put your own other links here (such as: adsense, friendster, multiply, your other blog, etc).

Kamis, 28 Februari 2008

AWAS PRAKTEK PENGGANDAAN UANG!

EKA SUPRIATNA
Dukun Usep sebenarnya tak mampu menggandakan uang atau menarik harta karun dari alam gaib. Tapi karena tergiur harta, dia pun nekat menipu dan membunuh pasien-pasiennya. Kita harus mewaspadai praktek-praktek semacam ini…!
Masih segar dalam ingatan, bagaimana tindakan dukun AS (Ahmad Suradji) di Medan terhadap korban-korbannya. Dengan dalih menuntut ilmu hitam, dukun yang katanya memiliki ilmu begu ganjang ini membantai pasien-pasiennya yang mayoritas perempuan.

Berdasar pengakuan dan hasil otopsi, dukun bejat ini juga sempat menyetubuhi beberapa korbannya sebelum dibunuh. Serta merta seluruh mata dan perhatian masyarakat tertuju pada sosok lelaki kurus asal Medan, Sumatera Utara ini.
Beberapa tahun kemudian, masyarakat perdukunan juga dihebohkan oleh ulah Sumanto. Lelaki asal Probolinggo, Jawa Timur ini mencuri jenzah yang baru saja dikuburkan. Jenazah itu dia masak seperti daging hewan, kemudian dimakan lantaran lapar. Pemuda yang menurut keterangan dokter memiliki penyakit kejiwaan ini pun ditahan polisi dengan tuduhan pencurian mayat. Tapi sejumlah keterangan lain menyebutkan, Sumanto memakan mayat lantaran tuntutan ilmu hitam yang tengah dipelajarinya.
Namun, seperti tak pernah jera, dunia mistik kembali dikejutkan ulah dukun Usep asal Lebak, Banten. Lelaki yang memiliki nama lengkap Tubagus Yusuf Maulana (41), ini sedikitnya membantai 8 orang yang tak lain adalah pasiennya sendiri. Dengan cara diracun 8 orang pasiennya itu dikubur dalam 2 lubang yang berbeda. Pertama pada 17 Mei 2007, dukun Usep membuat ritual penggandaan uang di sebuah perkebunan yang jauh dari pemukiman penduduk. Entah setan apa yang merasuki jiwa Usep, di sana dia meracuni 5 orang pasiennya dan dikubur dalam satu lubang.
Hal yang sama diulangi Usep pada 19 Juni 2007. Hari itu lelaki yang akrab disapa Abah ini mengajak pasien-pasiennya untuk melakukan ritual penggandaan uang di sebuah perkebunan yang letaknya sekitar 1 kilometer dari pemukiman penduduk. Jalan setapak yang terjal mereka lalui menuju lokasi ritual yang katanya keramat. Ditemani beberapa asistennya Usep menggiring pasien-pasiennya menuju lubang maut yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Malang nasib pasien-pasien dukun maut ini, mereka sama sekali tak menyadari niat jahat yang dipersiapkan Usep dan temannya. Di tepi lubang maut itu, pasien-pasien Usep disuruh minum ramuan khusus yang katanya bisa mempertemukan mereka dengan penghuni gaib tempat itu. Tapi sebenarnya ramuan itu adalah campuran air, gula merah dan potassium yang mematikan. Tentu saja tak lama setelah minum ramuan itu, pasien-pasien Usep meregang nyawa di tepi lubang.
Sempurna, Usep berpikir apa yang telah dia lakukan tak akan tercium aparat keamanan. Tapi sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Usep lupa bahwa korban-korban yang dia bantai itu memiliki keluarga yang mereka sayangi. Tentu saja keluarga mereka akan mencari dimana keberadaan korban setelah sekian lama menghilang. Tersirat pemikiran, mungkin korban tengah bertapa di gunung atau di gua. Tapi tentu akan ada akhirnya.
Dan, 23 Juli 2007 lalu adalah awal malapetaka bagi dukun Usep. Kala itu DI, istri Anto, melaporkan pada polisi bahwa dia kehilangan kontak dengan Anto sejak suaminya itu pergi ke dukun Usep. Menanggapi laporan DI, polisi kemudian menelusuri jejak Anto hingga akhirnya Usep mengaku dia telah menghabisi Anto dan kawan-kawannya di sebuah perkebunan. Selain Usep, polisi juga menangkap Oyon, tukang ojek yang sekaligus berprofesi sebagai asisten Usep. Oyon diduga kuat ikut membantu Usep membunuh korban.
Hasil penelusuran Misteri di Cileles, Lebak menemukan kenyataan bahwa Usep sebenarnya bukanlah dukun yang mampu menggandakan uang. Usep hanya dukun jadi-jadian yang mengeruk keuntungan dari pasien-pasiennya. Beberapa tahun terakhir ini Usep memang kerap didatangi orang dari wilayah Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi dan sekitarnya. Mereka datang dengan berbagai persoalan, tapi bukan untuk menggandakan uang. Beberapa diantara mereka memang ada yang berhasil, tapi tidak sedikit pula yang gagal. “Usep dikenal orang sebagai dukun sekitar 10 tahun lalu. Dia banyak didatangi orang dari kota untuk minta bantuan,” tutur Burhan penduduk Cileles yang ditemui Misteri.
Lebih jauh Burhan menjelaskan, jika tak mampu menangai masalah pasiennya, Usep biasanya akan minta bantuan ke wilayah Malingping, Bayah dan Cikadueun, di pesisir Selatan kabupaten Lebak. Tapi Burhan sendiri tidak mengetahui di mana persisnya, sebab hal ini pun dia ketahui dari beberapa temannya yang kenal dengan Usep. “Kali ini dia kena batunya, mungkin dia melihat pasiennya banyak duit hingga dia tega membunuh pasien-pasiennya itu,” jelas Burhan.
Sementara, kepada para wartawan penyidik Polres Lebak menjelaskan, Usep sebenarnya bukan dukun. Dia tak memiliki kemampuan supranatural atau kesaktian apapun untuk membantu para pasiennya. Apalagi menggandakan uang atau menarik harta karun dari alam gaib. Praktek pedukunan Usep selama ini hanya kedok untuk mengeruk uang dari para pasiennya. Meski diantara pasiennya ada yang berhasil, itu hanya sebuah kebetulan belaka.
Heboh pembantian yang dilakukan dukun Usep ini tentu saja mengundang banyak reaksi. Terutama dari kalangan spiritualis yang banyak terpampang di majalah Misteri. Salah satu dari mereka itu adalah Ki Edan Amongrogo. Diakui Ki Edan, praktek perdukunan sekarang ini telah banyak tercemar oleh dukun jadi-jadian yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan apa-apa. Mereka menjadi dukun lantaran merasa profesi ini bisa mendatangkan uang tanpa harus kerja keras. Padahal untuk menjadi seorang dukun atau paranormal tidaklah mudah. Sejumlah ilmu (spiritual-mistik) harus mereka kuasai agar dapat membantu masalah-masalah pasiennya.
Misalnya, seorang paranormal yang secara khusus mempelajari ilmu kedigjayaan, maka jangan heran jika dia memiliki ilmu kebal atau tahan senjata tajam. Ada juga paranormal yang konsisten mempelajari ilmu pelet, maka dia mampu membantu pasien-pasiennya yang bermasalah dengan urusan asmara, cinta atau rumah tangga. Demikian juga dengan paranormal lain yang memiliki kemampuan-kemampuan khusus. Tapi apa yang dilakukan dukun Usep ini adalah sebuah kesalahan. Dia melakukan sesuatu diluar kemampuannya. Dan manakala pasiennya menagih janji sang dukun kelabakan karena tak mampu memenuhinya. Akhirnya tersirat niat untuk menipu dan membantai pasien-pasien itu.
Tidak hanya itu, seorang dukun atau paranormal sejati juga harus mempelajari ilmu rasa, atau dalam istilah kedokteran disebut psikologi. Ilmu ini diperlukan agar seorang paranormal bisa mengarahkan pasiennya untuk tetap optimis dalam menghadapi masalahnya agar dia berhasil. Bagaimana mungkin seorang pasien bisa berhasil jika sang dukun tidak mampu memotivasi pasiennya untuk berhasil. Sebab keberhasilan seorang dukun juga ikut ditentukan oleh prilaku pasiennya. “Paranormal sejati itu bukan hanya mampu baca mantra dan komat-kamit di depan dupa. Tapi dia juga harus mampu membaca kejiwaan pasien dan memotivasi pasiennya untuk berhasil,” jelas Ki Edan.
Lebih jauh tentang praktek dukun Usep, Ki Edan menilai pria beranak dua asal Lebak, Banten, ini bukanlah seorang dukun apalagi paranormal. Dia hanya seorang penipu yang berkedok dukun. Dia hanya memanfaatkan situasi pasiennya yang terjepit untuk kepentingannya sendiri. Sebab sejauh pengamatan Ki Edan, tidak ada atau belum ada paranormal yang mampu menggandakan uang. Yang ada hanyalah nyupang atau ngipri yang menumbalkan nyawa orang lain atau keluarga.
Diakui Ki Edan, dalam situasi ekonomi seperti sekarang ini, jasa dukun, paranormal atau spiritualis memang menjadi laris. Namun hendaknya setiap orang berhati-hati dalam memilih paranormal, sebab banyak orang yang tak memiliki ilmu apa-apa mendadak jadi dukun. Hanya dengan modal penampilan, pakaian dan pembicaraan yang meyakinkan mereka nekat praktek. Alhasil mereka tak mampu berbuat apapun untuk membantu orang lain dan pasien-pasiennya. Begitulah apa yang terjadi atas dukun Usep, karena tergiur harta, dia nekat membunuh pasien-pasiennya.

Label:

Baca Selengkapnya...

0 comments | links to this post

SERUAN PARA RIJALULLAH BUMI MENYIKAPI DUNIA DI AMBANG TUTUP USIA

IDRIS NAWAWI
Rijalullah Bumi: “Sebentar lagi, sifat alam akan murka dengan rapuhnya dasar bumi yang sudah membara. Kini kita sebagai manusia yang menjalani syareat derajat dirinya harus melerai dan bisa meredam dari segala sifat kohar alam….” Benarkah bencana besar akan kembali tiba?
Seiring akhir zaman, yang di dalamnya terdapat beraneka ragam musibah dan bencana, kini para Rijalullah Bumi telah menyerukan kepada seluruh ummat di dunia, “Perliharalah akhlak dan amalmu sebaik mungkin. Sesungguhnya sebentar lagi bumi akan mengakhiri usianya.”
Keaktifan alam sejak diturunkannya Adam AS dan Saidah Siti Hawa ke permukaan bumi ini merupakan Sunnatullah. Semua sifat alam telah diperintah sang Illahi untuk selalu menjaga dan memberikan kebutuhan hidup bagi manusia, sebagai suatu pengabdian sampai akhir zaman kelak.

Berjuta tahun pengabdian sifat alam masih dijalani hingga kini. Namun, seiring zaman bertambahnya para manusia yang berdiam di atas bumi ini, sifat alam mulai goyah. Ia tak sekokoh dulu lagi. Semua ini bukan semata karena banyaknya manusia dari zaman ke zaman, melainkan karena bertambahnya dosa yang menumpuk atas kedzoliman para makhluk bumi, sehingga alam tak kuat lagi menopangnya.
Kini, seluruh sifat alam mulai berontak dan terus memohon kepada sang Pencipta alam semesta untuk suatu perubahan. Bumi dan laut sudah lebih dahulu memohon untuk mengakhiri hidupnya bersama para manusia yang ada di atasnya.
Bagaimanapun kuatnya sifat alam untuk menjaga alam jagat raya ini, mereka hanya sebuah af’al (ciptaan) yang tentu mempunyai kekurangan, yaitu kefanaan/rusak. Karena sifat fana itu, lambat laun semuanya akan berakhir dengan kehancuran.
Kini sudah banyak terbukti. Berbagai bencana alam atau musibah datang silih berganti, melanda seluruh belahan jagat raya. Kerapuhan sifat alam yang disebabkan oleh dosa para makhluk yang terus menindihnya sejak zaman Adam as, hingga kini membuat sifat alam mengalami berbagai kerusakan dan kefatalan, sehingga nyawa manusia terancam di dalamnya.
Lantas, bagaimana dengan perputaran sifat alam yang masih aktif seperti sekarang ini, yang diyakini bahwa jagat raya sudah mau tutup usia? Inilah jawaban secara hakikat sebenarnya.
Namun, sebelum Misteri mengulasnya lebih dalam, Penulis terlebih dahulu memohon maaf kepada seluruh ulama Ahlul Fiqih, apabila dalam pengulasan ini agak sedikit berseberangan pendapat. Sebab, bagaimapun juga kita satu tujuan (Allah SWT). Perbedaan pendapat sesungguhnya adalah sebuah rahmat.
Dalam pembedaran ini, Misteri akan mengambil satu hukum DID BIDAUKIYATUL JAMALIYAH (ilmu yang tidak ada dalam kitab, langsung lewat pemahaman isyarat para Ahlillah).
Dalam satu perkumpulan pengajian di kediaman Penulis, Al Habib Syekh Mindarajatil Wilayah Wa Quthbul Mutlak Fi Hadzaz Zaman, berujar di depan 10 santri pilihannya. Ini berlangsung sebelum empat hari menjelang terjadinya gempa di Indramayu 9 Agustus 2007 lalu. Kurang lebih penturannya sebagai berikut :
“Bagaimana aku harus menyikapi suatu keadilan yang telah dipercayakan kepadaku, apabila keadilan itu datangnya dari sifat alam yang menuntut atas segala dosa dan kedzoliman para makhluk hidup yang terus menindihnya. Kini bumi dan laut telah datang dengan wujud aslinya. Mereka menuntut dengan wajah garang membara. Lantas apakah aku harus berdiam diri dengan tuntutan mereka atas sifat koharnya (keras).”
Beliau melanjutkannya lagi, “Sebentar lagi, sifat alam akan murka dengan rapuhnya dasar bumi yang sudah membara. Kini kita sebagai manusia yang menjalani syareat derajat dirinya harus melerai dan bisa meredam dari segala sifat kohar alam. Mari kita bersama-sama menyerukan asma’ kebesaranNya. ‘Allahu Akbar’. Secara istiqomah, ikhlas dan terus memohon. Semoga bencana ini dijauhkan dari marabahaya sifat manusia. Amin.”
Dalam keadaan genting seperti ini, mereka para Rijalullah Bumi terus tak henti-hentinya memohon pada sang pencipta alam semesta untuk keselamatan seluruh ummat manusia di dunia. Lantas, bagaimana dengan manusia itu sendiri? Apakah mereka juga berpikir seperti halnya para Rijalullah Bumi? Wallahu’alam.
Yang jelas, tepatnya Rabu malam (8 Agustus 2007), pukul 21.15 WIB, angin puting beliung tiba-tiba datang dari arah timur menuju laut Cirebon dengan kencangnya. Angin itu meliuk-liuk di tengah lautan lepas tanpa henti-hentinya. Suara gemuruh yang ditimbulkan dari kencangnya angin puting beliung, membuat pinggiran pesisir Cirebon terasa bagaikan runtuh.
Tapi anehnya, angin puting beliung itu hanya berputar-putar di atas lautan Cirebon saja, tanpa menyentuh apalagi sampai merusak perumahan penduduk setempat. Dan kejadian ini hanya berlangsung sekitar 4 menitn, setelah itu raib entah kemana.
Baru pukul 00.15, bumi bergetar hebat sampai terasa di kediaman Penulis. Dan setelah dapat informasi langsung dari salah satu stasiun televisi swasta, ternyata apa yang diucapkan sang Habib, benar adanya. Yaitu, gempa dengan kekuatan 7 SR, tepatnya di laut Indramahyu, Jawa Barat, telah terjadi.
Dari kejadian ini, Penulis mendapat satu kabar dari salah satu santri pilihan, yaitu seorang bocah wanita (maaf, demi sesuatu dan lain hal Penulis sengaja merahasiakan namanya-Pen). Dia berujar, “Sesungguhnya bencana ini hanya 5% saja dari aslinya. Sebab 4 hari sebelum semua ini terjadi, para malaikat sudah memberi tahu, akan datang suatu gempa yang akan menenggelamkan sebagian permukaan bumi. Empat kali lipat lebih besar dengan bencana yang pernah terjadi di wilayah Aceh.”
“Kita semua wajib bersyukur, karena masih ada yang mau meredam segala bencana, demi seluruh ummat manusia di duniam” tambahnya.
Anak ini memang bisa disebut sebagai “Anak Ajaib. Mengapa disebut demikian? Sebab dia adalah seorang bocah perempuan yang baru berusia 9 tahun, namun dalam kehidupannya, dia langsung diajarkan oleh Rasulullah SAW, sehingga dalam usia yang masih dibilang kanak-kanak, dia sudah hafal Al-Qur’an 30 juz.
Sebelum terjadinya gempa di Indramayu, malam itu si bocah ini mengaku telah kedatangan Rasulullah SAW, yang memerintahkan dirinya, “Cepat-cepatlah adzan sebanyak 7x dan ditutup iqomah 3x. Niscaya tempat ini akan selamat dari berbagai sifat kerusakan.”
Tak kalah menariknya, tiga hari sebelum gempa terjadi, Penulis beserta para santri Majlis Dzikir Jam’ul Ijazah lainnya, selama tiga malam berturut-turut telah melihat sejumlah fenomena keagungan llahi. Misalnya saja, kami melihat secara mata telanjang bulan terbelah menjadi dua, langit dan beberapa cahaya bintang bertuliskan lafadz Allah dan Muhammad, juga bulan memendarkan 7 sinar terang membentuk lafadz “Ya Haiyu Ya Kayyumu”, dan makam keramat waliyullah Pangeran Anom Weru yang berada di samping rumah Penulis setiap malam mengeluarkan sinar kunig terang benderang.
Dari beragam macam fenomena Illahiyah selama 3 malam berturut-turut yang bisa disaksikan oleh mata kami, tentu Penulis sempat bersyukur karenanya. Mungkin nilah keagungan Allah SWT yang pernah saya lihat, dan belum tentu dalam seumur hidup akan bisa melihatnya lagi.
Hanya sekedar penyampai lisan dari kewaskitaan para Rijalullah Bumi, kini para Rijal lain telah meninggalkan muka bumi ini, karena suatu alasan. Mereka ingin hidup tenang dengan menjauhi makna duniawi, pindah ke suatu alam kewalian (Thurobi) untuk selamanya. Diantara para Rijalullah Bumi itu adalah Habib Syekh Tsamri Al-Athas, dan waliyullah besar Raja Islam Al-Wustha.
Dengan bertambah sedikitnya para ahlillah bidarajul jalalah (manusia yang dikaruniai sifat-sifat mulia sebagai penjaga keamanan bumi), mereka berpesan untuk semua ummat manusia di dunia, “Bencana susulan akan terus ada di jagat raya ini, berbagai sifat manusia akan mudah emosi dalam segala hal karena kecurangan hati, jauh dari aqidah dan pemahaman tentang ilmu agama. Bencana akan terus datang sebagai tasbih sampai akhir zaman.
Kini bencana akan terus hadir dengan beraneka macam bentuk dan sifat kelakuannya. Dimulai dari bentuk yang dibuat oleh manusia sampai bentuk yang berasal dari sifat alam.
Kini hanya satu pangkalnya, istiqomahkanlah membaca ayat ‘Allahu Akbar’ 100 x (dalam sehari) dan bersodaqolah lewat para anak yatim dan orang tak mampu lainnya. Cukup 1 minggu sekali (seikhlasnya). Perbanyaklah tafakur dalam introspeksi diri atas segala kelalaian yang pernah kita perbuat sebelumnya dan carilah pembimbing mulia sebagai tongkat hidup menuju jalan sakinah, karena hanya dengan jalan inilah kemurkaan alam bisa diredam.”
Semoga dengan ulasan ini, saya selaku manusia yang dhoif, dan seluruh masyarakat Indonesia lainnya, dijauhkan dari segala marabahaya, yang sewaktu-waktu datang tanpa kita ketahui. Amin ya robbal alamin.

Label:

Baca Selengkapnya...

0 comments | links to this post

Rabu, 27 Februari 2008

HEBOH, LUKISAN BUNG KARNO BISA HIDUP

SUDIBYO
Konon, makhluk halus bernama Jatoro Suro itu merupakan jin penunggu Gunung Kelud yang telah ditaklukkan oleh Bung Karno. Dia menjadi pengawal gaib Bung Karno semasa hidupnya. Setelah sang majikan wafat, Jatoro Suro berdiam di dalam lukisan Bung Karno. Benarkah…?
Lukisan dengan obyek figur Bung Karno yang ada di Museum Bung Karno, menurut sejumlah kesaksian tampak hidup. Konon, ini bisa dilihat di bagian dadanya yang tampak berdetak layaknya orang yang sedang bernafas. Padahal, ketika masih berada di Istana Bogor, lukisan ini tak menampakkan fenomena keganjilan apapun. Lalu, fenomena apa sebenarnya yang terjadi pada lukisan bergambar tokoh proklamator ini? Berikut laporannya….

Di sisi selatan makam Ir. Sukarno di Blitar, Jawa Timur, ada sebuah museum yang lebih dikenal dengan nama Museum Bung Karno. Lokasi museum ini, tepat berhadap-hadapan dengan makam sang Proklamator.
Sebagai museum yang identik dengan Bung Karno, seluruh museum ini berisi barang-barang yang semua ada kaitannya dengan presiden RI pertama tersebut. Mulai dari uang kuno bergambar Bung Karno yang dapat kembali dengan sendiri ketika digulung, buku-buku milik Bung Karno, foto-foto kegiatan suami Fatmawati ini ketika masih menjadi presiden, serta sebuah bendera kuno yang terbuat dari kain penutup dada Fatmawati yang pernah di kibarkan pada tanggal 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok.
Salah satu koleksinya termasuk pula sebuah tas koper besar dari kulit yang selalu dibawa oleh Bung Karno ketika keluar masuk penjara, atau ketika ayah kandung Megawati ini belum menjadi presiden. Disamping itu masih banyak lagi barang-barang milik Bung Karno yang dipamerkan di dalam museum ini.
Selain benda-benda yang mempunyai nilai sejarah yang erat kaitannya dengan Bung Karno, di museum yang tak pernah sepi oleh pengunjung ini, juga terdapat sebuah lukisan besar dengan ukuran 150 cm x 175 cm yang bergambar Bung Karno. Keanehan pada lukisan ini, menurut sejumlah orang yang pernah melihatnya adalah tampak hidup. Konon, siapapun yang melihat lukisan ini sambil memusatkan konsentrasi serta pandangan terarah penuh di bagian jantung Bung Karno pada lukisan ini, maka seketika tampak bergerak, seolah berdetak seperti layaknya orang yang sedang bernafas. Padahal, lukisan bergambar Bung Karno yang sedang menggunakan jas serta berkopiah ini, menurut salah satu penjaga museum bernama Tanwir, 36 tahun, tergolong lukisan baru.
Menurut keterangan Tanwir, gambar Bung Karno yang dilukis di atas kanvas ini, dilukis oleh IB Said pada tahun 2001 yang lalu. Seterusnya, setelah diserahkan kepada keluarga sang proklamator yang meninggal 21 Juni 1970 ini, disimpan di Istana Bogor. Namun tiga tahun setelah disimpan di Istana Bogor, lukisan bergambar lelaki gagah yang lahir 6 Juni 1901 ini, oleh pihak keluarga kemudian dibawa ke Blitar dan disimpan di museum Bung Karno.
Sejak disimpan di Museum Bung Karno, lukisan bergambar putra pasangan suami isteri R. Sukeni Sosrodiharjo dan Ny. Ida Ayu Nyoman Rai ini tampak hidup. Fonemena ini untuk pertama kalinya terjadi ketika perayaan Haul Bung Karno di tahun 2004 yang silam. Ketika itu, banyak pengunjung heboh karena menyaksikan lukisan seperti hidup.
Sejak saat itu, setiap kali ada pengunjung yang masuk museum ini, lukisan ini menjadi obyek yang kali pertama menjadi perhatian mereka. Lebih-lebih lagi, lukisan bergambar tokoh yang makamnya diapit oleh kedua orang tuanya ini, diletakkan tepat di depan setelah pintu masuk.
Lalu, fenomena apa sebenarnya yang terjadi pada lukisan ini?
Menurut penjaga museum Tanwir, sebagaimana cerita orang-orang linuwih yang pernah melakukan tirakat di depan lukisan ini, konon lukisan itu memang ada khodamnya. Menurut Tanwir, khodam lukisan adalah salah satu makhluk halus dari Gunung Kelud yang selalu mengawal Bung Karno ketika sang proklamator ini masih hidup.
Agaknya, setelah Bung Karno meninggal, sosok gaib ini tetap menjadi pengawal setia dan menetap di sekitar makam sang Proklamator. Karena itulah, mengapa lukisan ini baru menunjukkan fenomena setelah dipindah dari istana Bogor ke museum Bung Karno di Blitar.
“Yang jelas, menurut beberapa orang paranormal serta Kyai yang pernah mendeteksi lukisan ini, katanya memang ada sosok mantan pengawal Bung Karno yang sekarang menjadi khodam lukisan ini,” jelas Tanwir kepada Misteri.
Masih menurut pria yang asli Makasar ini, dulu sebelum lukisan ini berada di Museum Karno, sosok gaib khodam tersebut tinggal di sekitar makam sang proklamator. Namun tak jelas di sisi sebelah mana. Tapi yang jelas, berada di dalam komplek makam Bung Karno. Dan setelah lukisan itu berada di museum, mantan pengawal gaib Bung Karno dari Gunung Kelud ini, menghuni lukisan tersebut. Karena itula, menurut Tanwir, kemudian lukisan itu tampak hidup seperti orang yang sedang bernafas.
“Saya bukan supranaturalis, tapi keterangan seperti itu saya dapat dari para orang linuwih yang pernah datang ke sini. Termasuk orang linuwih dari luar Jawa. Dan rata-rata, hasil pendeteksian mereka sama,” papar Tanwir dengan nada serius.
Lalu, bagaimana sosok yang disebut-sebut berasal dari Gunung Kelud ini bisa menjadi pengawal Bung Karno ketika masih hidup dan kemudian tetap setia menunggui tuannya walau sudah wafat?
Sebagaimana cerita Tanwir yang didapat dari para spiritualis yang pernah melakukan pendeteksian dan mampu melakukan komunikasi dengan sosok gaib penghuni lukisan ini, bahwa sebagaimana telah banyak diketahui oleh publik, ketika masih hidup, Bung Karno merupakan orang yang suka melakukan meditasi atau ritual di tempat-tempat keramat. Salah satu tempat yang pernah digunakan Bung Karno untuk melakukan ritual adalah sebuah tempat keramat di Gunung Kelud yang menjadi perbatasan antara wilayah Kabupaten Blitar dan Kediri, yang kini hanya berjarak sekitar 20 km dari makamnya.
Pada saat melakukan ritual inilah, ada sosok makhluk halus yang berusaha menggoda Bung Karno. Namun sang proklamator yang kenyang makan asam garamnya penjara di zaman Belanda ini, tak terpengaruh oleh godaan makhluk halus yang berusaha menggagalkan meditasinya.
Karena digoda tak mempan, kemudian sosok makhluk yang dikenal dengan nama Jatoro Suro ini, berusaha menyerang Bung Karno. Karena diserang, tokoh yang selalu membawa tongkat komando ketika masih menjadi presiden ini kemudian melawannya.
Dalam pertempuran yang sebenarnya terjadi di alam gaib ini, Jatoro Suro berhasil dikalahkan oleh Bung Karno. Karena sudah takluk, kemudian sosok ini menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk mengabdi kepada Bung Karno.
Sejak saat itu, Jatoro Suro menjadi pengawal setia Bung Karno yang berasal dari makhluk halus. Bahkan mungkin satu-satunya pengawal dari alam gaib. Kesetiaan Jotoro Suro kepada Bung Karno, tak hanya sebatas ketika tokoh proklamator ini berada di pulau Jawa. Saat Bung Karno berada di pengasingan karena ditangkap oleh Belanda, sosok lelembut ini masih setia menjadi pengawal. Termasuk saat Bung Karno diasingkan ke Ende, Flores.
Tak hanya sampai di situ kesetiaan Jotoro Suro, setelah menjadi taklukkan Bung Karno. Pasalnya, saaat Bung Karno menjelang ajal, lelembut sakti dari Gunung Kelud ini masih setia mendampingnya. Bahkan hingga Bung Karno wafat. Karena kesetiaannya terhadap orang yang pernah menaklukkan dirinya, setelah Bung Karno wafat, Jatoro Suro kemudian memilih menetap di komplek makam Bung Karno.
Bahkan disebut-sebut, setelah Bung Karno wafat, sosok Jotoro Suro mampu merubah wujudnya menjadi Bung Karno. Karena itu, setelah lukisan yang benar-benar mirip Bung Karno itu dipindah dari istana Bogor ke museum Bung Karno di Blitar, kemudian Jotoro Suro memilih menjadi penghuni gaib lukisan tersebut.
“Kalau cerita yang saya dapat dari para spiritualis luar kota dan seorang Kyai dari Malang yang mampu berkomunikasi dengan sosok makhluk halus penghuni lukisan ini, cerita asal-usulnya ya seperti itu. Mengenai kebenarannya saya kurang tahu. Namun yang jelas, detak atau gerakan di lukisan ini, tanpa rekayasa. Ini asli fenomena gaib,” pungkas Tanwir mengakhiri ceritanya.

Label:

Baca Selengkapnya...

0 comments | links to this post

RAMALAN JIN SING SING DARI DANAU SINGKARAK

EKA SUPRIATNA
Jin Sing Sing adalah peliharaan seorang dukun santet di Sumatera Barat. Kemudian dia dibebaskan dari kungkungan sang dukun, dan kini dia bisa dipanggil oleh pemeliharanya. Salah satunya untuk dimintai ramalan. Seperti apakah ramalan sang jin…?
Maya tiba-tiba berubah. Perempuan berdarah minang yang kalem itu mendadak sangar. Tatapan matanya tajam, seperti harimau hendak menerkam mangsanya. Prilaku Maya tak lagi memperlihatkan jati dirinya sebagai seorang wanita. Maya, bukan nama sebenarnya, lebih pantas disebut seorang lelaki atau wanita yang liar. Mulutnya menceracau menceritakan hal-hal aneh yang menurut akal sehat sulit diterima. Sesekali mulutnya itu mengepulkan asap rokok yang dihisapnya dalam-dalam. Kala itu, Maya memang tengah kerasukan Jin Sing Sing dari Danau Singkarak, Sumatera Barat.

Menyaksikan keadaan Maya yang tengah kerasukan Jin Sing Sing memang mengkhawatirkan. Perempuan kurus yang berbalut T-Shirt dan celana jeans biru ini benar-benar kehilangan akal sehatnya. Tatapan matanya yang tajam bisa berubah mendadak layu, kedipan matanya pun menjadi jarang. Kepalanya merunduk seperti orang tengah tidur, tapi mulutnya terus menceracau tak mau berhenti.
Suasana di rumah Uda Darmawan di Cipinang, Jakarta Timur pun terasa angker dan menakutkan. Aura mistik menyelimuti rumah dua tingkat yang sempit itu. Yah, Jin Sing Sing memang tengah berada dalam raga Maya dan menguasai seluruh kekuatan mistik yang ada di sana.
Tapi dibalik semua itu ada hikmah yang bisa diambil dari kesurupan yang dialami Maya. Perempuan itu mendadak banyak tahu soal keadaan Indonesia dan situasinya saat ini. Maya yang tengah kesurupan itu juga bisa meramalkan apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Tak hanya itu, Maya juga bisa menebak dengan benar apa yang ada dalam diri seseorang. Termasuk juga Maya bisa menebak isi hati seorang wartawan yang menyertai Misteri saat itu.
Dalam keadaan kesurupan Maya memang bisa diperintahkan apa saja. Dan memang untuk itulah Misteri datang ke rumah Uda Darmawan.
Di rumah Darmawan, Maya menceritakan kebobrokan moral para pemimpin negeri ini. Menurutnya hal itu yang perlu dibenahi saat ini agar Indonesia ini bisa menjadi negara yang makmur dan rakyatnya sejahtera. Tapi korupsi di negeri yang subur makmur ini sepertinya tak akan berhenti.
Dalam keadaan kesurupan, Maya menceritakan betapa hebatnya korupsi yang ada dalam tubuh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan katanya lebih besar ketimbang pemerintah-pemerintah sebelumnya. Meski Komisi Pemberantasan Korupsi yang dibentuk Pemerintah SBY mampu menjerat beberapa orang koruptor dan menjebloskannya ke penjara, tapi masih tak sebanding dengan nilai yang dikorup oleh mereka.
Masih dalam keadaan kesurupan, Maya juga mengatakan bahwa pemerintahan SBY akan mampu bertahan hingga akhir masa jabatannya. Namun di penghujung tahun 2008, SBY akan digoyang berbagai kasus yang menjerat dirinya dan merusak nama baiknya sebagai presiden. Bukan tanggung-tanggung, badai yang mendera SBY itu akan datang dari para politikus senior dan petinggi-petinggi TNI yang telah pensiun dan yang masih aktif memegang jabatan penting.
Sebagai presiden berdarah Jawa yang memahami hal-hal mistik, SBY juga telah mengantisipasi serangan mistik. Hal ini diutarakan Maya ketika dia ditanya Misteri tentang kemungkinan kekuatan mistik yang bakal menyerang presiden asal Pacitan, Jawa Timur ini. Menurut Maya yang masih kesurupan, SBY telah menanam tumbal di setiap pojok Istana Negara di Jakarta. Tumbal-tumbal itu sengaja ditanam sejumlah orang pintar dan linuwih yang membekingi SBY. Dalam penglihatan Maya, di setiap sudut Istana Negara tertanam kepala kambing kendit dan beberapa ubo rampe.
“Semua pemimpin di negeri ini menggunakan jasa mistis spiritual atau apalah namanya,” ujar Maya dalam logat Minang yang medok.
Dari sekian banyak ucapan-ucapan yang menceracau dari mulut Maya, yang paling menarik adalah akan adanya gempa besar yang mengguncang Pulau Sumatera dan Jawa. Akhir Desember 2007, warga Bengkulu dihebohkan oleh adanya prediksi dari seorang ilmuwan Brazil yang mengatakan akan adanya gempa yang diikuti tsunami di pantai Bengkulu. Tapi ternyata itu tidak terbukti. Menurut Maya, gempa yang diikuti tsunami itu akan terjadi pada Desember 2008. Gempa ini dilihat Maya akan mengguncang pantai selatan pulau Sumatera, bukan hanya Bengkulu.
Masih dalam keadaan trance, Maya juga mengatakan pulau Jawa akan diguncang gempa hebat di pertengahan tahun 2009. Lokasi terparah akibat terjangan gempa ini adalah daerah Surabaya hingga ke ujung timur pulau Jawa. Selanjutnya gempa-gempa berkekuatan kecil juga terus mengguncang hingga ke ujung timur Indonesia. Dan sebuah gempa berkekuatan di atas 6 skala richter (SR) akan memporak-porandakan jajaran pulau Nusa Tenggara dan Timor Leste.
Jin Sing Sing yang merasuki raga Maya juga mengisyaratkan agar manusia berhati-hati dengan bencana air dan tanah sepanjang tahun 2008 hingga 2012. Menurut Jin yang berasal dari Danau Singkarak, Sumatera Barat ini, sepanjang 5 tahun ke depan kekuatan air dan tanah akan menguasai seluruh permukaan bumi. Tanah dan air yang kita huni akan meminta tumbal atas kesalahan yang telah kita lakukan. ]
“Manusia telah memperlakukan tanah dan air dengan semena-mena, maka dia akan marah dan menuntut balas,” tutur Jin Sing Sing yang meminjam wadag Maya.
Sebenarnya, jika kita mau membaca alam raya, apa yang diutarakan Maya meski dalam keadaan kesurupan ini memang benar. Bahwa bumi diciptakan Tuhan dengan kondisi yang seimbang. Di atas bumi yang kita pijak ini terdapat empat unsur yang saling berkaitan, ada tanah, air, api dan udara, dimana jumlah unsur-unsur harus tetap seimbang. Ketika salah satu unsur berkurang, atau salah satu unsur malah berlebih, maka dengan caranya sendiri alam akan menyeimbangkan dirinya.
Misalnya, ketika alam kelebihan api, maka manusia akan merasakan kepanasan. Sadar atau tidak, manusia akan mancari air untuk minum atau tempat-tempat sejuk dan dingin yang didominasi air dan tumbuhan. Dalam skala yang lebih besar, ketika alam kelebihan unsur api (panas bumi-Red.), alam akan menyeimbangkan diri dengan caranya sendiri. Alam akan mengguyur bumi dengan air, maka terjadilah hujan yang berkpanjangan dan mengakibatkan bajir.
Jika air saja tidak mampu menghilangkan dahaga alam, dia akan mencairkan gunung-gunung es. Dan inilah yang sekarang tengah terjadi di atas muka bumi ini. Dengan sombongnya manusia mengeksploitasi alam, membabat hutan hingga gersang dan meludahi langit dengan asap. Tanpa sadar, alam terasa panas dan kita sendiri merasa musim panas beberapa tahun terakhir ini berlangsung lama dan panjang. Maka alam akan mereformasi dirinya. Dia akan membuat musim hujan tahun-tahun ke depan lebih lama dengan curahannya yang lebih besar.
Tak hanya itu, alam juga akan mencairkan gunung-gunung es di wilayah kutub. Ini semua dilakukan alam agar dia tetap dalam keadaan seimbang. Dan penyeimbangan yang dilakukan empat unsur alam ini tentu saja akan berdampak terhadap kehidupan manusia. Tapi itulah resiko yang harus ditanggung manusia. Sebab apapun yang terjadi di muka bumi ini, semua akibat ulah manusia itu sendiri. Kita tak mampu membaca gejala alam.
“Jika alam merasa panas, dia akan mengguyur dirinya dengan air. Maka terjadilah banjir, akibatnya manusia akan kehilangan tempat tinggal atau tanah. Itulah hukum alam,” desis Maya seperti mengigau.
Sesaat kemudian Maya terdiam, dia tengadah seperti tengah menyelidiki sesuatu di langit-langit rumah Darmawan. Cukup lama dia menatap langit-langit rumah itu. Sesekali matanya dipicingkan seperti tengah mengeker atau menyelidiki. Rokok di tangan kanannya tetap mengepul. Mungkin sudah 7 atau 8 batang Maya merokok tanpa putus. Setiap kali rokok di tangannya habis, dia langsung menunjuk setumpuk rokok yang ada di meja. Lalu seorang lelaki di samping kiri Maya dengan setia pula membakar rokok yang terselip di bibir wanita yang usianya baru 20 tahun ini.
Tak berapa lama berselang, Maya berteriak histeris. Dia menjerit, memekakan telinga. Mulutnya terus menceracau mengatakan hal-hal yang tidak jelas dan sulit dipahami. Sesekali tangannya dia rentangkan ke atas. Namun sesaat kemudian tangan mungil berbalut T-Shirt biru itu dia rentangkan ke depan. Maya seperti melihat sesuatu dan mencoba menjelaskannya pada kami. Tapi tak seorang pun diantara kami yang memahami apa maksud Jin Sing Sing yang tengah merasuki raga Maya.
“Mungkin Maya sudah tak tahan, Jin Sing Sing-nya ingin keluar,” cetus salah seorang di antara kami.
“Iya benar, nampaknya raga Maya sudah mulai kelelahan,” Darmawan kemudian membenarkan.
Akhirnya Uda Darmawan berusaha menyadarkan Maya dan mengeluarkan Jin Sing Sing dari perempuan ini. Hanya perlu waktu beberapa detik saja, Maya sudah kembali sadar dan celingukan. Selanjutnya dia berjalan ke belakang seperti orang tak mengerti apa-apa. Dialog dengan Jin Sing Sing pun berakhir dengan selamat.
Jin memang salah satu makhluk Tuhan yang bisa dipanggil dan dimintai tolong oleh manusia. Tapi, sebaik-baiknya Jin, adalah seburuk-buruknya manusia. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari tulisan ini.

Label:

Baca Selengkapnya...

0 comments | links to this post

PERAN SUPRANATURAL DI KALANGAN PENGUSAHA OLEH: DHANY

Sejumlah pakar supranatural, baik di Jawa Timur maupun di Bali yang dihubungi Misteri, tidak memungkiri kiprah mereka dalam menunjang keberhasilan kalangan pengusaha. Khususnya pebisnis di Pulau Dewata. Seperti apa…?
Semua hal berbau supranatural, jauh lebih universal dibanding hal-hal realita. Tidak terkecuali kiprah manusia di kancah bisnis lokal maupun nasional. Pendek kata, para pelaku usaha (pengusaha) kaya yang belakangan menguasai pangsa pasar bisnis lokal dan nasional, tidak dapat dipisahkan dari andilnya supranatural melalui berbagai pirantinya.

Tetapi, watak culas dan kemunafikan pada diri manusia selalu menepiskan realitas tersebut. Mereka sengaja memberikan kesan bahwa keberhasilan bisnisnya murni sebagai buah dari ketajaman naluri sebagai seorang pengusaha dalam membaca pangsa pasar, ditunjang dengan koneksi dan network yang solid.
Yang menarik, para pengusaha di Bali yang belakangan ini mulai menarik perhatian kalangan pengusaha nasional, kian tercium adanya keterlibatan peran supranatural dalam menopang kelancaran dan kesuksesan mereka dalam menjalankan usahanya. Pengakuan ini memang tidak pernah keluar melalui celah bibir mereka, sebab mereka menganggap tabu melibatkan supranatural dalam bidang usaha, meskipun hal itu sesungguhnya saling kait mengait bahkan susah untuk dipisahkan.
Sejumlah pakar supranatural (supranaturalis), baik di Jawa Timur (Jatim) maupun di Bali yang dihubungi Misteri, tidak memungkiri kiprah mereka dalam menunjang keberhasilan kalangan pengusaha di Pulau Dewata. Salah satunya Gde Agung Jumenti, 77 tahun. Sosok yang dikenal sebagai ahli mistik dunia bisnis ini mengaku sedikitnya belasan pengusaha di sejumlah kota di Pulau Bali sudah meminta jasa supranaturalnya.
“Jasa supranatural ini terutama dalam upaya membukakan gagasan bisnis sekaligus melancarkan proses usahanya,” urai Gde Agung Jumenti.
Tidak ada bedanya dengan pengusaha di seantoro negeri, lanjut Jumenti, kebanyakan dari mereka merasa percaya diri (PD) saat usahanya dibekingi supranaturalis, terutama supranaturalis yang sudah punya pamor. Dan faktanya, masing-masing pengusaha punya supranaturalis pribadi yang selalu membekingi setiap usaha apapun yang ditekuni.
Senada dengan Gde Agung Jumenti, orang pintar asal Jawa Timur, H Bagus Abdurrahman, 60 tahun, juga membenarkan kiprah supranatural di tengah-tengah gelora bisnis di Tanah Air. Bahkan dia mengecam keras terhadap pengusaha yang memungkiri jasa supranaturalis dalam menunjang pergerakan bisnisnya.
Kenyataan semacam ini, menurut Abdurrahman, sudah berlangsung lama. Bisa jadi sejak Indonesia belum merdeka. Hanya saja, karena takut menurunkan kredibilitas intelektualnya sebagai pengusaha, maka mereka suka memungkiri kenyataan yang sesungguhnya.
“Itu hal lumrah saja, sebab mereka memang lebih bangga ketika orang memuji kesuksesan bisnisnya dengan menyebut pengusaha ulet yang punya manajemen andal daripada dihubungkan dengan hal-hal berbau supranatural,” tandasnya.
Abdurrahman menyebutkan pula, keberhasilan pengusaha tidak mutlak hanya hasil kerja keras beking supranaturalis. Idealnya, supranatural berperan sebagai penunjang motivasi dalam melancarkan manajemen. Jadi, dirinya tetap menyetujui, yang lebih tepat, kesuksesan pengusaha disebabkan andalnya manajemen yang dimotivasi kekuatan supranatural, dengan seizin Tuhan tentunya.
Pengusaha di Pulau Dewata belakangan ini mulai menunjukkan eksistensinya sebagai orang-orang kaya dari hasil kesuksesannya meniti usaha di daerahnya. Keberhasilan ini tentu saja tidak terlepas dari gaung Bali sebagai obyek wisata bertaraf internasional. Dari sekian daftar pengusaha peringkat atas di Bali, memang sebagian besar bergerak di bidang pariwisata. Hal itu karena Bali identik dengan pariwisata, sehingga industri yang paling menonjol dan bisa melahirkan orang-orang kaya baru adalah dari bisnis pariwisata ini.
Memang, akibat Tragedi Bom Bali I (12 Oktober 2002) dan Bom Bali II (1 Oktober 2005), Bali menjadi kering akan kunjungan wisatawan. Namun, dampak yang ditimbulkan hanya terasa di golongan bawah saja. Sedangkan golongan berduit dan berdeposito akan mencari usaha-usaha baru guna menambah simpanan yang berkurang gara-gara dampak tersebut. Terbukti, hanya dalam kurun waktu relative singkat, telah kembali bermunculan pengusaha-pengusaha dengan akumulasi kekayaan cukup mencengangkan.
Bukti otentiknya, hingga Desember 2007 tercatat 21 pengusaha pribumi dan pendatang yang mampu mengibarkan bendera keberhasilan dalam menggeluti kompleksitas usahanya. Berikut ini daftar nama pengusaha terkaya di Bali yang berhasil dirangkum Misteri dari sumber yang layak dipercaya:
1. I Wayan Kari, pemilik Grup Waka. Basis operasional di Bali. Bidang usaha pariwisata (Waka Land Cruise, Waka di Ume, Waka Nusa, Waka Maya, Waka
Gangga, Waka Shorea, Waka di Abian, Waka Namya, Waka Barong, Hotel Oberoi Bali dan Lombok, Waka Dive), Konsultan Manajemen, Arsitektur (Sain D Sain), transportasi (taksi, rental mobil, kapal penumpang sepat), periklanan (Matamera Advertising), dan perumahan (menggarap hotel satu grup dan knockdown house), tiga hotel di Manado, dan satu di Bintan.
2. Anak Agung Ngurah Mahendra. Basis operasional di Bali. Mendirikan PT Khrisna Kreasi pada tahun 1985 di bidang usaha produksi dan eksportir garmen, forwarder dengan tiga cabang (Ubud, Jakarta, dan Surabaya), periklanan, perdagangan, jasa gudang, money changer, teknologi informasi, dan agen wisata, perusahaannya kini berjumlah 12 buah.
3. I Gde Wiratha dan Kadek Wiranatha. Basis operasional di Bali. Mendirikan PT Gde & Kadek Brothers. Bidang usaha pariwisata (penginapan, biro perjalanan, restoran kafe, kapal pesiar, dan penerbangan). Group Bounty (Bounty Hotel, Hotel Barong, Dewi Sri Cottages, Vila Rumah Manis, Bounty Cruises, Paddy’s Cafe, Sari Club, Bounty Mall, Double Six, Gado Gado Restaurant, AJ Hackett Bungy, taksi Pan Witri dan Praja Taksi), biro perjalanan Calvin Tour & Travel, Bali Safari Rafting, Air Paradise International. Berencana membangun kembali Sari Club di Legian, Kuta, yang dibom teroris pada 12 Oktober 2002 (Bom Bali I), dan sircuit balap Formula-1 (F-1).
4. Gde Sumarjaya Linggih. Pemilik grup Ganeca. Basis operasional di Bali dan Bandung. Bidang usaha hotel (Hotel Sol Lovina berkapasitas 120 kamar, 8 villa, dan satu president suite, serta hotel di Nusa Dua), printing supplier, dan minuman anggur (Indico Wine). Kini grup Ganeca Prima membawahi 11 anak perusahaan dan membangun Bali Trade Centre.
5. ABG Satria Naradha pemilik kelompok media massa Bali Post. Basis operasional Bali dan Mataram, kini ekspansi ke Jakarta, Yogya, Bandung, Semarang, Palembang, dan Aceh. Bidang usaha surat kabar (Bali Post, Denpost, Bisnis Bali, Suara NTB, dan Prima), tabloid (Tokoh, Bali Travel News, Wiyata Mandala, dan
Lintang), radio (Swara Widya Besakih, Global Kinijani, Genta Bali, Singaraja FM), TV (Bali TV, Yogya TV, Semarang TV, Bandung TV, Palembang TV, dan Aceh TV) dengan pendapatan iklan per tahun yang menonjol sebesar Rp 198,3 miliar dari Bali Post ditambah Rp 33,3 miliar dari Bali TV.
Disamping kelima nama di atas, masih ada nama lain seperti: Putu Suryajaya, AAM Sukadhana Wendha, Putu Agus Antara, Putu Subada Kusuma, Ida Bagus Tjetana Putra, Nyoman Dana Asmara, Gede Agus Hardiawan, Desak Nyoman Suarti, Gde Ngurah Wididana alias Pak Oles, Bagus Sudibya, Tjok Oka Artha Ardhana. S, M. Sunhaji, Djuwito Tjahjadi, Joseph Theodorus Wulianadi alias Joger, dan Panudiana Kuhn.
Selain 21 orang pengusaha pribumi dan pendatang yang mengenyam kesuksesan di Bali, masih belasan pengusaha sukses lainnya yang belum sempat terdaftar, namun asset mereka rata-rata di atas Rp 5 miliar. Dari belasan pengusaha tersebut, ternyata sangat sulit membuka mulut untuk mengakui andilnya supranaturalis terhadap kesuksesan usaha yang mereka geluti.
Tetapi tidak semua pengusaha enggan untuk mengakui peran supranaturalis dalam menopang keberhasilan usahanya. Bagi pengusaha Jawa Timur, H Ariffin SE, kesuksesan bisnis mesti diusahakan secara total, mulai lahir maupun bathin.
Dijelaskan pengusaha otomotif pemilik 80 unit bus patas trayek antar kota antar propinsi tergabung dalam AKAP serta pengusaha kayu dan pabrik es ini, bahwa manajemen, koneksi dan tim network sangat besar perannya dalam mengemudikan kendaraan bisnis. Sehingga, tenaga ahli yang punya spesifikasi ilmu manajemen tertentu, punya nilai tawar tinggi saat direkrut bekerja di bidang usaha. Tetapi, kehandalan tenaga ahli masih belum lengkap tanpa dorongan bathiniah yakni doa.
“Doa disini, selain doa pribadi masing-masing, biasanya agar lebih afdol, pengusaha meminta doa kepada orang-orang tertentu yang sudah mengibarkan bendera dalam kancah supranatural,” terang Ariffin.
Menurut Ariffin, idealnya pengusaha tidak perlu malu untuk mengakui hal ini. Sebab, tidak ada kata tabu bagi pengusaha untuk melibatkan paranormal dalam kapasitas untuk mendoakan keberhasilan usaha.

Label: ,

Baca Selengkapnya...

2 comments | links to this post

SOEHARTO DAN MISTIK ANGKA-ANGKA

YUSLAM HANAFI
Misteri angka-angka Soeharto adalah 26, 27 dan 28. Perjalanan hidupnya yang warna-warni berada dalam naungan kombinasi angka-angka tersebut. Seperti apakah analisanya…?
Orang kuat yang lebih dari 32 tahun berkuasa di Indonesia itu telah tiada. Jasadnya dimakamkan di cungkup Argosari Komplek Makam Astana Giribangun. Sebuah komplek makam termuda leluhur dinasti Raja Mataram Imogiri,Yogyakarta. Terletak di ketinggian 666 meter dpl. Wilayah kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.
Selama hidup, hingga akhir hayatnya, Pak Harto meninggalkan sebuah tanggal dan angka misteri yang berurutan, yaitu: 26, 27, dan 28. Kombinasi angka-angka tersebut membawa makna tersendiri baginya. Berikut kajiannya:
Tanggal /Angka 26
- Tanggal 26/12/1947, Pak Harto menikah dengan Siti Hartinah, anak seorang Wedana di Waruyantoro, Solo.
- Angka 26, Pak Harto meresmikan RSPP Jakarta pada tanggal 6/1/1972, bila dijumlah (6+1+1+9+7+2=26). Di RSPP itulah Pak Harto dirawat dan menghembuskan nafas terakhirnya. Selama dirawat 23 hari, dari tanggal 4-27 Januari 2008, Pak Harto menghabiskan biaya sebesar Rp 1.509 miliyar.

Tanggal/Angka 27
- Rabu Kliwon tanggal 8/6/1921, adalah kelahiran Pak Harto. Bila dijumlah 8+6+1+9+2+1=27, tepat dengan tanggal kematian Pak Harto, Minggu 27 Januari.
- Angka 27, Pak Harto diangkat sebagai Komandan Brigade 10 Wehrkreise III berpangkat Letkol, tahun 1948 pada usia 27 tahun.
- Angka 27, Pak Harto menerima Supersemar, bila dijumlah 1+1+3+1+9+6+6=27.
- Tanggal 27/3/1968, MPRS melantik Pak Harto sebagai Presiden RI ke-2.
- Tanggal 27/11/1974, Pak Harto mulai mempesiapkan makam Astana Giribangun, tempat peristirahatan terakhirnya. Tanggalnya tepat dan sama dengan tanggal kematiannya 27/1/2008.
- Tanggal 27/7/1966, tragedi penyerbuan kantor PDI Jakarta. Aktivis Budiman Sujatmiko dituding sebagai dalangnya, yang kemudian divonis 13 tahun penjara. Presiden Abdurrahman Wahid memberi amnesti, akhirnya hanya 3 tahun dia menjalani hukuman di LP Cipinang. Tragedi berdarah ini menelan korban 5 orang tewas, luka-luka 149, hilang 23 orang dan 124 orang ditahan dan ditangkap.
- Angka 27, Pak Harto mengundurkan diri dari Presiden RI, setelah berkuasa selama 32 tahun, dan digantikan oleh waliknya BJ. Habibie pada tahun 1998 (21/5/1998), bila dijumlah angkanya 27. Sama dengan tanggal kematiannya.
- Tanggal 27/5/1999, Pak Harto menyerahkan surat kuasa khusus kepada Jaksa Agung, Andi Ghalib untuk menyelidiki kekayaannya di Swiss dan Austria.
- Tanggal 27/4/2005, Pak Harto melalui kuasa hukumnya siap menghadiri gugatan class action para korban tragedi 1965.
- Tanggal 27/1/2006, Pengacara Pak Harto, OC Kaligis untuk yang ketiga kalinya mengirim surat ke Presiden SBY agar menghentikan kasus Pak Harto.
- Tanggal 27/1/2008, Pak Harto meninggal dunia di RSPP Jakarta pada jam 13.10.

Tanggal/Angka 28
- Angka 28, Pak Harto meresmikan proyek controversial Taman Mini Indonesia Indah dengan biaya pada waktu itu Rp 10,5 milyiar. Proyek tersebut mendapat protes dari berbagai kalangan. Diresmikan tanggal 20/4/1975, bila dijumlah menjadi 28.
- Tanggal 28/4/1996, Ibu Tien meninggal dunia.
- Angka 28, Presiden SBY dan Ibu Ani melayat ke Pak Harto di Cendana, ditemui oleh Sigit, puteranya. Di rumah duka, SBY dan isteri berada selama 28 menit.
Di komplek Astana Giribangun, tepatnya disebelah utara sudut cungkup Argo Kembang, terpampang tulisan berisi petikan Serat Wedatama, sebuah sastra Jawa Klasik karya agung raja Solo, Mangkunegera IV, kutipannya yang artinya kurang lebih….
“Ikhlas jika kehilangan, tak akan menyesal. Menerima dengan lapang dada, jika mendapatkan kebencian dari sesame. Berbesar hati dan menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa.”
Selamat jalan Pak Harto. Semoga Allah SWT melapangkan jalanmu

Label:

Baca Selengkapnya...

0 comments | links to this post

SOEHARTO DAN MISTIS KEJAWEN

GOENAWAN WE
Soeharto adalah manusia Kejawen yang percaya akan kekuasaan Tuhan sebagai Dzat Yang Tertinggi. Cara pandang hidup orang Jawa itu penuh simbol dan mitos….
Menurut kalangan pinisepuh Kejawen, berbagai bencana akhir Desember 2007 hingga awal 2008, seperti meluapnya Bengawan Solo, amukan puting beliung, termasuk tanah longsor di Karanganyar, merupakan pertanda sambutan alam untuk kepulangan Sang Raja Gung Binathoro, HM. Soeharto. Ya, orang kuat zaman Orde Baru ini tak kuat dengan usia tua. Akhirnya, dia pun berpulang pada Minggu, 27 Januari, saat langit terang benderang.
Sebagai manusia Jawa, Soeharto memang tak bisa lepas dari olah batin dan olah rasa. Menurut salah seorang paranormal terkenal dari Solo, ilmu kanuragan yang dimiliki Soeharto banyak berasal dari guru spiritualnya sekaligus pamannya yang bernama Ndoro Daryatmo yang berasal dari Wonogiri. Seoharto menimba ilmu pada sang paman sejak masih berpangkat Kolonel.

Ndoro Daryatmo ini abdi dalem Pura Mangkunegaran yang menjabat sebagai Ulu Ulu Pengairan di Wonogiri. Ilmu kanuragan yang diwariskan Ndoro Daryatmo, konon salah satunya berupa rapal milik Patih Kudonowarso, panglima perang Pangeran Sambernyowo. Rapalan itu berupa kekuatan gaib yang bisa digunakan untuk kekuatan dan kederajatan. Namun rapalan itu bisa dihilangkan bila pemiliknya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pak Harto adalah manusia Kejawen yang percaya akan kekuasaan Tuhan sebagai Dzat Yang Tertinggi. Cara pandang hidup orang Jawa itu penuh simbol dan mitos. Karena itu untuk memahami wong Jowo, kita harus memahami simbil-simbol yang melingkupinya.
Beberapa kalangan kasepuhan berpendapat, kalau Pak Harto itu adalah ‘titisan’ dari Panembahan Senopati, pendiri Dinasti Mataram. Kebetulan gaya kepemimpinan beliau selama memerintah negeri RI ini memang hampir sama.
Senopati Ingalogo Ngabdulrachman Sayidin Panatagomo berpendapat, bahwa dalam segala persoalan maka raja memiliki kekuasaan tertinggi sehingga tergambarkan kekuasaan itu sentralistik, tidak terbagi-bagi dan merupakan kebulatan yang tunggal serta tiada yang mampu menandingi (endi ana surya-surya kembar: mana ada matahari kembar), berartt tidak membenarkan adanya kekuasaan lain yang dapat menjadi saingannya. Begitu pula halnya dengan Soeharto.
Sejak dulu, legitimasi kekuasaan di Jawa dihubungkan dengan mobilitas “mistis” politik yang dialami oleh elit Jawa masa lampau. Dan Panembahan Senopati merupakan tokoh yang berhasil membuat anyaman mistik dan politik yang keteladanannya memandu alam pikiran Jawa.
Dalam pewayangan hanya Bima yang bisa bertemu Dewa Ruci. Dalam kasanah kejawen hanya Sunan Kalijaga dan Panembahan Senopati. Sedang dalam Nusantara dipercaya Ir. Soekarno dan HM Soeharto, banyak yang meyanini telah bertemu dengan Kencono Wungu.
Hakikat politik dalam budaya Jawa adalah kekuasaan. Jadi, berpolitik dengan menggunakan mistik pun sebagai upaya meraih kekuasaan. Dan pengaruh mistik kejawen dalam dunia politik menarik perhatian dalam era kekuasaan Presiden Soeharto.
Pada waktu itu, Presiden sempat mengingatkan tentang bahaya praktek ilmu hitam. Waktu itu ada kekhawatiran munculnya kebatinan di Jawa yang mengarah pada klenik sentries.
Kehadiran mistk kejawen tetap diakui sebagai sebuah fenomena budaya. Mistik Kejawen yang kental dengan kebatinan dan kepercayaan, menjadi semakin subur ketika Golkar berjaya di tahun 1970-an.
Di bawah dominasi Golkar waktu itu, mistik kejawen sebagai ekspresi religius yang sah diperkuat. Akhirnya di dunia politik Orba keberadaan mistik kejawen diakui di bawah Depdikbud, ada departemen yang mengurusi aliran kepercayaan.
Menurut Suwardi Endraswara melalui mistik kejawen, di era Orba sistem Bapakisme telah melahirkan budaya ‘kolusi’, ‘upeti’, dan mempertahankan status quo. Ritual mistik kejawen seringkali menjadi landasan spiritual kekuasaan untuk mendewakan status quo.
Tak sedikit ritual mistik pelaku politik untuk mendapatkan kesaktian. Kesaktian identik dengan kekuasaan. Melalui tirani dan kultus individu, ibarat raja yang tak terkalahkan karena telah menjalankan mistik kejawen, sering tergelincir pada sikap asu gede menang kerahe.
Hanya sedikit yang tahu jika Pak Harto sesungguhnya memang menjalin hubungan dengan Sabdopalon, bukan dengan Semar (Pranoto, 2000:177). Hubungan mistis tersebut sering diwujudkan melalui sesaji kembang menyan. Ini terjadi sebagai manisfestasi pemujaan mistis terhadap roh leluhur, agar pemerintahan pada masanya langgeng.
Hikayat Semar yang menjadi Sabdopalon memang hanya diurai di Serat Darmogandul. Tokoh ini sempat berkelana, meninggalkan Majapahit, hingga sampai di Gunung Srandil, Cilacap, Jawa Tengah.
Dahulu, setiap malam satu Suro, yang datang ke situ akan ditemui oleh Ki Lengkung Kusumo yang saat trance dianggap dapat memberikan isyarat sesuatu yang bakal terjadi. Sayangnya, Ki Lengkung bukan Semar, melainkan hanya Petruk Kantong Bolong.
Sedang Semar di Srandil, yang oleh Soeharto pernah dihormatinya atas perintah guru spiritualnya Romo Diyat dari Semarang, masih misterius. Apakah Semar ini yang mampu memberikan Kembang Wijayakusuma, sehingga kekuasaan Pak Harto sulit dipatahkan?
Memang diakui banyak kalangan, kalau Soeharto sangat mengagumi tokoh Semar, bahkan sering mengidentikkan dirinya dengan Semar sebagai pengayom Nusantara. Tampaknya Pak Harto merupakan ‘titah’ pilihan yang telah menguasai jagad kosmis. Sehingga dia bisa berdialog dengan tokoh-tokoh gaib yang super melalui asah diri maupun bimbingan guru spiritualnya.
Dengan luasnya cakupan wawasan Soeharto tentang jagad alus maupun jagad kasad, masih banyak yang mengomentarinya dengan ‘tetek bengek’ pendapat yang tidak ada patokannya.

Label:

Baca Selengkapnya...

0 comments | links to this post

WASIAT GAIB PAK HARTO

IDRIS NAWAWI
Seperti apakah wasiat gaib itu? Siapa pula yang harus melaksanakannya? Dan, bagaimana dengan penilaian para kyai khosois yang mendapat kabar baik dari HM. Soeharto, beberapa saat setelah almarhum meninggal dunia…?
Minggu (27/01) siang nan cerah itu dia berpulang ke hadapan Sang Maha Pemberi Kehidupan. Pada usianya yang 87 tahun Juni nanti. K0epulangannya tidak hanya meninggalkan enam anak dan belasan orang cucu. Tapi, Pak Harto juga meninggalkan berbagai macam kontroversi ikhwal dirinya di masyarakat.
Begitu banyak orang yang memujanya, namun tak sedikit pula yang mencelanya. Banyak pula jasanya bagi negeri ini, tapi tak sedikit pula celanya ketika dia berkuasa. Sang Jenderal Besar ini memang punya peran sejati yang seakan tak pernah tuntas terjawab. Bahkan hingga ajal menjemputnya.

Begitulah sosok HM. Soeharto yang selama 32 tahun menggenggam republik dalam kekuasaannya. Selama itu pula nyaris tak ada cela pada dirinya. Semua tertutup begitu rapat. Penulis Belanda, O.G. Roeder, menyebutnya The Smiling General, jendral yang selalu tersenyum. Seperti kebanyakan orang Jawa, paras Soeharto memang selalu nampak tersenyum, bahkan ketika dia sedang menahan amarah sekalipun. Inilah salah satu kelebihannya.
Lengsernya Soeharto pada 21 Mei 1998 seakan menjadi sebuah pertanda yang sangat buruk. Berbagai hujatan dan catatan kelam pemerintahannya meradang bagai kanker stadium empat. Hal ini seakan-akan mengubur semua jasa-jasanya selama memimpin Orde Baru.
Mengiringi kejatuhannya yang begitu dingin, pergunjingan tentang berapa banyak harta anak-anak Soeharto seakan-akan menjadi menu harian bagi rakyat negeri ini. Banyak yang kesal dan menjadikan Soeharto sebagai bulan-bulanan, Belum lagi soal pelanggaran HAM, korupsi dana yayasan, juga sederat soal lainnya, yang nyata menuding Soeharto sebagai dalang di balik semua kebobrokan itu.
Semua itu menjadi masalah hukum yang sulit untuk diselesaikan. Kontroversi pun terus saja berlanjut. Bahkan, hingga malaikat maut menjemputnya ke haribaan Illahi.
Warna-warni perjuangannya dalam membangun bangsa dan negara, terkikis di penghujung hayatnya. Bahkan di saat, detik-detik terakhir tutup usia, pro dan kontra terus mengalir silih berganti.
Kini, dengan meninggalnya HM. Soeharto, apa masalah hukumnya, khususnya hukum perdata, apa akan berakhir pula? Tentu jawabannya adalah tidak. Masalah ini akan terus mengakar tanpa pasri di titik mana ujungnya akan berakhir.
Tulisan ini, sesungguhnya tidak bermaksud mengkaji mengenai almarhum Pak Harto dari sisi fisik atau lahiriyah. Lewat tulisan ini, saya (Penulis) semata-mata hanya ingin membeberkan sebuah perkara berdimensi gaib, yang memang erat hubungannya dengan almarhum. Khususnya, mengenai keberadaan “pusaka” gaibnya. Karena itulah, saya memberanikan diri memberi judul tulisan ini dengan “Wasiat Gaib Almarhum Pak Harto.”
Berupa apakah pusaka gaib tersebut? Siapa pula yang harus melaksanakan wasiat gaib almarhum? Dan, bagaimana dengan penilaian para kyai khosois sendiri yang mendapat kabar baik dari HM. Soeharto, beberapa saat setelah almarhum meninggal dunia?
Tanpa bermaksud menebar sensasi, inilah kisah sesungguhnya yang saya alami selama beberapa waktu, baik sesudah maupun setelah wafatnya Pak Harto….
Tepatnya selasa dini hari, 29 Januari 2008, dua hari setelah HM. Soeharto meninggal dunia, saya bermimpi bertemu dengan beliau di sebuah istana yang sangat indah. Di hadapan saya, wajah Pak Harto tampak bercahaya. Begitu pun dengan koko putih yang dikenakannya juga benderang bagaikan pualam. Pak Harto terus tersenyum sambil melemparkan beberapa beras mutiara untuk puluhan ayam yang semuanya berwarna putih bersih.
Sesudah itu, Pak Harto mendekatiku dan berucap, “Ya Salam…Ya Salam.. An dzoh dotil qubri wal malaikatani biidznillahi. Addarojatul a’la mindarojatil qubri…amin (sesungguhnya aku selamat…selamat dari impitan bumi yang sangat mengerikan, selamat pula dari pertanyaan kedua malaikat ahli kubur…semua ini karena kefadholan dari Allah SWT. Selamatnya aku dari siksa kubur, semua karena rahmat yang diberikan oleh manusia hidup atas hujatannya hingga dosa yang kupikul selama hidup di dunia, perlahan-lahan sirna…amin).”
Sambil masih tersenyum, Pak Harto tambah mendekatiku, lalu membuka telapak tangannya. Pada telapak tangan itulah saya melihat ada dua butir batu permata yang bersinar merah benderang, sehingga aku meyakinya sebagai Merah Delima. Disamping itu juga ada satu botol minyak Kasturi, dan sebutir batu hitam berurat emas.
Lalu dengan isyarat tangannya, Pak Harto menerjemahkan makna dari benda-benda tersebut. Sambil menunjuk salah seorang anak, yaitu bocah kecil yatim, juga puluhan ayam yang berada di hadapannya. Saya sendiri dapat menangkap isyarat tersebut sebagai berikut :
“Semua benda ini adalah milikku, berikanlah kepada anakku ini (salah satu anaknya), tapi bila engkau ragu kepadanya, manfaatkanlah untuk membuat ternak ayam yang hasilnya bisa dibagikan kepada anak yatim piatu.”
Begitulah mimpi mengesankan yang saya alami. Demi menjelaskan makna dari kedalaman mimpi tersebut, Insya Allah saya akan membeberkan rahasia prihal benda-benda yang ada pada tangan Pak Harto itu di penghujung tulisan ini nanti.
***
Pagi hari setelah mengalami mimpi yang bagi saya penuh kerahasiaan itu, maka saya langsung menanyakan perihal mimpi tersebut kepada Sang Guru. Aneh, beliau malam menjawabnya seperti ini, “Sama saja! Aku juga mimpi didatangi oleh HM. Soeharto, tadi malam. Beliau juga mengabarkan telah mendapat rahmat dari sedakohnya di alam dunia.”
Yang tak kalah aneh, di siang hari yang sama, ketika saya masih sowan ke padepokan guru, di rumah Ibuku kedatangan empat tamu istimewa. Mereka adalah para insan khosois dari beberapa daerah. Di antaranya adalah Saidah Ruqoiyah dan Jalaliyatal Maryam. Dua orang ini ahli bertapa dan sudah sejak usia muda mereka telah meninggalkan kesenangan duniawiyah (waro’i) untuk memilih hidup sebagai mursyid. Sedangkan yang dua orang lagi adalah Habib Luthfi dan Habib Thohir, yang merupakan ulama Thoriqoh Kadiriyah.
Menurut cerita Ibuku, di hadapan dirinya keempat tamu istimewa ini saling bertukar cerita, bahwa tadi malam mereka semua bermimpi di datangi oleh sosok HM. Soeharto. Seperti halnya penuturan dari Saidah Ruqoiyah dan Habib Luthfi, keduanya bermimpi sama, yaitu ditemui HM. Soeharto yang berkata dengan seulas senyum yang sangat menawan.
“Aku selamat karena doa dari para Ahlillah sewaktu kuberdoa di dalam Baitullah (Ka’bah).” Demikian kata Habib Luthfi seperti disampaikan Ibu pada saya.
Sedangkan menurut Jalaliyatal Maryam, di dalam mimpinya, HM. Soeharto berkata begini, “Maha Besar Allah dengan segala kefadholanNya, sesungguhnya aku selamat karena doa para anak yatim yang pernah kuberikan kesenangan kepada mereka.”
Menurut Habib Thohir, dalam mimpinya, HM. Soeharto berkata dengan mimik wajah penuh keriangan, “Demi surga yang kuperoleh, Demi Allah aku haturkan atas doa para ulama dan masyarakat luas yang tulus ikhlas mendoakan keselamatanku.”
Insan-insan khosois itu sangat saya yakini tidak akan berbohong dengan kesaksiannya. Pastilah mereka memang telah mengalami mimpi itu.
Di hari yang sama, sesuai dengan anjuran guru, menjelang senja saya memutuskan untuk ziarah ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Aneh, di sana telah berkumpul puluhan ulama. Mereka juga sedang menceritakan mimpinya masing-masing tentang pertemuan dengan HM. Soeharto, yang mengabarkan keselamatan dirinya dari siksa kubur.
Dengan rakzim saya menyimak kisah-kisah mereka. Tapi saya tidak berani bertanya apa pun. Wallahu ‘alam bissawab! Biarlah kabar lewat mimpi itu menjadi rahasiaNya semata, yang tidak bisa diukur dengan akal manusia.
Memang, jauh-jauh hari sebelum mantan orang nomor satu Indonesia itu dipanggil ke hadirat Allah SWT, para ulama khosois ahli Jawa, sudah mengetahui lewat hawatif batin yang mereka terima dari undangan Kanjeng Sunan Kalijaga.
Disebutkan, undangan Kanjeng Sunan Kalijaga itu berisi ajakan kepada seluruh para khosois untuk datang dalam acara perhelatan akbar di I(stana Pakungwati Kasepuhan Cirebon. Tepatnya acara berlangsung sekaitan dengan momen menyambut tahun baru Islam 1 Muharram, 1429 H. Acara ini, diprakarsai langsung oleh Sunan Gunung Jati dan Mbah Kuwu Cakra Buana.
Dalam pandangan para khosois, perhelatan akbar seperti ini sudah biasa mereka lihat. Apalagi dalam acara mensyukuri datangnya tahun baru Islam yang penuh makna sejarah. Di samping itu, semua makhluk dari beragam alam wajib menghormati tahun baru Islam, karena rahmat yang terkandung di dalamnya. Tahun baru Islam sendiri adalah simbol dari permulaan kisah dari semua kisah. Seperti di saat Allah SWT menciptakan langit, bumi, hujan, hari kiamat, rahmat, rizki, dan lain sebagainya. Semuanya itu di tahun baru Islam.
Juga pengangkatan derajat Nabiyullah Idris as masuk surga Majazi, Nabiyullah Adam as diterima tobatnya setelah memakan buah Khuldi. Nabiyullah Ibrahim as selamat dari pembakaran, Nabiyullah Yusuf as dimerdekakan dari status budak, Nabiyullah Yunus as selamat dari ikan hiu, Nabiyullah Ayyub as sembuh dari penyakit kulitnya, Nabiyulah Ya’kub as bisa melihat kembali dari kebutaan matanya, dan masih banyak peristiwa lainnya.
Karena itulah adalah wajar bila bangsa Waliyullah dari Alamul Barry dan Alamul Thurrob mensyukurinya.
Undangan musyawarak tersebut untuk bangsa manusia juga disampaikan secara langsung oleh Kanjeng Sunan Kali Jaga. Sekaiatan dengan ini, maka ada hal-hal yang perlu dicermati oleh semua orang, tentang sebuah misteri yang belum terungkap sepenuhnya.
Tiga hari sebelum malam pergantian tahun baru Islam, para khosois dari berbagai daerah mulai berdatangan dan berkumpul di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon. Tak hanya itu. sebelas paranormal Jalaliyah yang biasanya tidak pernah ikut-ikutan, juga datang satu demi satu untuk menghadiri perhelatan keramat berdimensi gab tersebut. Kesebelas orang paranormal dimaksud adalah orang-orang pilihan yang sangat dipercaya oleh penguasa Ratu Pantai Selatan, Mereka semuanya hidup dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga mereka sama sekali tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.
Jauh sebelumnya, saya sendiri mengenal mereka di beberapa tempat terpisah. Sebagai contoh, Ki Panjalu dan muridnya Ki Rosyid, bertemu denganku saat ziarah di Pasarean Syekh Dukuh Jeruk Brebes. Sedangkan Ki Ma’ani dan Ki Sutejo, bertemu dengan saya pada saat kami sama-sama berada di Paserean Ki Muhyi, Pamijahan, Tasikmalaya. Sementara Ki Arwani, Mbah Dullah, Ki Sabrawi, dan Ki Pejo, bertemu dengan saya pada saat saya tirakat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Yang lainnya adalah Ki Mas’ud, bertemu denganku di Pesarean Nyi Mas Gandasari, Panguragan. Mbah Qoiyyu bertemu dengan saya di Paserean Pangeran Papak, Garut. Dan yang terakhir adalah Gus Bur,. Saya bertemu dengannya saat tirakat di Paserean Habib Keling di Indramayu.
Dalam hal sifat, kesebelas paranormal Jalaliyah yang telah saya sebutkan satu persatu namanya, memang tergolong tidaklah umum. Mereka semua berperilaku seperti orang kurang waras. Namun, dalam hal oleh kebatinan dan kebersihan hati, merekalah ahlinya.
Lewat pendalaman batin yang saya miliki, malam itu saya melihat Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, telah dipadati oleh para ahli khosis dalam menyambut datangnya tahun baru Islam. Mereka semua telah memenuhi kreteria panggilan sang Sunan Kali Jaga dalam menembus dimensi lain, guna menghadiri perhelatan akbar di Alamul Barri bangsa wali.
Di hadapan aula besar istana bangsa wali, semua berkumpul mendengarkan tausiyah dari Kanjeng Sunan Gunung Jati. Di antara tausiyahnya tersebut, sang Sunan berkata, “Doakanlah Harto dan bantulah untuk mencabuti benda yang bersarang di tubuhnya. Sesungguhnya Harto akan menjadi rekan kita sebentar lagi (meninggal dunia).
Perlu kiranya saya tegaskan, yang dimaksud tujuh benda adalah: Bunga Wijaya Kusuma, Bunga Teratai, Bunga Melati, Batu Yaman Ampal, Batu Dampar Emas, dan 2 buah pedang. Bila Allah SWT masih menghendaki Pak Harto untuk tetap hidup, niscaya ketiga bunga tersebut sebagai tanda kehidupannya. Tapi, bila Allah SWT berkehendak ingin mengambil nyawanya, niscaya batu-batu tadi yang menjadi tandanya. “Dan bila Allah SWT berkehendak memberi peringatan terlebih dahulu, maka pedang inilah yang menjadi kuncinya.” Demikian penegasan Sunan Gunung Jati.
Setelah mendengar sembilan tausiyah yang dibeberkan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati, maka kami semua shalat berjamaah, yang kemudian diteruskan dengan zikir bersama.
Saat usai berdoa yang dipimpin oleh Mbah Kuwu Cakra Buana, tiba-tiba seberkas sinar kuning keemasan dan merah menyala melesat mengitari semua jamaah yang ada di majelis tersebut. Sesaat kemudian, salah satu sinar, yaitu sinar kuning emas, jatuh menukik. Tepatnya jatuh di pangkuan Ki Panjalu, salah seorang dari sebelas paranormal Jalalliyah yang turut hadir dalam perhelatan tersebut.
Sementara itu, sinar yang merah menyala melesat terbang ke arah barat, tepatnya ke Banten dan dikatakan tepat jatuh di atas cungkup Pesarean Sultan Hasanuddin, anak dari Sunan Gunung Jati.
Dari kejadian ini, semua yang hadir paham dengan apa yang dimaksud. Sinar kening keemas dan merah menyala itu adalah Batu Yaman Ampal dan Batu Dampar Emas. Maka, dengan melesatnya kedua batu tersebut, ini jelas merupakan pertanda akan berakhirnya usia HM. Soeharto.
Intinya, rahasia dari undangan Sunan Gunung Jati kali ini adalah pemberitahuan akan wafatnya sosok pemimpin besar HM. Soeharto. Makanya, dengan mengikuti langsung perhelatan tersebut, jauh-jauh hari saya sudah menuliskan ramalan lewat sebuah judul “Perjalanan Bencana Tahun 2008; Edisi 435). Dalam kajian tersebut saya menulis, “Nama-nama terkenal dari seseorang, baik yang ada dalam lingkup orang kuat maupun selebritis kondang, salah satuya, di tahun ini akan tiada.” Sesungguhnya yang saya maksudkan adalah Pak Harto. Hanya saja, saya sengaja membuatnya lebih “bercabang”, sebab saya tidak mau dituding mendahului Tuhan.
Kembali ke cerita semula. Seusai perhelatan akbar tersebut, separuh dari bangsa manusia yang hadir dalam perhelatan ini, mulai berusaha mendekati Ki Panjalu. Seperti saya katakan, bahwa sinar berwarna kuning keemasan itu jatuh ke pangkuan Ki Panjalu. Dan ternyata sinar itu adalah berupa mustika yang disebut sebagai Dampar Emas.
Semua yang hadir dalam perhelatan itu ingin ngalap barokah dari karomah mustika yang sangat langka tersebut. Namun karena sifat nyelenehnya, Ki Panjalu malah berkelakar seenaknya, “Iki watu Pak Harto, kowe kabeh ora entuk bagian mung aku lan siji santriku. Iki watu arep tak ijoli ayam sing akeh, mben manganku saban dinane karo lauk ayam (Ini batu kepunyaan Pak Harto, kamu semua tidak dapat bagian kecuali aku dan satu santriku. Ini batu mau saya tukar dengan ayam yang banyak (bikin ternak ayam) agar setiap hari aku selalu makan dengan lauk ayam.”
Setelah berkata demikian, guruku berbisik di telingaku, “Coba kau tawar batu ini semampu yang kau punya. Dan kalau bisa, batu itu harus jadi milikmu sebagai jalan derajat di dunia.”
Setelah mendapatkan titah demikian, dengan rasa setengah hati, karena malu masih banyaknya orang di sekitar kami, saya memberanikan diri menawar batu tersebut. Saya pun berbisik ke telinga Ki Panjalu, berniay mengajukan penawaran.
Anehnya, belum lagi saya ngomong, Ki Panjalu sudah berbicara dengan suara keras, “Kowe arep tuku batu iki? Piro? (Kamu mau membeli batu ini? Berapa?”
Mendengar suara Ki Panjalu yang jelas ditujukan padaku, maka membuat semua orang disitu tertawa terbahak-bahak. Tak ayal lagi, wajah saya pun langsung merah padam karenanya.
Untungnya, saya masih punya sedikit keberanian. Telanjur malu, dengan suara agak lancing saya pun mengajukan harga penawaran kepada Ki Panjalu, meski disaksikan oleh orang banyak.
“Maaf, Ki! Aku berani bayar 12 juta untuk batu itu,” kataku dengan suara agak lantang.
Sambil tertawa jenaka, Ki Panjalu berujar, “Iku durung entuk ayam sekandang, Cung?” (Itu belum dapat ayam satu kandang, Cung). Untuk kedua kalinya saya jadi malu sendiri.
Tawar menawar ini akhirnya memang gagal, sebab Ki Panjalu selalu saja membawanya kea rah percandaan. Tapi Alhamdulillah, Ki Panjalu mau memberikan karomah Mustika Dampar Emas lewat sarana air putih, sehingga semua yang hadir di situ mendapatkan karomah dari mustika yang sangat langka tersebut.
Tak berapa lama kemudian, sang guru mengajakku segera pulang. Sebelum meninggalkan tempat itu, satu persatu saya menjabat dan mencium tangan mereka. Ketika saya bersalaman dengan Ki Panjalu, beliau berbisik di telingaku, “Iki aku njaluk tolong karo kowe, Cung! Gawe no’ mban kang apik sak durunge dijolih karo ayam, aku pengen ngenggo sih. Gelem, yo? (Ini aku minta tolong sama kamu, bikinlah cincin yang bagus. Sebelum batu ini ditukar ayam, aku ingin memakainya dulu. Mau ya?)” Sambil berkata demikian Ki Panjalu menyerahkan batu hitam berurat emas itu.
Saya pun mengangguk tanda setuju,
“Pirang dina iki dadine, mben aku iso nunggu neng kene (Berapa hari cincin ini jadinya? Agar aku bisa menunggu di sini)?” Tanya Ki Panjalu/
Akhirnya, saya memberikan kesepakatan waktu satu minggu.
Di luar dugaan saya, ternyata tiga hari sejak pemesaran, cincin sudah jadi dan langsung di antar ke rumah saya. Wow, betapa indahnya. Tepat pada hari yang ke tujuh, atau seminggu, sesuai dengan perjanjian, saya langsung ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dengan masud ingin memberikan cincin Mustika Dampar Emas yang sudah jadi kepada pemiliknya, Ki Panjalu.
Hampir seharian saya menunggu Ki Panjalu, namun sosok eksentrik itu tidak juga nampak batang hidungnya. Yang datang justeru Mbah Qoiyyu, yang langsung memberikan secarik surat kepadaku.
“Cung, tiga hari sepulang dari sini, murid Ki Panjalu datang ke sini dan memberikan surat ini untukmu. Muridnya itu mengabarkan bahwa Ki Panjalu telah meninggal dunia secara mendadak. Kini beliau dimakamkan di daerah Cikeas, Bogor!” Beri tahu Mbah Qoiyyu yang memang sering tirakat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Innalillahi wa inna ilahi rajiun! Saya sampai tertegun dan seolah tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Mbah Qoiyyu.
Lalu, saya teringat dengan cincin Mustika Dampar Emas kepunyaan Ki Panjalu, yang sudah selesai saya buatkan ikatannya. “Mbah Qoiyyu, tolong serahkan cincin ini pada muridnya Ki Panjalu, karena sesungguhnya dialah yang berhak mewarisnya,” pintaku.
Dengan seulas senyum penuh makna, Mbah Qoiyyu malah berkata begini, “Bukalah surat itu, semoga beliau (Ki Panjalu) sudah menjabarkannya.”
Dengan hati berdebar-debar, saya akhirnya membuka surat pemberian Ki Panjalu, yang ternyata menggunakan huruf Arab itu. Isinya sebagai berikut;
“Assalammu’alaikum wr wb. Cung, titip kiwatu ning rong bagian. Ternak lan rosyid. Wassalam. Panjalu (Assalammu’alaikum wr wb. Mas, saya titip batu ini untuk dua hal, satu ternak, dua petunjuk).”
Jika ditafsirkan, ternak sama dengan syariat lahir, sedangkan petunjuk sama dengan buah dari kemuliaan.
Begitulah. Sepulang dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa, saya langsung masuk kamar dan terus mendoakan Ki Panjalu dengan berkirim Ummul Qur’an ke hadirat Illahi Rabbi. Ya, semoga Ki Panjalu diterima di sisiNya. Amin.
Malam harinya, saya masih larut dalam doa dan mengirim puji-pujian, dalam kesedihan untuk terus mendoakan Ki Panjalu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara benda jatuh dari atas langit-langit kamar. Subhanallah! Di depan Misteri telah tergeletak satu buah delima merah ranum, dan sebongkah kantong kecil air yang tertutup bahan kulit yang sangat tipis.
Di saat buah delima itu saya bua, ternyata di dalamnya ada dua biji batu berwarna merah sebesar biji delima. Dan di saat kantong air tadi saya buka, ternyata di dalamnya terdapat wadah kecil berisi minyak yang aromanya wangi semerbak.
“Subhanallah! Apa maksud semua ini?” Batin saya.
Setelah kemangkatan Pak Harto pada Minggu 27 Januari lalu, saya mimpi bertemu dengan Ki Panjalu yang datang bersama Pak Harto. Akhirnya, saya baru paham bahwa semua benda tersebut ternyata adalah kepunyaan dari Bapak HM. Soeharto. Dan lewat amanatnya, saya hanya sekedar menyampaikan bahwa benda-benda tersebut boleh diambil sebelum 41 hari sejak meninggalnya HM. Soeharto, yaitu oleh anak tertuanya.
Sesuai dengan wasiat gaib yang saya peroleh, bila lebih dari waktu yang telah ditentukan, maka saya mohon maaf kepada seluruh zuriat almarhum Pak Harto, bahwa barang-barang itu akan dihibahkan kepada pihak lain, sebagaimana amanat dari Bapak HM. Soeharto sendiri.
Begitulah wasiat gaib yang saya peroleh. Perlu saya tegaskan sekali lagi: SAYA TIDAK BERMAKSUD MENEBAR SENSASI. Karena itu, bagi yang berseberangan dengan keyakinan ini, maka saya mohon maaf atas tulisan ini. Tujuan saya semata-mata hanya ingin menyampaikan amanat almarhum Pak Harto.
Mengapa saya tidak menyampaikannya secara langsung kepada pihak keluarga almarhum? Dengan penuh kerendahan hati saya katakan, bahwa saya tidak mungkin bisa menemui keluarganya karena sudah barang tentu mereka juga tidak mungkin mengenal saya.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Semoga hal ini menjadi sebuah bukti kecintaan saya terhadap almarhum HM. Soeharto. Kepada seluruh zuriatnya, saya mohon dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya apabila ada kesalahan kata-kata dalam tulisan ini. Terima kasih.

Label:

Baca Selengkapnya...

1 comments | links to this post

TRISULA KARARA REKSA


IDRIS NAWAWI
Apa yang disebut sebagai Trisula Karara Reksa merupakan sebuah pusaka sakti yang tersimpan di Istana laut Kidul. Benarkah pusaka ini banyak diburu oleh kalangan paranormal? Dan, seperti apa pula kisahnya…?
Pengantar:
Tulisan bersambung ini sama sekali tak ada unsur rekayasa di dalamnya. Sang penulis menyebut tulisan ini sebagai suatu pengalaman pribadi yang tak pernah bisa dilupakannya. Seperti apakah urutan kisahnya? Simak saja dari awal hingga akhir. Selamat mengikuti…!
Tulisan berikut ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Rahasia Kekuatan Batu merah Delima” (Lihat Misteri No. 0421). Disebutkan oleh para gaib yang berhubungan dengan Misteri, bahwa: “Pada tahun 2009 nanti, saat kursi pemimpin negara Indonesia sedang mulai diperebutkan, maka pada saat itu pula seluruh kekuatan dari benda bertuah akan menjadi perioritas utama. Namun, hanya ada satu pusaka pilih tanding yang sedang diburu oleh seluruh paranormal sebagai raja dari semua pemimpin gaib. Pusaka tersebut adalah Trisula Karara Reksa.”
Seperti apakah sesungguhnya yang disebut sebagai pusaka Trisula Karara Reksa tersebut?

Menyelusuri keberadaan pusaka yang satu ini memang tidaklah mudah, melainkan sebuah pekerjaan yang teramat sulit. Mengapa demikian? Sekedar informasi, pusaka ini memang berada di dasar Laut Kidul. Tepatnya di istana agung Kanjeng Ibu Ratu Laut Kidul. Karena begitu istimewanya, Trisula Karara Reksa ditempatkan di dalam apa yang disebut sebagai “ruangan khusus tingkat ke lima.”
Pusaka ini juga sebagai bentuk dari kebesaran kursi para pembesar istana bawah laut, disamping juga kebesaran para raja Majapahit dan Mataram. Bahkan dalam dunia pawayangan, pusaka ini digambarkan pada gunungan dengan bentuk menyerupai rumpun padi atau bentuk rambut bergerigi. Hal ini berarti lambang dari kemakmuran, pangkat, kesuksesan, kedudukan dan kepercayaan seluruh wadyabala atau lapisan masyarakat luas.
Bercerita tentang karomah atau kesaktian pusaka Trisula Karara Reksa, tentu sudah tidak diragukan lagi sebagai tameng dari berbagai ilmu santet, teluh dan sebagainya. Bahkan dalam hal memuluskan suatu jabatan, Syekh Abdul Karim, Benda Kerep (kini sudah alamarhum) yang semasa hidupnya menjadi guru besar para Habaib se-Indonesia disebut-sebut pula sebagai orang yang tahu secara persis mengenai keampuhan pusaka ini.
“Pada masa itu, seorang intelektualis bernama Ir. Soekarno, sebelum menjadi pemimpin negara, meminta pendapat pada Kyai yang satu ini tentang sebuah jalan menuju derajat mulia di tengah banyaknya manusia yang mengharapkan.” Demikian kisah sebuah sumber.
Lalu Kyai tersebut (maksudnya Syekh Abdul Karim) berkata; “Dunia adalah derajat dan derajat adanya di dunia. Keberkahan Allah SWT yang punya, namun harus dicari pangkal ujungnya. Segala upaya ada jalannya, carilah karomah yang bersifat raja.”
Dengan penghayatan seksama, Ir. Soekarno lalu bertanya, “Dimana gerangan harus aku cari suatu karomah bersifat raja?”
Sang Kyai menjawabnya, “Bersatulah lahir dan batinmu untuk sejalan beriringan, sesungguhnya derajat duniawiyah banyak dimiliki makhluk kasat mata, pintar-pintarlah dalam mencari derajat, karena di tengah derajat akan ada tipu muslihat. Ambillah pusaka raja TRISULA KARARA REKSA. Mintalah izin dari sang murid Nabi Khidir AS (yang dimaksud dengan murid di sini adalah Kanjeng Ibu Ratu Kidul), sebab sesungguhnya karomah raja (pusaka raja) ada padanya.”
Dikisahkan, setelah itu Ir. Soekarno pamit diri dari hadapan sang Kyai untuk menjalankan suatu perintah mulia lewat jalan bertirakat. Dalam suatu kontemplasinya, Ir. Soekarno mendapat suatu wangsit untuk bertirakat/bersemedi di puncak Gunung Penjalu, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Lewat suatu perjalanan, Bung Karno akhirnya tiba di puncak gunung tersebut, tepatnya diatas puncak bebatuan yang bernama Harja Mukti atau Pataka Harja. Dengan berbagai amalan dan petunjuk yang diberikan oleh Syekh Abdul Karim, mulailah Bung Karno melakukan tirakatnya. Tepat hari ke-41 dari semedinya di puncak Gunung Penjalu, akhirnya Bung Karno mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu pusaka TRISULA KARARA REKSA, yang langsung diberikan oleh Kanjeng Ibu Ratu Kidul sendiri.
Demikianlah sepenggal kisah perjalanan gaib Bung Karno dalam mendapatkan pusaka langka tersebut. Nah, bercerita tentang pusaka Trisula Karara Reksa, Misteri dalam hal ini mempunyai kisah tersendiri. Berikut Misteri tuturkan secara lengkap, dan dalam penuturan ini sengaja Misteri mengubah kata ganti dirinya menjadi aku, dengan maksud agar cerita lebih mengalir dan mudah dicerna. Selamat mengikuti…!
Ketika itu aku sama sekali tak menyangka, kalau pusaka yang ada di tanganku adalah pusaka nomor satu yang sedang diperebutkan banyak paranormal. Kedatangan pusaka itu bermula dari suatu tirakat. Tepatnya saat aku tengah memperdalam suatu ilmu karuhun bernama Aji Wijaya Kusuma. Tirakat aku lakukan di salah satu peninggalan bersejarah, yaitu sebuah rumah tinggal seorang waliyullah sakti, Raden Mas Kuncung Anggah Buana. Tepatnya berlokasi di desa Trusmi, Kecamatan Plered, Cirebon, Jawa Barat.
Sekedar diketahui, dalam sejerah masyarakat Cirebon, tokoh bernama Raden Mas Kuncung Anggah Buana ini dilahirkan tanpa seorang ayah seperti pada umumnya. Tapi dari suatu keajaiban dan kebesaran Allah SWT terhadap seorang hamba pilihannya. Hal ini seperti kisah Nabiyullah Isa AS.
Ada suatu kisah menarik tentang silsilah Raden Mas Kuncung Anggah Buana Disebutkan, suatu ketika Desa Trusmi mengalami masa kekeringan yang begitu panjang. Seorang puteri cantik jelita, Ratu Ayu Roro Jati, selalu bersedih hati dengan keadaan ini. Karenya sang puteri sering menyendiri di sebuah taman keputren, sambil menatap tanaman yang tinggal tangkai tanpa satu pun daun yang bertengger di atasnya. Dengan melihat kondisi seperti ini, sang puteri sering menangis sambil melantunkan seuntai syair keprihatinan, diantaranya; “Wahai Dewata Agung, tidaklah kau turunkan seseorang yang mampu merubah taman kering ini menjadi subur kembali. Sesungguhnya aku hidup tanpa punya kesenangan lani kecuali keasrian tamanku pulih kembali. Wahai Dewata Agung, aku bersumpah dengan segala kerendahan hatiku. Siapapun yang mampu menghidupkan taman kesayanganku ini, bila orang itu laki-laki, aku kan jadikan dia suamiku. Tapi bila dia seorang perempuan, akan kujadikan keluargaku yang paling dekat.”
Pada esok harinya, seorang pemuda yang entah dari mana datangya, tiba-tiba muncul dengan kondisi dan mimik wajah kelelahan sehabis perjalanan jauh. Rupanya, si pemuda langsung beristirahat sambil mandi di pancuran taman keputren Trusmi, yang sedang dilanda kekeringan. Dengan rasa tergesa-gesa, pemuda itu langsung menanggalkan bajunya di antara ranting pohon yang sudah teramat kering. Terlihat kesegaran di wajah pemuda itu, setelah merasakan sejuknya air pancuran keputren.
Bertepatan saat pemuda tadi selesai mandi, tanpa disengaja puteri Roro Jati masuk ke dalam taman keputren. Sang puteri langsung terkejut dan juga tercengang takjub. Ya, sang puteri benar-benar terkesima melihat dua hal yang belum pernah dilihatnya semasa hidupnya. Kedua hal tersebut adalah:
1. Di saat pemuda tadi mengambil bajunya yang tergelak di atas ranting kering, tiba-tiba pohon itu mengeluarkan daun yang begitu lebatnya serta bermunculan beragam bunga dengan beraneka warna yang sungguh indah di pandang mata. Bukan hanya itu saja, seluruh pohon yang ada di taman semua ikut subur seperti sedia kala.
2. Saat berpandangan mata, sang puteri langsung terpesona dengan ketampanan pemuda tadi yang tak lain adalah Sunan Gunung Jati. Konon, saking terpesonanya sampai sang puteri tak sadar kalau betisnya tersingkap lebar-lebar, dan pada saat itu Sunan Gunung Jati melihatnya, hingga terbukah sir kelakiannya.
Setelah kejadian itu, Sunan Gunung Jati pergi meninggalkan sang puteri seorang diri, sementara sang puteri masih dalam keadaan terbengong-bengong. Nah, sejak saat itulah, kehidupan sang puteri mulai berubah. Dia benar-benar jatuh hati pada pemuda yang diilhatnya. Begitu hebat cintanya, sehingga tingkah laku sang puteri mulai aneh. Dia selalu datang ke taman untuk sekedar mencium tanah bekas telapak kaki berdirinya Sunan Gunung Jati, persisnya tanah di samping air pancuran tamannya.
Beberapa waktu lamanya sejak hadirnya Sunan Gunung Jati dalam pikirannya, maka selama waktu itu pula sang putri tergila-gila dan terus menciumi bekas telapak kaki Sunan Gunung Jati. Keanehan pun terjadi. Tanpa disadari oleh sang putri, dia akhirnya hamil. Hal ini terjadi tentu semata-mata berkat kebesaran dan keagungan Allah SWT.
Waktu terus berlalu. Di saat kandungan nya telah mencapai 9 bulan, Nyi Mas Ayu Roro Jati, akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang memancarkan sinar terang dari wajahnya. Dengan rasa suka cita sang puteri dan ayahandanya langsung datang menghadap Prabu Panatagama alias Sunan Gunung Jati Cirebon. Konon pada masa itu nama Sunan Gunung Jati sudah tersohor kemana-mana.
Dihadapan seorang raja Islam Cirebon pertama itu, ayah dan sang puteri Roro Jati lalu menceritakan hal ikhwal siapa diri mereka. Dengan senyum yang menawan Sunan Gunung Jati menerima tamunya dengan riang gembira. Dan akhirnya Puteri Roro Jati dinikahinya menjadi salah satu isteri yang paling setia.
Sedangkan sang bayi yang lahir dari rahun sang putrid, oleh Sunan Gunung Jati menamainya Raden Mas Kuncung Anggah Buana. Konon dalam sejarah Cirebon, Raden Mas Kuncung Anggah Buana menjadi seorang pilih tanding dengan ribuan muridnya yang tersebar di berbagai penjuru angina. Di antara muridnya yang sampai sekarang masih terkenal namanya adalah Kanjeng Ibu Ratu Laut Kidul.
Nah, kita lanjutkan kembali kisah hidupku yang bersinggungan dengan pusaka Trisula Karara Reksa. Dalam suatu malam, tepatnya selasa kliwon. Malam itu, ruangan paseban Raden Mas Kuncung Anggana Buana begitu gelapnya karena aliran listerik padam akibat hujan lebat yang sejak sore telah mengguyur daerah Trusmi dan sektirnya.
Mungkin faktor cuaca yang sangat dingin, malam itu tanpa sadar aku terlelap tidur di serambi pintu ukir yang sudah berabada-abad usianya dan tidak pernah direnovasi oleh masyarakat setempat. Entah berapa jam lamanya aku tertidur di tempat itu. Aku baru terbangun karena terkejut akibat satu lemparan benda yang mengenai tubuhku.
Belum lagi rasa terkejutku hilang, tiba-tiba dari dalam pintu ukir keluarlah selarik sinar yang amat terang benderang. Sinar itu lalu berputar mengelilingi tubuhku sampai lima puteran, dan seterusnya sinar itu redup, lalu kembali ada sesuatu yang jatuh di hadapanku.
Dengan dibantu keremangan cahaya yang masuk ke dalam pelataran itu, aku mengambil benda apakah gerangan yang jatuh di hadapanku tadi. Setelah kuperhatikan secara seksama maka muncullah perasaan aneh. Benda itu sepertinya terbuat dari bahan tulang dengan bentuk tujuh tangkai yang saling menyatu dan semuanya bergerigi seperti bentuk padi. Tapi bila diperhatikan lagi, benda tersebut sangat mirip dengan bentuk tombak yang lepas dari gagangnya. Sungguh sangat unik dan belum pernah kulihat sebelumnya.
Malam itu juga, aku sudahi tirakatku dengan membawa sebuah kenang-kenangan dari bangsa gaib, yaitu berupa pusaka aneh. Setidaknya begitu menurutku.
Walau kegunaan dan manfaat pusaka tersebut sama sekali belum aku ketahui, demikian pula kunci pembuka gaibnya, namun aku patut bersyukur sebab telah mendapatkan hadiah yang sungguh sangat berharga itu. Mengapa?Sejak adanya pusaka tersebut di rumahku, lambat laun aku mulai kedatangan rizki dari berbagai tamu yang membutuhkan pertolongan supranaturalku.
Bahkan tak tanggung-tanggung, para pengusaha dan pejabat tinggi negara datang pula dengan berbagai persoalan dan masalah yang tentunya sangat rahasia sebab bersinggungan dengan privasi mereka. Namun, setengah tahun sejak mendapatkan pusaka aneh tersebut, pada suatu hari benda itu kubuang karena suatu alas an yang tak dapat aku ceritakan dalam tulisan ini mengingat aspek kerahasiaannya.
Lantas, apa yang terjadi setelah itu? Untuk mengetahinya, simaklah terus kisah perjalanan supranaturalku ini di edisi berikutnya…..

Label:

Baca Selengkapnya...

0 comments | links to this post

TRISULA KARARA REKSA (II)

IDRIS NAWAWI
Menurut guruku, Karara Reksa adalah pusaka pilih tanding yang di dalamnya mengandung tujuh kesempurnaan ilmu….
Di penghujung cerita yang lalu (Bag. 1), sudah dijelaskan bahwa pusaka aneh yang berasal dari posarean Raden Mas Kuncung Anggah Buana tak lain adalah pusaka kelas satu bernama Trisula Karara Reksa. Pada akhirnya, setelah setengah tahun ikut bersamaku, pusaka ini kubuang karena suatu alasan yang memaksa. Lantas, apa yang terjadi setelah itu…?
Tindakan membuang Trisula Karara Reksa bermula dari suatu hasutan dari seseorang yang tinggal satu desa denganku, yang kebetulan memiliki profesi seperti diriku, yakni sebagai paranormal. Dengan semakin dikenalnya aku, maka banyak tamu yang datang dari berbagai daerah untuk meminta pertolongan solusi batiniah. Merasa lebih dulu berpraktek sebagai dukun kampong, orang orang itu langsung langsung saja menunjukkan ketidaksukaannya tehadap diriku. Apalagi di desa itu aku termasuk seorang pendatang.

Lewat hasutannya, satu persatu warga masyarakat di sekitarku mulai terpedaya. Bahkan, banyak di antara mereka yang mencemoohku sebagai seorang dukun santet. Tak jarang, penilaian miring seperti itu kudengar secara langsung. Lebih celaka itu, bila ada orang yang sakit atau terkena musibah, maka itu akan dihubung-hubungkan denganku. Artinya, akulah yang dituduh sebagai penyebabnya.
Berbulan-bulan hasutan ini terus terdengar di kupingku. Selama itu pula kucoba untuk mengendalikan diri untuk tidak menggubrisnya. Agaknya, Tuhan memberikan berkah atas kesabaranku. Buktinya, para tamu yang meminta pertolongan lewat perantaraan diriku terus bertambah, bahkan lebih banyak sepuluh kali lipat dari sebelumnya.
Melihat kenyataan seperti ini, orang yang syirik itu mencari jalan lain untuk mencelakakan diriku. Dia menebar hasutan lagi dengan modus yang lain, yaitu dengan menyebutkan bahwa aku adalah seorang yang menganut pesugihan lewat perantaraan memelihara tuyul.
Sungguh, betapa keji fitnah itu. Keluargaku pun seakan menjadi orang-orang yang terkecil. Namun sampai sejauh ini, aku tetap bersabar diri dan meyakini bahwa semua ini merupakan ujian Tuhan yang pasti akan berakhir.
Sampai suatu malam selepas menunaikan Tahajjud, aku bermimpi didatangi empat orang. Dua laki-laki bersorban dan dua perempuan cantik dengan memakai mahkota bah seorang ratu. Dalam mimpiku, salah seorang ratu tadi berkata, “Anakku, janganlah kau putus asa karena suatu masalah. Terimalah dengan senang hati dengan datangnya masalah ini. Sesunguhnya sabar dalam menghadapi segala masalah, adalah suatu derajat termulia dihadapan-Nya.”
Lalu sang kakek bersorban meneruskannya, “Jika kau tak mampu menahan rasa sakit, jangan kau curahkan sakit itu dengan perlawanan. Karena sesungguhnya mengalah demi suatu kebaikan itu lebih mulia dari pada kau melawannya,”
“Diam dan tenang itu lebih mulia daripada gerak membawa malapetaka. Sesungguhnya semuanya adalah permainan rasa (hati) yang mana di dalamnya, apabila hati kita menerima adanya masalah, maka masalah itu seolah tidak ada. Tapi apabila hati kita tidak menerima segala hal yang berbentuk masalah, niscaya rasa senangpun akan dibuat masalah sendiri,” tambah kakek bersorban satunya.
Sejak kejadian mimpi itu, aku mulai banyak intropeksi diri dengan jalan tirakat dan puasa diberbagai tempat baik makam maupun pasarean para Waliyullah. Aku mulai jarang di rumah dan selalu bepergian dari satu tempat keramat para auliya ke tempat keramat yang lainnya.
Hingga pada suatu malam, di saat aku pulang dari pasarean seorang auliya bernama Syekh Abdul Latif, kamarku terlihat berantakan. Setelah kuteliti, Trisula Karara Reksa ternyata telah hilang dari tempatnya.
Dengan rasa penasaran dan gundah-gulana, malam itu juga aku mulai mempersiapkan diri dan berbagai sarana ritual untuk menarik kembali pusaka itu. Dalam hati, aku merasa yakin ada seseorang atau makhluk tertentu yang telah mencurinya. Anehnya, ketika aku melakukan kontemplasi untuk bisa menerawang siapa pencurinya, dalam kontemplasi itu malahan para Abdul Jumud dan para lelembut bangsa laut datang ke kamarku dengan membawa pesan, “Relakanlah kepergian pusaka tatal raja itu. Mungkin sudah waktunya dia berpisah dengan dirimu. Hanya saja ada satu hal yang harus engkau ketahui, buanglah sejauh mungkin sarung pusaka tatal raja itu. Sesungguhnya pusaka itu tidak akan berkaromah apabila tidak disatukan dengan warangkanya.”
Demi menghormati amanat para gaib, dan untuk menyelematkan karomah yang ada pada Trisula Karara Reksa, pagi harinya, aku langsung membuang warangka pusaka itu di sebuah sungai yang bernama Kali Telgung.
Dua hari sejak pembuangan warangka Trisula Karara Reksa, aku langsung pindah rumah dan ikut ke salah satu pengusaha keturunan China di Semarang, sekaligus menjadi supranaturalis pribadinya. Satu tahun aku dipekerjakan olehnya. Karena kebutuhan ekonomi keluarga sedikit tercukupi, petualanganku dalam menyelami dunia spiritual pun semakin jauh lagi. Pengelanaanku keberbagai tempat atau makam keramat para sesepuh zaman dahulu semakin sering kulakukan. Di antara tempat keramat yang pernah aku singgahi selama tiga tahun berkelana adalah: Makam Syekh Tolha (Kalisapu), paserean Kanjeng Sungan Kalijaga (Kalijaga, Cirebon), Pangeran Papak (Garut), Sunan Godog (Garut), Syekh Muhyi (Pemijahan), Syekh Latif dan Syekh Qobul (Kajen), Ki Ageng Sapu Jagat (Cuci Manah), Syekh Mansyur (Banten), Pangeran Topak (Matangaji), Habib Keling (Indramayu), Syekh Majagung (Situmpuk), pertapaan Sunan Gunung Jati dan Mbah Kuwu Cakra Buana (istana pukuwati, Cirebon), dan lain-lain sebagainya sampai keluar Pulau Jawa.
Dari perjalanan spiritualku itu, tentu banyak fenomena gaib yang pernah kusaksian secara langsung, dan hal ini semakin membuatku mengenal akan kebesaran Allah SWT, lewat beberapa makhluk ciptaanNya, seperti bangsa jin dan lainnya. Bahkan, dalam kebesaran Af’al yang diciptakan-Nya, aku banyak dihadapkan dalam fenomena alam, terutama bersunggungan dengan kehidupan makhluk tak kasat mata. Dari situlah aku semakin tahu, ternyata tidak hanya bangsa manusia yang merasakan nikmatnya keindahan alam yang diciptakan oleh Allah SWT. Namun makhluk lainpun tak kalah menikmatinya dengan berbagai keindahan dan keasrian alam yang ada di alam tempat tinggal mereka.
Dalam kembaraku, aku juga berjumpa dengan sejumlah guru ilmu gaib yang mengarakan berbagai ilmu kepadaku. Salah seorang guruku pernah bercerita tentang kehebatan pusaka yang mengandung tujuh unsur limu, yakni: bumi, langit, api, angin, cahaya, rasa dan sinar. Guruku itu mengibaratkan pusaka ini sebagai sosok ahli ma’rifatullah, yaitu satu badan namun menguasai tujuh ilmu Allah SWT secara keseluruhan.
“Pusaka tersebut hanya ada lima di alam jagat raya ini, dan semuanya telah dipegang oleh bangsa ahli laut. Di antaranya adalah Nabiyullah Khidir as (Sulthonul Bahri), Raja Lautan Sulthonul Ma’, Raja Maimun (Sulthonul Jin), Dewi Cempaka Arum (Ibu Ratu), dan Dewi Nawang Wulan (Kanjeng Ibu Ratu Kidul),” tutur sang guru.
Disaat guruku bercerita tentang bentuk yang menjadi ciri khas pusaka yang luar biasa tersebut, aku sangat terkejut mendengarnya. Sebab, bentuk pusaka yang diceritakan olehnya amat persis dengan pusaka yang dulu aku miliki. Trisula Karara Reksa!
Setelah sang guru bercerita secara gambling tentang pusaka unggulan itu, akhirnya aku berkisah padanya tentang kejadian 4 tahun yang lalu. Kukatakan dengan sejujurnya bahwa aku pernah memiliki pusaka dengan cirri-ciri seperti yang baru saja diceritakan olehnya. Mendengar kisahku, sang guru berkali-kali geleng kepala dan terus menyimak ceritaku sampai akhir. Lalu dengan suara lirih, guruk berkali-kali menyebut nama Karara Reksa.
Menurut guruku, Karara Reksa adalah pusaka pilih tanding yang di dalamnya mengandung tujuh kesempurnaan ilmu. Dari tujuh kesempurnaan ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu; raga, sifat dan keyakinan. Berikut ini uraian lengkap masing-masing item tersebut:
Raga
Ilmu yang mempunyai pondasi “bumi sebagai akhlak mulia”, rendah diri, sabar dan bertawakal, mengikuti jejak dari Rasululullah SAW.
Sifat
Ilmu yang mengaruh ke sifat baburrahmat (kerahmatan). Di sini mempunyai tiga unsur, yaitu: langit, api dan angin. Langit, ilmu yang bersifat menengadah dalam suatu doa dari seorang makhluk terhadap Tuhannya. Api, ilmu yang mengarah ke sifat sidadah (semangat) baik dalam mencari sebuah ilmu, duniawiah maupun yang bersifat batin. Angin, ilmu yang mengarah ke sifat derajat, di mana di dalamnya telah terkandung keluasan akal yang mengarah ke berbagai tujuan hidup yang positif.
Keyakinan
Ilmu yang bersumber dari keyakinan hati lewat suatu pemahaman, keluasan dan penghayatan diri. Lewat karomah pusaka Trisula Karara Reksa, semua ilmu ini ada di dalamnya. Nah, keyakinan disini mencangkup 3 unsur, yakni: cahaya, rasa dan sinar. Cahaya, penerimaan ilmu bersifat Robbani (ketuhanan). Rasa, penghayatan arti hidup menuju derajat mulia. Sinar, mengenal bangsa malaikat lewat kesidikan/kejujuran hati.
Dari tujuh sumber ilmu yang ada di pusaka Trisula Karara Reksa, akan menyatu dengan pemiliknya seiring satu persatu khodam yang menjaganya memberi kunci pembuka.
Nah, kata sang guru sambil langsung menatapku dengan tajam, “Sungguh sangat disayangkan pusaka yang seharusnya di jaga sebagai alat bantu menuju ilmu yang lebih tinggi itu kau sia-siakan begitu saja. Mungkin, pusaka itu kembali ke alamnya sebab kau tidak merawatnya dengan baik.”
Dari penuturan sang guru, aku merasa sangat bersalah bila teringat kejadian 4 tahun yang lalu. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Mungkin hanya penyesalanlah yang singgah dalam hatiku.
Sejak mendengar penuturan sang guru tentang pusaka Trisula Karara Reksa, aku jadi malu dan semakin sungkan untuk bertemu dengan guruku. Ya, aku benar-benar merasa bersalah sebab tidak bisa menjaga pemberian bangsa gaib dengan sebagaimana mestinya.
Anehnya, seminggu kemudian setelah pertemuan itu, guruku memanggilku dan memerintahkan aku untuk meminta maaf kepada Nyimas Ratu Ayu Dewi Nawang Wulan, sebagai pemilik hak waris pusaka Trisula Karara Reksa, yang pernah diberikan kepadaku lewat sebuah prosesi gaib.
“Datanglah ke Pelabuhan Ratu. Bawalah sarana yang diperlukan, berdzikirlah di sana dengan tujuan meminta maaf. Sesunguhnya pemberian pusaka Trisula Karara Reksa adalah suatu derajat bagi orang yang dipilih. Jangan sia-siakan waktu yang sudah terbuang dan jangan terus berdiam diri. Sesungguhnya, Ratu Ayu Dewi Nawang Wulan, seorang yang dipilih oleh Nabiyullah Khidir AS. Jangan sampai terkena marahnya bila hidupmu ingin tenteram.” Demikianlah petunjuk sang guru.
Setelah aku diajari tata cara agar bisa bertemu dengan Dewi Nawang Wulan oleh guruku, besoknya aku berangkat menuju Pelabuhan Ratu, Sukabumi….
Peristiwa apa yang kualami sesampainya di Pelabuhan Ratu? Apakah Dewi Nawang Wulan menerima permohonan maafku. Nah, ikuti terus kelanjutan kisah petualangan gaib yang mendebarkan ini.
BERSAMBUNG




Label:

Baca Selengkapnya...

0 comments | links to this post

TRISULA KARARA REKSA (III)

IDRIS NAWAWI
Tidak! Aku belum mati. Di tengah ketidaksadaranku, aku melihat dengan jelas, empat orang dengan mengendarai kereta kencana yang sangat indah datang menghampiriku….
Sejak guruku memberi maklumat kepadaku, untuk sesegera mungkin meminta maaf kepada Ratu Pantai Selatan karena kesalahan yang pernah kuperbuat lima tahun yang lalu, yaitu mengabaikan pemberiannya dengan membuang karangka pusaka nomor satu Trisula Karara Reksa, maka aku merasa selalu menanggung rasa bersalah. Setelah sang guru mengajarkan tentang kepercayaan terhadap arti sebuah pemberian gaib, sejak itu pula aku mulai bersemangat dalam hal ilmu supranatural. Intinya, aku ingin menebus kesalahanku dengan menemui sang Ratu Pantai Selatan, Ibu Suri Dewi Nawang Wulan.

Melihat aku yang semakin tekun dan bersemangat dalam melakukan olah batin, syukur Alhamdulillah, sang guru tidak tinggal diam. Beliau selalu mengajari tentang segala hal yang berhubungan dengan masalah gaib dan ilmu kemakrifatan, hingga sesuai waktu yang telah ditentukan, akhirnya aku datang menemui penguasa gaib Pantai Selatan. Hal ini terlaksana tepatnya pada Kamis dini hari. Ketika itu aku berangkat menuju lokasi atau sebuah area pantai yang diyakini sebagai tempat tinggalnya ratu gaib Pantai Selatan, yakni di kawasan Pelabuhan Ratu.
Setelah menginjakkan kaki di pantai pesisir Pelabuhan Ratu, pertama yang kucari adalah juru kunci yang bernama Aki Ismail. Lewat seorang tukang ojeg yang biasa mangkal di terminal Pelabuhan Ratu, akhirnya kutemukan juga rumah si Aki tersebut.
Mengapa aku memilih juru kunci yang bernama Aki Ismail? Sebab, sebelum berangkat, guruku berpesan, “Temuilah dahulu juru kunci yang bernama Aki Ismail. Mintalah saran kepadanya. Sesungguhnya beliau sangat dekat dengan para penguasa gaib pantai selatan.”
Lewat antrian para tamu yang meminta pertolongan pada Aki Ismail, aku baru bisa menemui orang tua ini pada pukul 13.02 WIB. Dengan senyum ramah, sang Aki langsung bertanya, “Ananda dari Cirebon, ya?”
Aku langsung mengangguk, namun batinku berkata, “Kok dia bisa tahu dari mana asal tempat tinggalku?”
Dengan masih tersenyum simpul, sang Aki rupanya memahami apa yang sedang kurasakan dalam batinku. Buktinya, beliau langsung membuka percakapan, “Anakku, tadi malam itu, Ibu Ratu datang menemui Aku di sini. Beliau mengatakan bahwa nanti besok akan kedatangan tamu yang harus kuangap sebagai anakku sendiri. Tamu itu berasal dari Cirebon dengan ciri membawa sarana berupa madat panjang bergambar dua ekor naga sedang berhadapan.”
Aku terdiam dengan rasa takzim yang menjalar kuat di dalam dadaku..
“Apakah kau membawa benda tersebut?” Tanya sang Aki sambil menatapku.
Sekali lagi aku mengangguk. Melihat kemampuannya, aku merasa sangat kecil di hadapan sang Aki, sebab dia bisa tahu semua tentang jati diriku. Memang benar, madat panjang yang barusan dikatakan si Aki jelas aku membawanya dari rumah lewat anjuran guru spiritualku.
Singkat cerita, dengan berbagai pandangan dan pertimbangan yang dijelaskan oleh si Aki, maka hari itu juga aku dan Aki mempersiapkan segala sarana yang dibutuhkan untuk ritual nanti malam. Sarana dimaksud adalah berupa seekor kambing belang talon, sembilan macam buah, dua apel jin, kembang tujuh rupa, jajanan bersifat manis, kayu gaharu, dan dua macam kemenyan lidi atau hio.
Setelah semua sarana sudah terkumpul, selepas shalat Maghrib, kami bersama masyarakat setempat menggelar syukuran dengan memotong kambing tadi, dan hanya kepala yang disisakan untuk dilarung pada ritual nanti malam.
Tepat pukul 24.00 WIB, aku dan Aki mulai menuju Samudera Bech Hotel. Dan yang dituju adalah kamar 308, yang dipercaya sebagai temppat peristirahatan Ibu Suri Dewi Nawang Wulan.
Kurang lebih satu jam kami berdua menggelar ritual di kamar tersebut. Dan selanjutnya, berpindah ritual yang kami lakukan di areal pantai lepas. Di suatu titik bibir pantai. kami berdua langsung merapal niat atau doa-dia untuk membuka ritual, untuk selanjutnya membuang sarana larungan yang sudah kami persiapkan sebelumnya.
Namun, sebelum semua itu terjadi, masih dalam perjalanan menuju bibir pantai, tiba-tiba gulungan ombak yang begitu besarnya menerjang kami hingga semua sarana larungan yang kubawa terlepas, hanyut terbawa ombak yang menurutku begitu dahsyat dan menakutkan.
Dalam keadaan basah kuyup, Aki Ismal memberi isyarat agar aku terus mengikuti dirinya sampai ke bibir pantai. Sambil menggigil kedinginan, aku terus mengikutinya menyelesuri bebatuan yang banyak terhampar di sepanjang perjalanan menuju bibir pantai. Tepat 10 meter dari bibir pantai, kami berdua langsung menggelar ritual di atas batu bear.
Ya, malam itu terasa mengerikan bagiku, sebab aku memang baru petama kali menginjakkan kaki di daerah tersebut. Apalagi malam itu samudera sepertinya tengah marah, sebab ombak besar nampak bergulung-gulung dengan gemuruh yang sangat mengerikan.
Setengah jam sudah aku mengikuti ritual bersama sang Aki. Dan sejak itu pula hatiku selalu gelisah, takut sesuatu akan terjadi pada diriku.
Malam semakin larut dan sang Aki telah menyudahi ritualnya. Betapa bahagianya aku, sebab sebentar lagi aku juga akan menyudahi ritual itu, dan ikut pulang bersama sang Aki. Dengan begitu, ketakutanku akan segera berlalu.
Namun, apa yang berlangsung kemudian sungguh jauh dari yang kuharapkan. Aki Ismail tiba-tiba berucap dengan nada penuh kesungguhan, “Nak Idris, Kau harus tetap di sini sampai Ibu Ratu menemuimu. Aku masih ada keperluan lain di rumah. Ingat, jangan meninggalkan tempat ini sebelum Ibu Ratu datang!”
Ucapan, atau tepatnya perintah Aki Ismail ini semakin membuatku risau. Sulit membayangkan ketika aku harus ditinggal sendirian dalam ketakutan yang tak bisa kuceritakan dengan untian kalimat. Singkatnya, malam itu aku benar-benar stress. Pikiranku kacau dan tak bisa terkonsentrasi dalam ritual yang diajarkan oleh Aki Ismail. Aku benar-benar ciut nyali dan ingin rasanya kabur dari tempat itu.
Dalam rasa takutku yang teramat sangat, tanpa kuduga sebelumnya, tiba-tiba ombak besar datang menghantamku. Tak kuasa menahan empasan gelombang, tubuhku yang kurus dan ringkih akhirnya terbawa arus yang begitu kuat menyeretku tanpa kenal kompromi dan belas kasihan. Seketika kurasakan dunia begitu gelap. Nafasku tersendat. Mungkinkah aku telah mati?
Tidak! Aku belum mati. Di tengah ketidaksadaranku, aku melihat dengan jelas, empat orang dengan mengendarai kereta kencana yang sangat indah datang menghampiriku. Dua di antaranya aku sudah mengenal mereka, yaitu Bomo dan Nyimas Andini. Mereka berdua ini adalah sepasang suami isteri dari bangsa gaib yang pernah datang ke kamarku, memberkan sebuah batu mustika bergambar macan loreng. Sedangkan dua lainnya yang sudah uzur usia, baru kali ini aku melihatnya.
Dalam pengaruh aura gaib yang sangat kuat, aku sama sekali tak bisa menolak ajakan mereka, hingga akhirnya aku hanya bisa menuruti ajakan mereka, pergi dengan menaiki kereta yang begitu indah menuju suatu tempat yang belum pernah aku kenal atau rasakan sebelumnya.
Ya, tempat itu adalah sebuah istana yang begitu megah dengan arsitektur bangunan yang sempurna tiada cela. Kulangkahkan kaki memasuki istana itu dengan dikawal empat orang yang menjemputku tadi.
Aku dan keempat penjemputku mulai menuju gerbang pertama dalam kawalan empat orang prajurit jaga yang gagah perkasa. Dengan penuh rasa hormat, para prajurit itu kemudian mempersilahkan kami berlima untuk masuk ke pintu utama, yaitu sebuah pintu jati yang diukir sangat indah bermotifkan pohon Hanjuang (nama pohon tersebut0.
Diruangan pertama ini, ratusan gadis cantik menyambut kedatangan kami berlima dengan tingkah laku yang menggoda sifat kelelakian. Mereka tak punya rasa malu dan seolah baru pertama kali melihat seorang lelaki seperti diriku yang padahal hanya orang dusun ini. Kata-kata pujaan seperti Kangmas, Pangeran, Arjunaku, Kekasihku dan lain sebagainya, selalu terucap dari bibir mungil mereka.
Dari gelagat mereka yang sangat berani inilah yang kemudian membuatku harus memberanikan diri bertanya kepada Bomo, “Siapakah mereka itu sesungguhnya?”
Menurut Bomo, “Kanjeng Agung Ibu Suri, mempunyai empat golonga wadyabala dari berbagai makhluk alam gain. Di antaranya dari bangsa dedemit, abdul jumud, jin dan manusia.”
Bomo juga menjelaskan bahwa keempat golongan tersebut terbagi menjadi dua macam aliran, yaitu:
- Bangsa demit dan abdul jumud. Dua golongan ini disebut sebagai ahli aswad atau golongan hitam. Mereka banyak menipu dan menyesatkan bangsa manusia lewat iming-iming duniawi yang sangat menggiurkan. Sebagai contoh, mereka datang dalam mimpi seseorang dengan mengaku sebagai Ibu Ratu Laut Kidul, mengatakan bahwa dia adalah isterinya secara batin.
Mereka juga sering kali menipu manusia dengan iming-iming harta karun, dana goib dan mengatakan bahwa, “Andalah manusia yang kuberi amanat sebagai penjaga harta karunku.” Demikian juga dengan berbagai tipuan lainnya.
- Jin dan manusia. Dua golongan ini termasuk ahli abyad atau golongan putih. Mereka banyak dipekejakan sebagai piñata ruangan, memelihara taman, menjaga perpustakaan dan lain sebagainya.
Intinya, semua golongan ini punya prinsip masing-masing yang saling menjaga satu sama lainnya.
Kembali kepada cerita yang kualami sendiri. Setelah kami berlima masuk ke ruangan pertama, keempat makhluk gaib mirip manusia yang menjemputku langsung menitipkanku pada seorang kakek yang disebutkan bernama Tubagus Moyo. Salah satu dari keempat makhluk gaib mirip manusia itu berbisik ke telingaku, “Cukup kami mengantar Ananda sampai di sini. Selanjutnya Ananda akan dibimbing oleh Tubagus Moyo.” Setelah itu keempatnya pergi meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal mereka, Tubagus Moyo memandangku, lalu tersenyum penuh makna. “Ananda! Sebelum kamu masuk ke pintu Karara Bumi (pintu ruangan kedua), mari Ananda aku ajari Ilmu Pangrimo Bumi (diterimanya sebagai keluarga istana Ibu Ratu Agung),” katanya.
Yang kini masih tetap kuingat, diantara bunyi mantera ilmu itu sebagai berikut : “Seniatku ngangga ajiku karara bumi. Wali songo bodah bumi, nunggal ratu alam, girdoh galih tumae. Alam ratu syarat, bumi karara langgeng, kewajibanku moncol, karunia bisor bisa kudu, bisa jagat sewedi, niat ingsun buka alam. Sejatineng semesta pangeran kang duweni. Jaluk pangabaran ing alam tresno kang tak tuju, urip dadi dalan, mati dadi panolong kawula.”
Dalam kesempurnaan ajian ini ada satu ilmu lagi sebagai pembuka gerbang gaib, yang diantara ilmu itu bersifat pengendalian diri, sehingga dimanapun kita ditempatkan, baik di alam nyata maupun dimensi gaib, maka kita akan tetap merasa tenang. Namun sayang, ilmu ini tidak bisa diijazahkan kepada siapapun juga. Harap maklum, sifatnya memang sangat rahasia dan pribadi.
Dari pelaran yang diberikan oleh Tubagus Moyo, aku sendiri akhirnya memahami secara detail tentang ilmu Karara Sukma Langgeng yang kudapat dari Bapo Awu, sebagai syarat masuk ke ruangan kedua yang bernama Karara Bumi….
BERSAMBUNG





Label:

Baca Selengkapnya...

0 comments | links to this post

About

Name: Agus Siswanto
From: jakarta pusat, DKI Jakarta, Indonesia
About me:
More about me...

Page Rank

Last Post




Archives


Else

users online KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Subscribe with Bloglines Blogger Indonesia Cara Membuat Blog

Add to Google Reader or Homepage

site statistics THE BOBs

Credits

eXTReMe Tracker