilingan padi, losmen serta perkebunan teh di daerahnya. Hampir semua masyarakat memanggilnya dengan sebutan Juragan atau Bos Besar.
Seiring dengan perjalanan sang waktu, keseharian Soma yang semula hidup dengan penuh kesengsaraan itu sudah berubah. Ia mulai hidup dengan gelimang kemewahan.
Tak terasa, sepuluh tahun sudah Soma terbuai oleh kemewahannya. Seiring dengan itu, ia pun mulai dihantui kecemasan dengan ucapan Nyai Plencing beberapa tahun yang lalu saat menemuinya. Sering dirinya merenung akan nasibnya bila nanti Nyai Plencing sungguh-sungguh akan menjemputnya dan membawanya ke alam gaib.
Soma memutar otak bagaimana agar bisa lolos dari bayangan Nyai Plencing yang seolah selalu mengikuti kehidupannya itu. Apa lagi dengan janjinya, bahwa suatu saat nanti akan membawa dirinya untuk menjadi penghuni alamnya.
Setelah berpikir sekian waktu lamanya, Soma akhirnya teringat pada Kyai Abdul Yaskur, guru mengajinya dulu saat masih tinggal di sebuah pesantren di wilayah Wonosobo. Ia merasa yakin bahwa sang Kyai akan bisa membantu memecahkan persoalan dihadapinya.
Suatu sore, Soma berangkat menuju pondok pesantren Kyai Abdul Yaskur. Setelah tiga Jam menempuh perjalanan, ia sampai ke tempat yang dituju. Di hadapan Kyai Abdul Yaskur ia menceritakan semua kisah kehidupannya hingga akhirnya bisa bertemu dengan sosok Nyai Plencing, yang telah meminjamkan sejumlah kekayaan kepadanya.
“Subhanallah, jadi kau telah tergoda oleh harta pemberian iblis penghuni Bukit Pangrantunan itu?” tanya Kyai Abdul Yaskur.
Soma mengangguk pelan. Ludah yang ditelannya terasa amat getir.
“Naudzubillahi mindzalik! Itu dosa besar, Soma. Apalagi nyawa yang dia minta sebagai tebusan atas harta yang telah diberikannya kepadamu,” tandas Kyai Yaskur.
“Saya ingin bertobat, Pak Kyai! Tapi apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi masalah ini? Semua sudah terlanjur. Saya takut sekali. Apalagi akhir-akhir ini sosok wanita iblis itu seolah terus membayangiku” Soma tak tahan menahan linangan air matanya.
“Mungkin waktumu dengan Iblis itu memang sudah semakin mendekat, Soma!” ujar Kyai Abdul Yaskur dengan nada dingin.
Tangis Soma semakin terdengar pedih dan panic. Ingatannya dibayangi oleh kenyataan yang sangat mengerikan. Terlebih lagi, beberapa waktu yang lalu sosok tua Nyai Plencing muncul di hadapannya. Kali ini Nyai Plencing menanyakan kesediaannya untuk ikut ke alamnya, yaitu Alam Siluman Pangrantunan, tempat manusia menerima segala konsekwensi atas kerjasama gaibnya, sebelum mereka mengalami kematian yang sesungguhnya. Dengan kata lain, Pangrantunan adalah alam para dhanyang dan lelembut serta roh jahat yang berkolaborasi dengan manusia. Di alam inilah para manusia sesat akan menerima siksaan.
Soma juga tak bisa membohongi dirinya, bahwa sewaktu ia hendak berangkat menemui Kyai Abdul Yaskur, Nyai Plencing telah mendatanginya, meski itu hanya lewat mimpi. Tapi Soma yakin bahwa mimpi itu adalah perttanda sangat buruk bagi dirinya.
“Soma, sudah saatnya kamu ikut denganku. Ini bulan Suro, waktu yang tepat untuk dirimu memasuki alamku, Alam Pangrantunan yang pernah kita sepakati waktu itu.” ucap sosok tersebut.
Soma lalu terjaga dari tidurnya dengan keringat bercucuran. Terbayang dalam benaknya suatu kehidupan alam dimensi lain dengan suasana yang sangat mencekam.
“Apakah tidak ada lagi pintu tobat untuk orang-orang seperti saya, Pak Kyai?” tanya Soma sambil menyusut air matanya.
“Sekarang kau bertaubatlah dengan sungguh-sungguh. Tinggalah untuk beberapa hari di sini. Selanjutnya kau jalani puasa sunah dan syarat lain selama satu minggu. Apa kau sanggup, Soma?” kata Kyai Abdul Yaskur.
Soma mengangguk dan bersedia menerima segala perintah sang Kyai. Sejak hari itu Soma tinggal di pesantren Kyai Abdul Yaskur. Pada siang hari ia menjalani puasa sunah, sedang malamnya harus melakukan tapa kungkum (merendam badan) di sebuah sendang yang berada di belakang pondok tersebut.
Singkat cerita, tepat pada malam ketujuh, peristiwa yang tak terduga terjadi. Saat Soma sedang menjalani tapa kungkum menjelang tengah malam, tiba-tiba datang embusan angin yang begitu keras. Selang beberapa detik kemudian, disusul dengan suara tawa dari seorang wanita tua yang sudah begitu dikenal oleh Soma. Dialah Nyai Plencing. Kemunculan sosok inilah yang seketika membuat soma takut dan sangat terkejut.
“Kenapa kau ingin menghindar dariku, Soma?” suara Nyai Plencing terdengar menakutkan. “Ingat, kemanapun kau lari tetap akan aku cari. Kau telah mengingkari janjimu, Soma!”
“Soma tidak mengingkarinya, dia adalah anak muridku. Jadi aku berhak untuk mendidik serta melindunginya,” ucap Kyai Abdul Yaskur yang tiba-tiba telah berada di samping Soma.
“Kau tak usah ikut campur orang tua, ini adalah urusanku soal hutang budinya padaku!”
“Dia tidak memiliki hutang budi padamu, karena Soma tak pernah memintanya. Harta itu kau berikan hanya untuk menyelamatkan bangsamu dari hawa panas akibat keprihatinan seseorang. Oleh karena itu, kau tak layak untuk meminta tebusan atau tumbal atas semua yang terjadi. Toh bangsamu kini telah terbebas dari penderitaan rasa panas itu. Sekarang pulang dan jangan ganggu anak ini lagi! Kalau tidak, akan aku musnahkan dirimu,” tukas Kyai Yaskur gurunya.
Tapi, rupa-rupanya Nyai Plencing tak mau meninggalkan tempat tersebut. Ia justru menyerang Kyai Abdul Yaskur. Dengan beringas, tongkat yang berada di tangan kanannya memburu Kyai Yaskur, hingga laki-laki tua itu sedikit terdesak. Lalu sang Kyai menepisnya dengan sorban yang sedari tadi membelit di lehernya.
Pertempuran itu terjadi hingga hampir setengah jam lamanya. Situasi ditempat tersebut berantakan. Namun akhirnya sebuah pukulan sorban dengan kekuatan ilahi yang begitu keras tepat mengenai kepala Nyai Plencing. Dan seketika itu pula jeritan panjang keluar dari mulut iblis tua yang menyerupai nenek-nenek itu. Dia terpuruk, tapi masih sempat mengeluarkan kata-kata ancaman.
“Ingat Soma dan kau kyai tua! Kali ini kalian bisa lolos dariku. Tapi dendamku tak hanya sampai di sini. Aku akan terus mencari dan menjerumuskan anak keturunanmu di Bukit Pangrantunan, tempatnya para iblis mempermainkan manusia.” ucapnya dengan suara sember yang terdengar lantang.
Kyai Abdul Yaskur menatap tajam kepergian sosok Nyai Plencing dengan mata tuanya. Ia pun tersenyum tipis.
Mungkin, sejak saat itulah iblis di Bukit Pangrantunan semakin beringas dalam mencari tumbal, dan tak pernah lagi memberi toleransi kepada manusia yang mencoba untuk laku ngalap berkah di tempatnya. Alasannya adalah karena ia tak mau lagi tertipu serta dipermainkan oleh manusia seperti halnya Soma.
“Nah, sekarang kau bebas dari cengkraman iblis wanita tua yang bernama Nyai Plencing itu. Besok kamu boleh pulang dan jangan lupa, bawalah perbekalan yang bisa membentengi dirimu serta keluargamu agar iblis seperti Nyai Plencing itu tak berani lagi datang mengganggu kehidupanmu. Besok aku siapkan semua saranya,” tutur Kyai Yaskur….
Demikialah kisah nyata yang dialami oleh Soma (nama samaran). Dari kisah ini kita setidaknya dapat memetik hikmah, bahwa jangan sekali-kali kita tergiur oleh harta-benda bangsa iblis. Tentu saja resiko serta tebusannya begitu mahal. Lebih baik jalani kehidupan seadanya saja, dan hendaknya kita selalu berusaha dengan maksimal sesuai kemampuan. Dengan doa dan kerja keras kita, insya Allah suatu saat nanti Tuhan akan membukakan pintu rezeki dan rahmatnya kepada kita selaku hambanya yang sabar dan bertawakal. Amin ya robbal alamiiin…!

Baca Selengkapnya...

0 comments

About

Name: KISAH MISTIS TAK MASUK AKAL
From: Indonesia
About me:
More about me...

Page Rank

Last Post




Archives


Else

users online KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Subscribe with Bloglines Blogger Indonesia Cara Membuat Blog

Add to Google Reader or Homepage

site statistics THE BOBs

Credits

eXTReMe Tracker